-->

Literasi dari Sewon Toggle

Katalog “Info Buku” di Koran Minggu

Logo-Resensi-Buku-300x300Tahun 2006 hingga 2009, juga 2010, saat masih “ngantor” di Perpustakaan Nasional — maksudnya nyaris tiap hari memasuki perpustakaan pusat Republik Indonesia — terutama di Lantai 4, 7, dan 8, saya kerap nggerundel dalam hati ketika mendapatkan katalog koran hanyalah daftar nama dan tahun terbit koran. Apa isi koran yang disimpan dalam ruangan dengan dijaga tidak ketat itu, hanya menebak-nebak. Artinya, buka dulu, baru tahu isinya.

Saya nggerundel karena saya tak tahu bahwa menyusun katalog koran (lengkap dengan judul dari isi perut koran itu) memang bukan perkara mudah. Koran, tentu saja majalah, konsisten datang nyaris tiap hari dan tenaga tak pernah bertambah. Sementara asyik mengikuti kedatangan koran baru, ada yang tak boleh diabaikan, mengurusi (membuat katalog lengkap) koran/majalah yang terbit dari masa yang jauh. Jadilah pekerjaan ganda: di satu sisi mengejar masa depan; di satu sisi berlari ke masa jauh. Bertolak dan berpunggungan. Dan dua-duanya menuntut perhatian yang ekstra. Sialnya hanya dikerjakan oleh satu dan dua orang. Dan kerap hanya satu orang. 

Begitulah. Asyik mengikuti ritme kekinian, berantakan dengan mengurusi masa lalu. Masyuk dengan masa lalu, linglung menghadapi yang kini. Serba susah. Apalagi Anda adalah arsiparis yang bekerja di lembaga (yang dibikin sendiri agar tampak keren) dengan duit yang juga sangat pas-pasan. Lengkaplah sudah. Pilihannya adalah tidak bisa memilih. Karena memiliki risikonya. Meninggalkan yang kini berarti bersiap kehilangan “data murah”. Asyik dengan yang “lawasan”, maka Anda kehilangan kesempatan mengisi status-status di media sosial yang menarik perhatian banyak orang. Sebab status-status di media sosial bisa asyik hanya dan jika hanya mengikuti arus gerak masyarakat kekinian.

Menyusun katalog koran minggu untuk koran/majalah “kekinian” — hari-hari lain diabaikan — adalah jalan tengah untuk lembaga independen yang mengerjakan kerja pendokumentasian karena berangkat dari hobi. Hukum utama “kerja hobi” hanya dua: mendapatkan uang yang banyak sekali dari pekerjaan itu atau hanya kesenangan belaka.

Adalah menjadi lebih ringan “kerja hobi” itu karena pada akhirnya hanya mengerjakannya di hari Minggu. Adapun hari-hari lainnya bisa mengerjakan hal-hal yang di luarnya. Salah satunya menyusun katalog buku-buku tua, koran-koran atau majalah-majalah lawasan.

Maunya sih, seperti karyawan yang “disiplin” bekerja. Misalnya 10 jam sehari membikin katalog, mengetik daftar isi, dan menyusun kronik buku dan kronik peristiwa. Tapi kedisiplinan itu hanya berjalan satu atau dua hari dan rontok di tengah jalan. Karena ada pekerjaan lain untuk mendapatkan uang agar bisa ….. beli koran/majalah kekinian. Jika tidak, bisa mampus en macet datangnya koran-koran minggu itu. Belum lagi ditambah harus memelototi tren isu yang diberikan media-media sosial.

Jika sudah menumpuk-numpuk seperti itu keinginan; maka jalan paling minimalis mesti ditempuh. Koran-koran yang terbit di hari Minggu harus mengalir lancar. Entah di katalog atau tidak, itu persoalan belakangan saja. Yang penting ada barangnya di gudang, ketimbang untuk mendapatkannya saya mesti bergerilya dari satu perpus ke perpus lain. Bahkan dari satu rumah pelanggan koran yang bersangkutan ke rumah pelanggan yang lain dengan hasil yang bikin gamang: sudah di-LOAK-kan.

Saya pernah mengalaminya? Pernah, saat saya mencari esai-buku di Jawa Pos Minggu yang ditulis Kanda Taufiq Ismail, 30 Agustus 2005 yang menjawab esai saya dua pekan sebelumnya. Esai itu saya baca secara daring di Jakarta, tapi saya menunda membeli korannya. Mungkin besok masih ada di lapak Gambir, Jakarta. Tapi, sudahlah.

Pengalaman itu saya berharap tak terulang kepada penulis spesialis Minggu, termasuk sastrawan, penulis resensi, penulis esai untuk semua lapangan kebudayaan. Maka dari itu, mesti ada alamat untuk koran-koran Minggu yang mudah didapatkan, mudah diakses dan dihubungi.

Inilah yang menjadi alasan mengapa koran-koran Minggu itu ada di gudang Warung Arsip. Dibuatkan pula katalognya semampu yang bisa dilakukan. Syukur-syukur bisa sekalian didigitalkan di Hari Minggu itu juga (sudah berhenti di bulan Mei 2015, kerja digitalisasi koran Minggu ini).

Dan pembuatan katalog ini, khususnya untuk “Buku”, sudah dilakukan sejak 2012 hingga sekarang. Sesekali bolong, tapi maafkan dengan alasan-alasan yang sudah disebutkan di atas.

Tahun-tahun yang lain yang lebih jauh? Bagaimana katalog-katalog untuk bidang-bidang kebudayaan yang lain seperti seni rupa, tari, film, musik, bahasa, komik strip, sastra? Esai-esai bidang politik, ekonomi, sosial, energi, lingkungan, kehutanan, pertambangan, hukum, kepresidenan?

Maaf, ini bukan lembaga dokumentasi negara yang bisa mengurus segalanya! Jika pun itu diurus semua, hanya sekadar lewat. Jika sedang rajin dan banyak uang, dikerjakan. Jika tak ada uang, ya ditinggalkan saja. Tokh, gak ada yang kehilangan jika tak dikerjakan.

Sebab yang lebih penting dari semua itu adalah mencari waktu luang yang kian hari kian sulit dijangkau. Apalagi tatkala main facebook dan main twitter dan main instagram dan main youtube makin ke sini telah bertiwikrama menjadi pekerjaan yang luar biasa serius. Jika tidak, maka mengapa ada lokakarya segala untuk memanfaatkan media-media sosial itu untuk mendapatkan uang dengan luar biasa besarnya, dengan luar biasa enaknya.

Ini katalog “Info Buku” dari koran-koran Minggu itu.

Salam dari sewon! (Muhidin M Dahlan)

PS: Saat tulisan ini diunggah, koran Minggu Padang Ekspres versi pdf tiba di surat elektronik Warung Arsip. Dikirim kawan baik hati sastrawan Mas Yusririzal KW yang sudah bertahun-tahun menyaru sebagai jurnalis di Sumatera Barat dan dengan penuh semangat masih eksis mengurusi halaman sastra dan budaya di Hari Minggu.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan