-->

Peristiwa Toggle

Benedict Richard O’Gorman Anderson, Kepergian Seorang Indonesianis

Meninggalnya Benedict Richard O’Gorman Anderson dalam usia 79 tahun, Minggu dini hari lalu di Batu, Jawa Timur, niscaya meninggalkan duka mendalam.

Kepergian Anderson ke Jawa Timur dalam rangka bernostalgia mengunjungi tempat yang pernah jadi obyek studinya, setelah memberikan kuliah umum di kampus Universitas Indonesia, Depok, Kamis lalu. Cara kepergiannya mirip Soedjatmoko yang meninggal saat berceramah di kampus Universitas Gadjah Mada, beberapa tahun lewat.

Hasil penelitian dan studinya tentang Indonesia menempatkan Anderson masuk dalam jajaran Indonesianis (ahli dan peneliti tentang Indonesia) yang menonjol. Bahkan, karyanya jadi rujukan tentang kebangkitan nasionalisme di negara berkembang, tidak hanya tentang Indonesia, tetapi juga tentang negara di Asia Tenggara. Salah satu bukunya, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (1983), dianggap sebagai karya klasik dalam ilmu sosial dan ilmu politik.

Sebutan Indonesianis diperkenalkan sejak Indonesia merdeka. Dalam mengembangkan pengaruh ilmuwan Amerika Serikat (AS) di bidang ilmu sosial dan sosiologi, berdirilah pusat studi tentang Indonesia, awalnya oleh orang AS, tetapi lalu oleh orang non-Amerika. Dari deretan nama orang AS dikenal nama seperti George McTurnan Kahin, Anderson, Cliffort Geertz, dan Daniel S. Lev.

Senyampang itu hadir sejumlah Indonesianis dari Eropa, seperti Dennis Lombard dari Perancis, atau Herbert Feith yang dari AS lalu hijrah ke Australia. Di Universitas Ohio dikenal nama William B Liddle. Lalu muncul sejumlah Indonesianis non-Amerika dengan ”patron” AS dari orang Indonesia, juga Indonesianis dari Jepang seperti Aiko Kurasawa. Kehadiran Indonesianis serupa dengan kehadiran Indolog (ahli tentang kajian pendudukan dan masyarakat Nusantara) sebelum Indonesia merdeka, seperti Snouck Hurgronye, dan sejumlah birokrat Belanda. Terlepas dari motivasinya, karya mereka berkontribusi bagi perjalanan sebuah Indonesia yang menegara.

Anderson, setelah Ruth McVey—rekannya menulis naskah sekitar peristiwa 1965 (Cornell Paper)—dilarang ke Indonesia. Dalam jati dirinya sebagai ilmuwan yang hanya dependen pada kebenaran dan keyakinan atas hasil studi ilmiah, Anderson teguh dengan hasil studinya. Socrates, taruhlah contoh klasik, rela minum racun atas keyakinan pendapat ilmiahnya.

Para Indonesianis, seperti Anderson, berkontribusi tumbuh dan berkembangnya penghargaan atas manusia dan nilai kemanusiaan. Selain meninggalkan duka, kepergiannya juga menginspirasi kita mengenali peta Indonesianis masa kini, pasca-Orde Baru, yang niscaya kontributif memperkaya bagi demokratisasi Indonesia.

Sumber: Kompas, 15 Desember 2015.  Diarsipkanwarungarsip.co.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan