-->

Peristiwa Toggle

NH Dini di Pekan Buku Frankfurt: “Menulis Itu Seperti Memasak”

P1060440 - CopyFRANKFURT — Novel “Pada Sebuah Kapal” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul “On The Ship” dikisahkan kembali NH Dini di Paviliun Indonesia di Pekan Raya Buku Frankfurt, Frankfurt Am Main, Jerman (14/10). NH Dini tampil sepanggung dengan pengarang asal Banyumas Ahmad Tohari dengan tema “In Conversation: Kampong and City Tales”.

Menurut NH Dini, tokoh utama Sri dalam roman biogafi itu adalah empat tokoh nyata yang semuanya bernama Sri. Sri yang pertama adalah istri seorang profesor yang tinggal di London. Sri kedua adalah dosen yang mengajar di kampus UGM Yogyakarta. Sri yang ketiga adalah penari dari Bali. Dan Sri keempat adalah istri diplomat dari Jawa.

“Nama saya sendiri juga adalah Sri,” kisah NH Dini yang bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin.

Empat Sri yang disebutkan NH Dini itu diaduknya jadi satu dan menjadi seutuhnya Sri yang “berontak” dengan ketakbahagiaannya. Ia selingkuh dengan nakhoda kapal dalam sebuah perjalanan. Tokoh perempuan ini menikah dengan seorang diplomat.

NH Dini tidak menolak disebut bila Sri dalam roman terkenal di Indonesia itu adalah nyata. Bahkan diasosiasikan dengan kisah hidupnya sendiri. “Saya memang menulis sesuatu yang nyata. Ada peristiwanya. Saya hanya jadi juru masaknya. Menulis itu ya seperti juru masak. Ambil salam, iris laos, tambahkan garam secukupnya. Campur jadi satu,” tuturnya.

Perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah pada 29 Februari 1936 ini mengaku menulis dimulai dari keinginan untuk mandiri. “Saya malu minta uang sama paman yang sudah membiayai kakak saya. Menulis adalah jalan saya untuk bisa mandiri,” kisah perempuan yang beristrikan seorang diplomat ini.

Untuk mengembangkan diri dan bisa berkarya subur, lanjut NH Dini, mestinya dipupuk dengan banyak membaca. “Saya itu sudah sangat internasional sejak SMP. Karena buku berbahasa Indonesia sudah saya baca semua di perpustakaan, saya akhirnya membaca buku-buku berbahasa Inggris. Saya membacanya dengan bersuara agar saya mendengar suara saya sendiri. Juga saya didampingi kamus. ‘Sampar’ karya Albert Camus yang saya terjemahkan itu sudah saya baca sejak kelas 3 SMP,” cerita ibu dari pencipta karakter Minions yang terkenal, Pierre Coffin.

Semua gaya menulis beserta ide yang tak pernah kering didapatkan NH Dini dari belajar sendiri. Juga karena berkat pergaulannya dengan sesama pengarang yang lain. Yang tak pernah NH Dini lupakan dari Pramoedya Ananta Toer adalah tipsnya dalam menulis.

Pengarang masyhur asal Blora itu menasehati NH Dini, pembaca itu suka membaca kalimat yang pendek-pendek. Makanya kalau menulis jangan sering pakai “yang” dan “koma”. (Muhidin M Dahlan dari Pekan Raya Buku Frankfurt)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan