-->

Peristiwa Toggle

Inilah Pengumuman Lomba Cipta Puisi “Di Bawah Payung Hitam” Proyek Seni Indonesia Berkabung

YOGYAKARTA — Di laman Fanpage Facebook Proyek Seni Indonesia Berkabung diumumkan hasil akhir lomba cipta puisi  bertajuk “Di Bawah Payung Hitam”. Menurut panitia, sampai pada batas pengiriman karya (30 September 2015) mereka telah menerima 1441 buah puisi yang dikirimkan oleh 313 peserta.

Bagi panitia dan dewan juri yang terdiri dari Prof. Dr. Faruk HT,  Joko Pinurbo, dan Gunawan Maryanto, jumlah jumlah keikutsertaan itu sangat menggembirakan dan menunjukkan bahwa lomba merupakan bagian dari sebuah gerakan bersama untuk membaca dan mengkritisi situasi Indonesia terkini mampu menarik keterlibatan banyak penyair dan masyarakat umum dari berbagai wilayah di Indonesia.

Setelah bekerja untuk membaca dan memilih puisi-puisi tersebut tim juri Lomba Cipta Puisi “Di Bawah Payung Hitam” memutuskan: 39 Puisi Pilihan Kumpulan Puisi “Di Bawah Payung Hitam”.

“Kami menganggap bahwa 39 puisi terpilih ini layak untuk dimasukkan ke dalam kumpulan tersebut. Dengan berat hati kami tidak bisa memenuhi jumlah yang telah ditetapkan oleh panitia yaitu sejumlah 70 puisi,” jelas Dewan Juri.

Puisi Pilihan Di Bawah Payung Hitam adalah sebagai berikut:

1. Agit Yogi Subandi: Ketika Melihat Indonesia
2. Agustinus Wahyono: Kebakaran Perut dan Kepala
3. Arif Hidayat: Yogyakarta
4. Astrajingga Asmasubrata: Maklum
5. Aulia Sohibi: Membaca Laut
6. Aulia Sohibi: Negeri yang (Tak) Lagi Hijau
7. Avesina Wisda: Nilai Tukar dan Hukum Jual Beli
8. Bambang Widiatmoko: Melipat Bendera
9. Bataona Noce: Biji Sesawi
10. Bobbi A. Samudro: Pembakaran
11. Bresman Marpaung: Empat Perkabungan Bersinggungan
12. Budhi Setyawan: Yogyakarta dan Udaranya yang Meracuniku dengan Rindu
13. Cut Nuswatul Khaira: Janji Seorang Rantau
14. Dadang Ari Murtono: Uma Tak Percaya
15. Dwi Rahariyoso: Migrasi
16. Dwi Rahariyoso: Pasar Senthir
17. Dwi Rahariyoso: Di Perpustakaan
18. F. Aziz Manna: Setelah Penyobekan Bendera
19. Ganjar Sudibyo: Aesop Bermimpi tentang Nusantara
20. Ghoz T.E: Dialog Tengah Malam
21. Ghoz T.E: Di Atas Kapal
22. Gunawan Tri Atmojo: Mitos-Mitos Puisi
23. Heru Mulyadi: Amandemen Sumpah Pemuda Pasca Reformasi
24. Hudan Nur: Khunsa di Bukit Kalimantan
25. Jamil Massa: Ratu Angsa
26. Julia Hartini: Lupa Berbahasa Indonesia
27. M. Ardi Kurniawan: Mengundurkan Diri
28. M. Ardi Kurniawan: Pada Suatu Hari
29. Ni Wayan Idayati: Sewaktu Kremasi
30. Raedu Basha: Lagu Sumbang Mayat-mayat
31. Raedu Basha: Di Rembang
32. Rozzaky: Fakta
33. Setia Naka Andrian: Mau Makan Gedung Apa
34. Setia Naka Andrian: Pesta Orang Lapar
35. Thoni Mukarrom: Senja di Pelabuhan Gresik
36. Thoni Mukarrom: Mengunjungi Kotamu
37. Wayan Jengki Sunarta: Di Kedai Kopi Fort Rotterdam
38. Yusran Arifin: De Hospital
39. Zen AR: Panggilan Adzan

Adapun Puisi Pemenang Piala Jendral Polisi Hoegeng diraih Halim Bahriz: “Kamis Lebam dan Tiga Perempuan”.

Pengumuman keputusan bertarikh 27 Oktober 2015 bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan