-->

Peristiwa Toggle

Linda Christanty di Pekan Raya Buku Frankfurt: Ketegangan Baru di Aceh

FRANKFURT — Perdamaian tahun 2015 di Aceh bukan hal yang diinginkan masyarakat Aceh, tapi perdamaian yang diberikan pemerintah Jakarta untuk meredam gejolak puluhan tahun perang. Pemberian itu berbentuk syariat Islam.

Demikian potongan pendapat Linda Christanty di Paviliun Indonesia, Pekan Raya Buku Frankfurt, siang waktu setempat (16/10).

“Syariat Islam di Aceh itu membangun ketegangan baru di tengah masyarakat. Yang berjalan berduaan yang bukan muhrim ditangkap dan dihukum. Laki-laki yang tidak salat Jumat dikejar. Bahkan ada sekelompok orang yang memperkosa perempuan yang dituduh melanggar syariat Islam. Pemerkosa lolos hukuman syariat, si perempuan yang menerima dua hukuman,” kata penulis buku “Dari Jawa Menuju Atjeh” ini.

P1060524 - CopyMenurut Linda, pemberlakukan syariat Islam itu menjadi teror baru. Militer mengontrol dan meminjam tangan masyarakat untuk menjalankan mesin kekerasan baru.

Penulis buku “Seekor Burung Kecil Biru di Naha: Konflik, Tragedi, dan Rekonsiliasi” (2015) ini menderetkan lagi contoh bagaimana syariat Islam mengobarkan kekerasan baru pasca Daerah Operasi Militer (DOM) diamputasi. Misalnya, seorang perempuan ditangkap dan dihukum cambuk karena ketahuan menjual nasi goreng di bulan Ramadhan. Itu pun karena si penjual nasi goreng dijebak dua polisi syariat yang pura-pura memesan nasi.

Ada lagi cerita dosen Rosnidasari yang diusir dari Aceh lantaran membawa mahasiswa ke salah satu gereja Katolik untuk studi perbandingan agama terhadap tema-tema khusus.

Bukan hanya itu, pemberlakuan syariat Islam, kata Linda, membuat daerah-daerah lain ikut-ikutan mengeluarkan perda syariat Islam. Pemimpin-pemimpin daerah berpendapat, jika Aceh bisa memberlakukan syariat, mengapa daerah lain tidak bisa. Pemerintahan di daerah Depok, Jawa Barat, misalnya, memberlakukan makan dengan tangan kanan. “Absurd,” kata Linda.

Selain soal Perda Syariat dan dampak psikologis yang diakibatkannya, LInda juga menyorot upaya pemerintah melakukan deradikalisasi terorisme yang tumbuh di kantong-kantong masyarakat. Apalagi dunia dikejutkan kembali dengan munculnya fenomena ISIS. “Deradikalisasi itu gak bisa sukses. Jangan bikin jihad ya, ini roti dan nanti kesejahteraan ditanggung. Padahal soal jihat bukan soal roti, tapi bersandar pada keyakinan tertentu,” jelas penulis buku kumpulan cerita “Kuda Terbang Maria Pinto” ini.

Solusi yang diberikan Linda sederhana, namun perlu kehendak kuat untuk melaksanakannya. “Tegakkan hukum! Dan itu dilakukan pemerintah. Jangan serahkan tugas itu kepada masyarakat,” ujar Linda.

Dalam sesi bertema “T(r)opical Issues: Religious Extremism in Indonesia” ini Linda Christanty ditemani Noor Huda Ismail. Tapi penulis buku “Temanku Teroris?” itu batal hadir. (Muhidin M Dahlan dari Paviliun Indonesia, Pekan Raya Buku Frankfurt)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan