-->

Tokoh Toggle

Leila Paramita H | Menghidupkan Taman Bacaan Masyarakat | Malang

Bermodalkan 50-an eksemplar buku, pada 2011 Leila bersama dua rekannya mendirikan taman bacaan di kampung. Kini, koleksi buku taman bacaan ini telah melampaui 400 eksemplar, sebagian dibeli dari uang hasil penjualan pakaian bekas yang mereka kumpulkan.

Di ruang tamu rumahnya yang masih belum rampung, Leila Paramita H (30) menempatkan buku-buku itu dalam sebuah rak kayu kecil. Di atasnya, sehelai kain putih berisi puluhan cap tangan anak-anak dari cat warna-warni menempel di dinding yang masih berupa batu bata merah. Posisinya bersebelahan dengan tumpukan koran dan beberapa kardus pakaian bekas.

Di lantai ruang tamu yang dilapisi karpet plastik inilah anak-anak setempat biasa membaca buku sambil lesehan. Tidak hanya membaca, di ruang ini pula anak-anak setempat mengikuti kelas kreatif setiap Minggu siang. Di tempat yang sama pula, sejak tiga bulan terakhir, belasan anak belajar bersama setiap malam tiba.

LEILA PARAMITA H, Menghidupkan TBM_Buku, Pendidikan”Semua mereka dapatkan secara cuma-cuma. Kami tidak pernah meminta bayaran,” ujar Leila ketika ditemui di rumahnya di Jalan Tirto Taruno XI, Klandungan, Landungsari, Malang, Jawa Timur, Selasa (3/11).

Ini adalah tempat ketiga taman bacaan sederhana itu berada. Sebelumnya, lokasinya sempat berpindah dua kali lantaran status tempat tinggal Leila yang masih menyewa.

Leila menuturkan, taman bacaan yang diberi nama Wacan (bacaan dalam bahasa Jawa) berdiri Oktober empat tahun silam. Saat itu ia bersama dua rekannya, Nihan Werdi S dan Dwi Indri N, tebersit niat untuk membuat taman bacaan bagi anak- anak setempat yang kurang memiliki kegiatan berarti. Kebetulan ketiganya memiliki latar belakang sama, yakni sering ikut kegiatanparentingdi tempat lain.

Mereka pun mulai mengumpulkan buku milik masing-masing. Setelah buku terkumpul, bukan berarti persoalan selesai. Muncul pertanyaan bagaimana menarik minat masyarakat, khususnya anak-anak, agar mau datang ke taman bacaan yang baru. Mereka lalu mengadakan lomba mewarnai sebagai pilihan. Gayung bersambut, ternyata upaya itu mendapat sambutan baik dari warga.

Upaya pengumpulan buku kemudian berlanjut. Suami Leila, M Marsudi (34), sempat mendatangi pendiri Perpustakaan Anak Bangsa di Kecamatan Jabung yang telah berhasil mengembangkan perpustakaan swadaya dan banyak mendapat donasi buku dari pihak lain.

”Suami saya sempat mengutarakan niat kalau kami hendak membuat taman bacaan. Akhirnya Perpustakaan Anak Bangsa memberikan dua kardus buku,” tuturnya.

Pencarian buku diperluas dengan menghubungi teman dan relasi dengan harapan mereka bersedia menyumbangkan buku-buku yang tidak terpakai, termasuk menggunakan media sosial. Yang tak kalah menarik, muncul ide bagaimana mendatangkan uang untuk membeli buku dengan memanfaatkan pakaian bekas. Pakaian bekas yang terkumpul kemudian dijual dengan harga Rp 500 sampai Rp 5.000 per potong.

”Bagaimana caranyanyariduit karena kami bukan dari golongan menengah ke atas. Dan, sepertinya di daerah sini pakaian bekas masih laku. Akhirnya kami mengumpulkan baju-baju bekas dan itu berlangsung sampai sekarang. Punya kawan-kawan kami jual. Uangnya untuk membeli buku,” kata perempuan lulusan Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Hasil penjualan dari pakaian bekas ternyata cukup lumayan. Sekali buka lapak di rumah Leila, terkumpul uang Rp 200.000-Rp 300.000. Dana sebesar itu bisa dipergunakan untuk membeli hingga tujuh buku baru, bahkan bisa lebih saat ada diskon. Sementara ini, pembelian buku menjadi cara paling jitu untuk mendapatkan tambahan koleksi. Sebab, jika mengandalkan donasi, jumlahnya tidak seberapa.

Dengan kondisi yang ada saat ini, sudah ada sekitar 400 buku, Leila menilai koleksinya masih kurang. Apalagi sebagian besar koleksi yang ada merupakan buku umum untuk usia dewasa. (Defri Werdiono)

Sumber: Kompas, 7 November 2015. Diarsipkan di gudang warungarsip.co

 

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan