-->

23Tweets Toggle

Katalog Seni – Kelompok Kesini@n / Teguh Paino (Kulon Progo, Yogyakarta)

Kesinian - Kulonprogo - CopyKelompok Kesini@n yang berasal dari Desa Giripeni-Kulon Progo adalah satu dari tiga komunitas yang mengikuti Equator Festival Biennale Jogja XIII.

1 Komunitas Kesini@n berasal dari Giripeni, Kulon Progo, Yogyakarta. Anggota kelompok ini sekira 10 perupa.

2 Ketua Komunitas Kesini@an adalah Teguh Paino, SSi. Kesini@an terbentuk karena kepedulian terhadap dunia seni rupa di Kulon Progo pada 2009. Kulon Progo selama ini perkembangan seni rupanya belum terbaca dalam peta seni di Yogyakarta. Sebelum bernama Kesini@an, anggota kelompok ini tergabung dalam Sanggar Perupa Beda Gaya.

3 Kesini@an itu bagi Teguh Paino artinya eksistensi bahwa mereka sebagai perupa itu ada. Seni rupa Kulon Progo itu ada. Pada 2009 Kesini@an mengadakan pameran di Wates, dengan tema “Wajah-Wajah 2009”. Pameran itu menandai berdirinya kelompok Kesini@an.

4 Anggota Kelompok Kesini@n punya kegelisahan yang sama karena ruang untuk pameran di Kulon Progo sangat kurang. Mereka mencoba membuat gerakan agar direspons pemerintah, tapi jika pun tidak ada tanggapan ya mereka tidak surut langkah. Yang terpenting untuk kami, kata Teguh Paino, adalah mengenalkan seni rupa kepada masyarakat Kulon Progo. “Kami sering membuat mural, workshop, juga event kompetisi untuk anak-anak di Kulon Progo,” serunya.

5 Di lingkup Yogyakarta, Kesini@an pernah terlibat dalam Biennale Jogja (2009), FKY (2010), dan Biennale Jogja (2015). Bermarkas di Giripeni yang 80% penduduknya adalah petani, Kesini@an banyak mengangkat tema tentang sawah dalam karya mereka.

6 Di Desa Giripeni tersebutlah seorang tokoh seni rupa kondang bernama Trubus Sudarsono. Trubus merupakan salah saorang perupa yang akrab dengan Bung Karno.

7 Salah satu karya Trubus Sudarsono adalah Patung Denok yang saat ini berada di Istana Bogor. Trubus menjadi anggota Lekra dan menjadi salah satu seniman yang hilang pada pembunuhan massal 1965.

8 Sosok Trubus banyak menginspirasi seniman Kesini@an. Kesini@an berharap bisa terus berkarya untuk mengangkat nama Kulon Progo dan memajukan dunia seni rupa di Kulon Progo.

9 Keterlibatan Kesini@an dalam Equator Festival Biennale Jogja XIII yang digelar di Giripeni, Kulon Progo, antara lain: membuat karya on the spot instalasi, experimental art, dan environmental art.

10 Kesini@an juga mengadakan workshop “Wayang Sawah” untuk anak-anak sekolah di Kulon Progo.

11 Wayang Sawah lahir ketika Kesini@an bersinergi dengan masyarakat Giripeni dalam acara Wiwitan Sawah pada Juli 2015. Awalnya mereka bekerjasama dengan Gabungan Kelompok Tani Giri Peni untuk membuat karya tentang sosialisasi pengendalian hama.

12 Dalam pengendalian hama untuk pertanian, ada beberapa unsur yang terlibat, yaitu hama dan pemangsa alami. Hama sendiri terdiri dari dua unsur: teman petani dan musuh petani.

13 Tadinya Kelompok Tani hanya membuat banner bergambar hama tersebut. Kesini@an memberi ide untuk membuat wayang dalam sosialisasi hama. Untung Raharjo, ketua kelompok tani, mendukung ide tersebut.

14 Kelompok Kesini@an membuat wayang sawah dengan 3 figur utama, yakni Pak Sukar (petani kolot), Mbah Dikin (petani sadar lingkungan), dan Pak Untung (ketua kelompok tani).

15 Lewat figur-figur tersebut, Kesini@an membantu kelompok Tani Giripeni untuk menyebarluaskan bagaimana cara pembasmian hama yang benar dan alat apa saja yang aman digunakan dalam proses penyemprotan hama.

16 Wayang Sawah sebagai media untuk penyuluhan kepada petani mendapat apresiasi dari Pak Bambang (Dinas Pertanian Kulon Progo). Wayang Sawah ini kembali ditampilkan dalam pergelaran Equator Festival Biennale Jogja XIII 30 Oktober 2015.

17 Dalam Biennale Jogja XIII, Kesini@n menampilkan 3 dalang untuk mengisi figur dalam wayang sawah tersebut. KS Suryadi mengisi Pak Sukar, Pak Gono memerankan Mbah Dikin, Handayani Supeno memainkan Pak Untung.

18 Selain tiga tokoh utama tersebut, ada figur-figur tambahan yang diperankan anggota kelompok Kesini@n. Sebagai pendukung acara juga ada Gejok Lesunng, pameran Pasar Kuliner (Makanan Lokal Giripeni), dan pertunjukan musik.

19 Wayang Sawah ini juga dipentaskan di Jogja National Museum pada November 2015 sebagai rangkaian Biennale Jogja XIII.

20 Konsep yang diangkat Kesni@n untuk Biennale Jogja XIII adalah “Lemahku Kekuatanku”. Tanah sebagai unsur utama lahan pangan dalam kultur agraris menjadi sasaran utama Kesini@n karena Giripeni adalah desa dengan 80% penduduknya adalah petani.

21 Memperlakukan tanah dengan semestinya adalah tanggung jawab kita sebagai manusia. Bukan sekadar lahan garapan petani, tapi semua manusia dengan kesadaran akan pentingnya tanah.

22 Bacaan Teguh Paino ketika kecil adalah majalah Gatot Kaca. Buku seni rupa yang mengispirasinya dalam dunia seni adalah buku-buku Egon Sile.

23 “Lukisan Egon bagi saya terkesan suram, pemilihan warna dan karakternya sangat kuat. Dia adalah salah satu idola saya” #TeguhPaino

Demikian Program Katalog Seni bersama Kelompok Kesini@n. Sampai jumpa di program selanjutnya.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan