-->

Tokoh Toggle

Suyadi | Pak Raden, Memori Abadi Generasi “Ini Budi” | Jakarta

Siapa pun yang mengenyam pendidikan sekolah dasar pada periode 1975-1990 pasti ingat gambar-gambar ilustrasi buku pelajaran bahasa Indonesia yang sangat legendaris dengan tokoh-tokoh di dalamnya, seperti Budi, Wati, Ibu Budi, atau Bapak Budi. Pencipta gambar-gambar tersebut ternyata adalah almarhum Suyadi (82), pengisi suara sosok Pak Raden dalam serial Si Unyil yang sangat terkenal pada tahun 1980-1991.

Dua sketsa hitam putih buatan Suyadi pada 1973 dan 1974 terpampang dalam situs web http://pakraden.org/. Sketsa pertama bergambar tiga anak belajar ditemani tiga kelinci dan burung kakatua. Sketsa kedua bergambar tiga anak berpakaian seragam yang siap berangkat sekolah. Keduanya merupakan sampul buku Bahasa Indonesia: Belajar Membaca dan Menulis 2a serta Bahasa Indonesia Bacaan Jilid 4a milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Pak Raden, Memori Ibu Budi_Dongeng, Buku“Berlapis-lapis generasi membaca dan melihat gambar sketsa bapak yang menjadi ilustrasi buku pelajaran membaca ‘Ini Budi…. ini ibu Budi’ dan sebagainya. Dalam sketsa-sketsa itu, tarikan garis hitam-putih dia sangat kuat,” kata manajer Suyadi Prasodjo Chusnato, Minggu (1/11) di Jakarta.

Menginjak 1980, Suyadi yang lahir di Puger, Jember, 28 November 1932, itu terlibat langsung dalam pembuatan serial Si Unyil. Dialah yang menciptakan karakter boneka dalam serial itu, mulai Unyil, Usro, Ucrit, Melani, Cuplis, hingga Pak Raden, yang sering ia perankan. Pada periode itu, serial ini tak hanya diapresiasi publik dalam negeri, tetapi juga luar negeri.

Suyadi memang seniman serba bisa. Ia juga gemar menulis dan mendongeng. Dua minggu terakhir, ia sibuk menyiapkan pameran dalam rangka 210 tahun kelahiran legenda dongeng dunia, HC Andersen (Odense, Denmark, 2 April 1805). “Sebanyak 94 ilustrasi berukuran besar telah dibingkai. Beliau juga telah membuat kata pengantar pameran,” kata Prasodjo.

Agus Dermawan T, kritikus seni rupa, mengamati goresan kartun dan lukisan Suyadi sangat terarah dan anatomis. “Apa yang ia kerjakan adalah hasil latihan tak henti-henti,” ucapnya.

Dedikasi Suyadi terlihat dari tiga proyek seni yang tengah ia siapkan dua pekan terakhir. Namun, Jumat (30/10) lalu, dia mengembuskan napas terakhir di RS Pelni, Petamburan, Jakarta. Meski Pak Raden telah berpulang, karya-karya legendarisnya tetap melekat dalam memori “generasi ini Budi”.

Sumber: Kompas, 2 November 2015. Diarsipkan di gudang warungarsip.co

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan