-->

Tokoh Toggle

Leon Agusta | Penyair Pembaru | Padang

Leon Agusta (77) yang berpulang di Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis (10/12) pukul 16.15, dikenal sebagai pembaru puisi Indonesia. Leon dikenal sebagai penyair yang progresif sekaligus kritikus yang tajam terhadap dunia sastra Indonesia.

“Papa mendapat serangan asma mendadak hari Kamis pagi, jam 03.00,” kata Paul Agusta, putra bungsu Leon, ketika dihubungi di Jakarta, Kamis (10/12). Leon segera dilarikan ke RS Yos Sudarso, namun segera dirujuk ke RSUD Muhammad Djamil. Komplikasi penyakit paru, diabetes, dan gangguan jantung membuat tubuh Leon lemah sehingga harus dipapah ketika bergerak. Selama dua pekan terakhir, Leon tinggal bersama salah satu istrinya, Lisa Agusta, bersama putra mereka, Irvan, di Padang.

Salah satu putri Leon, Julia, yang juga Direktur Leon Agusta Institute, berada di sisi ayahnya ketika ia berpulang. “Kami sama sekali tidak menyangka. Sejak pindah ke Padang, kondisi Papa berangsur membaik. Ia bisa berjalan, suaranya kembali normal, dan suka duduk-duduk di teras belakang menghadap ke pantai,” katanya saat dihubungi di Padang.

Menurut Julia, jenazah Leon akan dikebumikan di Teluk Kabuang yang berjarak 30 menit dari Kota Padang. Pemakaman akan dilaksanakan selepas ibadah shalat Jumat sekaligus menunggu anak-anak Leon yang lain dan istrinya, Maggie Agusta, dari Jakarta.

Dihubungi terpisah, penyair Jose Rizal Manua mengungkapkan bahwa Leon merupakan sastrawan yang tajam dan produktif. Ia rajin menulis hingga akhir hayat, baik berupa puisi maupun kritik sastra. “Kritik buatan Leon tidak berdasarkan selera semata, tetapi dengan landasan teori yang kuat disertai berbagai perbandingan karya. Leon paham betul dunia puisi dan teater, baik dari sisi teknis maupun filsafatnya,” katanya.

Leon dilahirkan di Sigiran, sebuah desa di pesisir Danau Maninjau, Sumatera Barat, pada 5 Agustus 1938. Ia pernah mengecap pendidikan menulis di Universitas Iowa, AS. Menurut Paul, pada tahun 1960-an, ayahnya berganti nama dari Ridwan Ilyas menjadi Leon Agusta. “Alasannya sederhana, karena Papa lahir di bulan Agustus dan zodiaknya Leo,” katanya.

Menurut Jose Rizal, Leon adalah pembaru puisi Indonesia. Kata-kata yang dia gunakan, terutama dalam buku kumpulan puisi Hukla yang kemudian dijadikan nama salah satu putrinya, memiliki kualitas musikal. “Ia memiliki dasar yang kuat dalam sastra Minangkabau jenis pantun dan kaba, tetapi disegarkan ke dalam bentuk baru,” ujarnya.

Pada tahun 1980-an, demikian Jose Rizal, Leon meminta dia untuk menerjemahkan beberapa puisi dari Hukla ke dalam bentuk teater. Jose Rizal mengatakan, hal tersebut merupakan pengalaman unik karena ia harus mencari cara mengungkapkan kata-kata melalui gerak, kostum, rias wajah, dan mimik.

Paul mengenang, ayahnya mengajak dia untuk dekat dengan seni sejak dini. Ketika Paul berumur delapan tahun, ayahnya memberinya koleksi karya lengkap William Shakespeare. Gedung Kesenian Jakarta pun menjadi rumah kedua bagi Paul karena ia sering diajak menikmati berbagai pertunjukan di sana.

“Papa yang mengajar saya supaya mencintai cerita dan bercerita,” kata Paul yang kini berprofesi sebagai sutradara, penulis naskah, dan aktor.

Leon meninggalkan warisan berupa Leon Agusta Institute di Padang. Julia menjabarkan, melalui lembaga ini, cita-cita ayahnya untuk membangun kembali Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya akan dilaksanakan. “Papa sangat termotivasi oleh kata-kata Muhammad Hatta, yaitu ‘Indonesia adalah negara budaya’. Ia prihatin dengan perkembangan bangsa yang hanya mementingkan politik dan ekonomi, tapi tidak membangun secara holistik,” ujar Julia.

Sumber: Kompas Siang, 11 Desember 2015. Diarsipkanwarungarsip.co.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan