-->

Peristiwa Toggle

Taufiq Ismail di Pekan Raya Buku Frankfurt: “Komunis Gaya Baru Itu Ada”

P1060470 - CopyFRANKFURT — Setengah abad bangsa Indonesia diikat rantai yang melintang dari kuburan Marx di London hingga kuburan Lenin di Moskow. Rantai itu telah diputus hingga berkeping-keping.

Demikian Taufiq Ismail membuka percakapannya di Paviliun Indonesia, Pekan Raya Buku Frankfurt (15/10). Bersama penulis cerita pendek Zen Hae, Ismail menyebut komunisme itu penyakit menular. Penahanan politik, pemecatan, pembunuhan massal, breidel penerbitan dan koran adalah sebagian dari penyakit yang ditularkan komunisme. Termasuk komunisme itu rajin membikin jargon, seperti 7 setan desa, 3 setan kota, kapbir, dan sebagainya.

“Semuanya sudah berlalu dan yang kita inginkan sekarang adalah suatu perdamaian total. Ikhlas melupakan semuanya,” kata penulis buku “Katastrofi Mendunia: Marxisma Leninisma Stalinisma Maoisma Narkoba” ini.

Ismail tidak setuju dengan skenario rekonsiliasi di mana negara harus membayar ganti rugi mereka yang menjadi korban kekerasan politik. “Rekonsiliasi ala Afrika Selatan itu tidak cocok. Yang tepat bagi Indonesia adalah perdamaian total seperti antara pemerintah Malaysia dan Partai Komunis Malaya. Mereka bisa berdamai total setelah 40 tahun berselisih dan 200 orang mati tiap hari,” usul Ismail.

Sebagai penyair, Ismail merindukan perdamaian total yang tak ada embel-embel ganti rugi. Bisa ludes triliunan kas negara untuk membayar ganti rugi itu jika dituruti skenario rekonsiliasi model seperti ini.

Komunis Gaya Baru

Taufiq Ismail dengan yakin mengatakan Komunis Gaya Baru (KGB) itu ada. Ideologi komunis ini diestafetkan. Mereka bergerak terus-menerus.

“Ideologi ini sudah bubar dan berantakan. Diketawakan orang. Tidak bisa lagi dijual. Apa yang mereka lakukan? Balas dendam. Ujug-ujug mengatakan diri dizalimi. Musabab mereka mendapatkan derita itu tak disebut. Pemberontakan Madiun 1948 yang jadi musabab mereka tak pernah sebut,” jelas Ismail.

Menurut penyusun buku “Prahara Budaya” ini, jika berdebat kita tak rampung-rampung. Semua punya argumen, punya pendapat yang yang saling menguatkan gagasan masing-masing. “Buka hati, kita bangun. Kubur dendam,” nasehat Ismail.

Cerita usaha Ismail mengubur dendam itu sudah dilakukannya pada tahun-tahun pertama awal abad 21 ini dengan Pramoedya Ananta Toer.

“Pram itu 0 besar dalam Marxisme-Leninisme. Saya terharu dengan Pram yang dieksploitasi. Namanya dipasang di billboard. Pram itu individualis, bukan komunis. Salah besar memujanya sebagai penulis komunis. Jijik saya dengan PKI,” kisah Ismail.

Tiga Posisi

Sementara itu, Zen Hae melihat tema “65” yang dilontarkan Taufiq Ismail itu dalam kancah penulisan sastra berada pada tiga posisi. Pertama, karya-karya yang menempatkan kiri sebagai korban yang mengenaskan. Mereka diposisikan sebagai yang terbuang dan terdiskriminasi. Contoh karya di posisi ini adalah Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Posisi kedua adalah karya orang-orang kiri yang memberi kepada kita perspektif baru kisah mereka sebagai korban, seperti dalam cerpen-cerpen Martin Aleida. Posisi ketiga adalah mengekspolitasi tema 65 dengan penekanan pada anti pada kiri dan anti komunisme. (Muhidin M Dahlan dari Pekan Raya Buku Frankfurt)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan