-->

Agenda & Donasi Toggle

12-14 Nov | Borobudur Writers & Cultural Festival 2015 | Yogyakarta – Magelang

BOROBUDUR WRITERS & CULTURAL FESTIVAL 2015

Gunung, Bencana, dan Mitos di Nusantara

Yogyakarta – Magelang, Kamis-Sabtu, 12-14 November 2015

Unduh jadwal acaranya di sini

Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) adalah sebuah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Samana Foundation. Festival ini merupakan wahana berupa forum pertemuan bagi para penulis dan pekerja kreatif serta aktivis budaya pada umumnya dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman interkultural yang berbasis pada pengembangan dan perluasan pengetahuan atas berbagai khazanah sehingga para kreator budaya maupun masyarakat yang hidup dalam budaya-budaya tersebut dapat memanfaatkan segala khazanah yang ada sesuai dengan kebutuhan aktualnya.

Festival ini diciptakan untuk menjadi perayaan karya-karya budaya yang membuka diri terhadap segala kemungkinan keragaman identitas dan segala menifestasi ekspresif di masa lalu, masa kini dan segenap pilihan inseminasi kreativitas di masa depan. Juga sebagai wahana pertemuan antarkomunitas, antarkelompok serta ruang dialog antara karya-karya budaya dengan publik sehingga terbangun pemahaman yang mendalam di antara individu maupun komunitas budaya tersebut dalam cakupan ruang dan waktu yang tak terbatas. Sebuah festival sebagai ruang kemungkinan bagi segala penjelajahan imajinasi dan bentuk-bentuk eskpresifnya.

BWCF yang pertama telah diselengarakan pada tahun 2012, dengan tema “Memori dan Imajinasi Nusantara: Musyawaran Agung Penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara”. Pada BWCF 2012 itu hadir 350 penulis cerita silat dan penulis berlatar sejarah Nusantara. Selain sesi seminar juga diadakan pemutaran film, peluncuran buku, pementasan seni, lecture tentang sejarah Nusantara, workshop penulisancerita anak, dan pemberian penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award kepada penulis, sejarawan, peneliti, budayawan, dan tokoh-tokoh yang berjasa bagi pengembangan budaya dan sejarah Nusantara. Pada BWCF 2012 award diberikan kepada SH Mintardja, seorang penulis cerita silat yang sangat produktif.

Selain dihadiri para penulis berlatar sejarah maritim Nusantara, acara BWCF 2013 juga dihadiri oleh para antropolog, sejarawan, mahasiswa, wartawan, dan masyarakat umum. Sang Hyang Kamahayanikan Award 2013 diberikan kepada AB Lapian, seorang sejarawan maritim yang telah memberikan kontribusi besar di dunia keilmuan dan pemahaman atas sejarah bahari Nusantara.

Pada BWCF ketiga yang dilaksanakan pada 2014 mengusung tema “Ratu Adil, Kuasa, dan Pemberontakan di Nusantara”. Selain seminar sebagai menu utama, diselenggarakan pentas seni tradisi di Balai Seni Desa Gejayan, Gunung Merbabu dan Balai Seni Desa Tutup Ngisor, Gunung Merapi, Magelang. Pada 2014 Sang Hyang kamahayanikan Award diserahkan kepada Peter Carey. Seorang sejarawan Inggris yang mendarmabhaktikan hidupnya untuk meneliti riwayat Pangeran Diponegoro.

Gunung, Bencana, dan Mitos di Nusantara

Sebagian penduduk Indonesia hidup di atas cincin api yang paling aktif di dunia. Cincin api ini di daratan akan membentuk gunung berapi. Dalam sepuluh tahun terakhir letusan gunung berapi di Nusantara dapat dilihat daya rusaknya. Sewaktu-waktu gunung berapi ini bisa memuntahkan magma. Tidak kurang terdapat seratus dua puluh tujuh gunung berapi yang masih aktif di jalur berapi Nusantara. Di atas jalur berapi ini merentang mulai Danau Toba di Sumatera Utara menyambung di hampir daratan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku hingga Ambon, Seram.

Sementara di kedalaman bawah tanah ini terdapat cincin api, di daratan berupa kepulauan yang terpisah satu sama lain. Kepulauan ini dilingkari Cincin Api Pasifik yang teraktif di dunia dan dibelit oleh jalur berapi teraktif kedua, yaitu Sabuk Alpide. Kondisi ditambah bahwa Indonesia ditumbuk oleh lempeng Indo-Australia dari selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari Timur.

Hal ini menunjukkan ancaman alam yang berbahaya menjadi bagian tak terpisah dari hidup masyarakat Indonesia. Letusan gunung api bisa menimbulkan bencana tidak hanya lingkungan sekitar gunung, tetapi bisa mencapai masyarakat lintas benua. Letusan dalam kategori kolosal dan superkolosal pada Gunung Tambora dan Toba berakibat pada hilangnya kerajaan serta berpengaruh pada proses evolusi. Sementara dampak lintas benua berupa anomali alam di luar kendali manusia sehingga dalam waktu tiga tahun langit gelap dan selama dua tahun tak ada musim panas di Eropa. Akibatnya, panen gagal dan kelaparan merajalela di Eropa.

Pada saat yang bersamaan letusan gunung berapi ini juga memberi manfaat bagi manusia. Dari perut bumi keluar berbagai materi yang dibutuhkan tanah untuk menyuburkan tanaman. Material-material lain dari gunung juga berguna bagi kegiatan bercocok tanam dalam waktu yang lama. Juga persediaan bahan  bangunan yang melimpah.

Letusan gunung berapi ini secara fisik berdampak besar bagi kehidupan di Nusantara. Dalam perjalanannya peradaban di Nusantara gunung berapi ini tidak bisa diabaikan. Gunung berapi menempati posisi penting dalam denyut kehidupan di Nusantara. Salah satunya terwujud pada bentuk rumah tradisional. Arsitektur rumah tradisional ini merupakan tanggapan atas gempa yang bersumber dari gunung berapi. Adaptasi terhadap bahaya yang mengancam ini ikut dalam menentukan corak peradaban Nusantara.

Masuk akal kiranya jika dalam perjalanan peradaban di nusantara hubungan gunung dan manusia ini menempati posisi yang istimewa. Hampir semua puak peradaban di nusantara memiliki penghormatan kepada gunung ini. Penghormatan ini bisa berbagai macam maknanya. Bisa berarti ungkapan rasa takut, ucapan terima kasih, atau pemujaan. Pelbagai bentuk penghormatan ini bisa dalam wujud kesenian, ritual, candi, batuan menhir, mitos, hikayat, nyanyian rakyat, dan legenda. Wujud ekspresi ini menunjukkan betapa gunung menjadi bagian yang tak terpisah dari proses spiritual bagi bentuk peradaban di Nusantara. Pada beberapa puak di Nusantara gunung tak ubahnya sebagai pusat di mana titik spritual itu berada.

Untuk itu, Borobudur Writers and Cultural Festival 2015 mengangkat tema Gunung, Bencana, Mitos dan dampaknya terhadap proses kebudayaan di Indonesia. Gunung pernah dan sebagian masih menjadi pusat dari kebudayaan masyarakat di Indonesia. Dengan adanya pemahaman relasi gunung dan manusia di Indonesia, secara langsung juga memahami hakikat dari kebudayaan di Nusantara.

Yoke Darmawan

Direktur Festival

 

 

Download seluruh rangkaian acara BWCF 2015 di sini

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan