-->

Peristiwa Toggle

Nano dan Butet Memanggungkan Kata-kata di Pekan Raya Buku Frankfurt

FRANKFURT — Jalan pelarangan adalah jalan yang ditempuh Teater Koma. Lakon “Opera Kecoa” dan “Suksesi”, untuk menyebut dua lakon, adalah jejak Koma berhadapan dengan kekuasaan yang diperintah di bawah sepatu lars.

Nano Riantiarno menceritakan kiprah Teater Koma di Pavilion Indonesia, Pekan Raya Buku Frankfurt, siang waktu setempat (14/10). Bersama aktor Butet Kartaradjasa, Nano Riantiarno silih berganti berbagi pengalaman memanggungkan kata-kata.

“Teater Koma sudah berkiprah selama 38 tahun. Sudah 182 karya dipentaskan. Artinya, sudah hampir empat dekade kami mencoba bertahan menjaga sikap kritis masyarakat,” kisah Nano.

Separuh lebih dari kronik pemanggungan Nano dilakonkan berada di bawah bayang-bayang pelarangan. Interogasi pihak keamanan sudah menjadi hal biasa dalam kehidupan teater yang didirikan pada 1 Maret 1977 ini.

P1060406 - CopyReputasi dan pengalaman panjang membangun teater dan menghidupkan kata-kata di atas panggung itu, kisah Nano, dimulai dari saat dirinya memainkan gubahan naskah Caligula di sekolah menengah di Cirebon. Caligula adalah naskah yang ditulis Albert Camus pada 1938.

Sepotong pengalaman itulah yang dibawa Nano ke Jakarta. Ia memasuki akademi teater. Tidak seperti umumnya seniman biasanya “mudah” putus sekolah, justru kali ini akademi teater yang menjadi tempat belajar Nano yang justru bubar. Dengan keinginan seorang pembelajar yang tinggi, Nano belajar dengan cara mengikuti dari dekat bagaimana Teguh Karya bekerja membangun teater.

Hasil belajar itulah yang melahirkan Teater Koma. Mengapa Koma? “Teater ini tidak mengenal tanda baca titik. Koma adalah keberlanjutan. Tak ada berhentinya. Selalu berkelanjutan kata-katanya,” kata Nano.

Lakon tanpa batas itu yang bisa kita temukan dari lakon San Pek Eng Tay yang sudah ratusan kali dipanggungkan sejak 1988. “Semangat koma” itu yang membuat Eng Tay, kisah Romeo dan Juliet dari Asia yang tak jadi itu, masih relevan dipanggungkan Nano setelah Indonesia melewati dekade pertama abad 21.

Dengan “semangat koma” itu pula Nano tanpa bosan memberitahu bahwa lakon ditulis dan dipanggungkan untuk memberitahu masyarakat mana yang benar dan mana yang salah.

Menyiasati Momok Anggaran

Seperti halnya Nano Riantiarno, aktor panggung Butet Kartaredjasa juga mengalami getirnya berhadapan dengan tekanan militer saat berkesenian. Untuk bisa bertahan dari badai kontrol ketat, Butet kerap menyiasatinya secara kreatif.

“Naskah yang dialognya sudah ‘bersih’ diserahkan ke aparat keamanan yang punya wewenang mengeluarkan izin untuk memanggungkan lakon. Tapi naskah lain yang ‘asli’ tetap dibaca dalam latihan dan dipanggungkan. Kan gak mungkin tho aparat itu bisa mencocokkan naskah yang di tangan mereka dan naskah lakon yang dipanggungkan. Lha ruang teater gelap kok,” tutur Butet Kartaradjasa yang disambut geer para hadirin.

Termasuk dalam hal ini adalah siasat Butet mengakali anggaran pentas yang menjadi momok bagi pelaku teater. Dalam ungkapan Nano, momok uang berteater itu membuat pelakunya ciut: “tiada uang, teater tidak dibikin”.

Monolog yang melekat pada jejak panggung Butet mula-mula lahir dari usahanya untuk tetap menghidupkan panggung, tapi dengan anggaran seminimum mungkin. “Mudah, murah, mobilitas tinggi, itulah panggung monolog,” ungkap Butet.

Monolog tidak menghilangkan fungsi teater yang menjaga dan melatih daya kritisme masyarakat dalam pesan-pesannya. Tapi ia tetap hadir dengan anggaran yang tak terlalu besar.

Di akhir acara bertema “In Conversation: From Words to the Stage”, Nano Riantiarno dan Butet Kartaredjasa membacakan karya. Nano memilih membaca kutipan “Opera Kecoa” yang mengganyang korupsi lewat mulut seorang tukang obat. sementara Butet memonologkan esainya berjudul “Bonus Khusus” yang berisi percakapan Celathu dan istrinya tentang hukuman yang pantas untuk koruptor.

Diskusi yang berlangsung selama satu jam ini menggunakan tiga bahasa sekaligus: Indonesia, Jerman, dan Inggris. (Muhidin M Dahlan dari Pekan Raya Buku Frankfurt)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan