-->

Peristiwa Toggle

Oka Rusmini dan Intan Paramaditha di Pekan Raya Buku Frankfurt: Dua Yang Menolak Tabu

FRANKFURT — Dengan tema “T(r)opical Issues: Women and Taboo”, Oka Rusmini dan Intan Paramaditha berbicara di Pekan Raya Buku Frankfurt tentang keterbukaan informasi dan dobrakan atas tabu.

Oka Rusmini, pengarang buku “Tarian Bumi” ini meneguhkan cerita tentag perempuan yang otonom. Ia bahkan tak segan-segan menabrak tabu di Bali, seperti ritus pariwangi. Menurut adat ini, jika seorang perempuan menikah dengan laki-laki biasa, secara otomatis kasta perempuan itu turun.

“Patiwangi ini adalah teror psikologis,” ujar Oka Rusmini di Paviliun Indonesia, Pekan Raya Buku Frankfurt (14/10). Teror itu dilawan Oka Rusmini dengan “membuang” gelar kebangsawanan yang melekat di namanya, “Ida Ayu”.

P1060466 - Copy

Tari Pakarena dari Sulawesi Selatan tampil di Pekan Raya Buku Frankfurt

“Kalau pakai nama kebangsawanan, saya sulit bertemu narasumber. Saya ingin dikenal sebagai jurnalis Bali Post saja,” ujar Oka Rusmini.

Oka Rusmini lahir dan besar dalam budaya metropolitan Jakarta. Saat ia kembali ke Bali, ia menemukan dirinya sebagai pengarang satu-satunya yang berani berontak pada tabu.

Menurut Oka Rusmini, tugas menulis sastra yang “keras” terhadap budaya Bali itu tidak diperuntukkan untuk mencari popularitas. “Saya menolak karya saya difilmkan,” katanya tegas.

Jika Oka memilih menolak segala predikat sebagai penulis feminis, Intan Paramaditha melihat bias media berbahaya mempresentasikan kehadiran penulis perempuan. Sastra wangi, kata Intan, adalah conth biasa itu yang melihat pengarang perempuan sekadar seks dan kecantikannya.

Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu, untuk menyebut satu dua, memang mendobrak tabu seks. Tapi mereka hanya sebagian kecil. Masih ada nama lain seperti Leila Chudori, Linda Christanti, Laksmi Pamuntjak yang bergulat secara intens dengan tema-tema politik dalam karya mereka.

“Saya menolak eksotisme yang bias itu,” jelas Intan.

Karya

Karya-karya Oka Rusmini yang ditampilkan di Pekan Raya Buku Frankfurt adalah Tarian Bumi (Inggris: The Lontar Foundation. Diterjemahkan ke dalam bahasa Italia dengan bantuan subsidi pemerintah); Saiban (Indonesia: Gramedia); Akar Pule (Indonesia: Gramedia); dan Sagra (Indonesia: Gramedia. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman dengan bantuan subsidi pemerintah).

Sementara itu karya Intan Paramaditha yang dibawa ke Pekan Raya Buku Frankfurt adalah Pemintal Kegelapan dan Cerita Lainnya (Inggris: The Lontar Foundation. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman dengan bantuan subsidi pemerintah). (Muhidin M Dahlan)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan