-->

Peristiwa Toggle

Perpustakaan Daerah Kalimantan Barat Menjual Koleksinya ke Penampungan Barang Bekas

PONTIANAK — Empat oknum petugas Perpustakaan Daerah Kalimantan Barat yang menjual ribuan buku koleksi daerah ke penampungan barang bekas akan diadukan ke Kepolisian Resor Kota Pontianak. Keempat orang itu dinilai telah menyalahgunakan wewenang. Saat ini, pimpinan perpustakaan sedang mengumpulkan sejumlah bukti.

Sebelumnya, ribuan buku koleksi Perpustakaan Daerah Kalimantan Barat dijual seorang pegawai negeri sipil eselon empat dan tiga orang honorer yang bertugas di perpustakaan tersebut. Mereka membawa buku itu ke penjual dengan menggunakan mobil perpustakaan keliling. Harga jual buku tersebut Rp 700 per kilogram.

Kepala Unit Pelayanan Perpustakaan Darah Provinsi Kalimantan Barat Untad Dharmawan, Senin (23/11), menuturkan, untuk melaporkan oknum tersebut, ia sedang melengkapi bukti-bukti.

“Buku yang bisa kami selamatkan sebagai barang bukti dari lokasi penjualan hanya satu karung. Selebihnya sudah hancur,” katanya.

Selain itu, jajaran pengelola perpustakaan masih menyortir buku-buku di perpustakaan untuk mengetahui buku apa saja yang telah dijual. Sebab, buku yang dijual itu banyak sekali sehingga tidak diketahui pasti. Hasilnya akan dijadikan bahan tambahan laporan kepada kepolisian. Keempat oknum tersebut saat ini sudah dibebastugaskan.

Untad menuturkan, lebih lanjut, keempat oknum tersebut telah mencoreng nama baik institusi tempat mereka bekerja. Apalagi, saat ini, perpustakaan daerah sedang giat-giatnya meningkatkan akses baca masyarakat dengan menempatkan buku di berbagai lokasi. Dengan demikian, buku mudah dijangkau masyarakat, misalnya di warung- warung kopi.

Adanya kejadian tersebut, membuat program perpustakaan menjadi terhambat, misalnya penyaluran buku ke perbatasan. Tahun ini, dibutuhkan 1.000 buku yang akan disalurkan ke 28 lokasi.

Banyaknya buku yang dijual menyebabkan ketersediaan buku berkurang. Program itu juga pernah dilaksanakan pada tahun lalu. Buku yang disalurkan sebanyak 2.000 di 18 lokasi.

Dalam upaya agar peristiwa serupa tidak terulang, Untad berupaya membangun gudang penyimpanan buku-buku yang sudah tidak dipajang di galeri perpustakaan. Sebab, selama ini, buku belum disimpan secara rapi dan bertebaran di sudut-sudut perpustakaan yang bisa menimbulkan pelanggaran.

Sumber: Kompas, 24 November 2015. Diarsipkanwarungarsip.co.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan