-->

Peristiwa Toggle

Dibuka di Malam 1 Suro, Goenawan Mohamad Sampaikan Pidato Pekan Raya Buku Frankfurt dengan Cerita Malang Sumirang

FRANKFURT — Seusai Endah Laras menembangkan kuplet-kuplet Suluk Malang Sumirang dari abad 16 di Jawa, Goenawan Mohamad yang menjadi perwakilan sastrawan dan penulis Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di pergelaran Pekan Raya Buku Frankfurt membuka pidatonya dengan saripati kisah Malang Sumirang (13/10).

P1060368 - CopyHari dan waktu pembukaan Pekan Raya Buku Frankfurt, dalam tradisi Islam Jawa, adalah memasuki malam 1 Suro. Dan cerita Malang Sumirang adalah tumbukan dari cerita tentang menulis, kebebasan berpikir, dan ancaman akuisi di antara keyakinan budaya Jawa dan Islam.

Sebelum pidato sambutan Goenawan Mohamad, pada sambutan sebelumnya Presiden Asosiasi Penerbit dan Toko Buku Jerman Heinrich Riethmuller menyampaikan kronik besar pembunuhan dan pengekangan penulis dan jurnalis, mulai dari Meksiko, Paris, Alepo, hingga Suriah.

Menghadirkan Salman Rushdie untuk hadir di Frankfurter Buchmesse, kata Riethmuller, adalah bagian dari perjuangan melawan kekerasan atas kebebasan. “Messe adalah kemping dunia untuk toleransi lewat buku dan sastra selama lima,” kata Riethmuller.

Jika Riethmuller menyebut penulis adalah kerja berisiko dan mereka di dunia yang lain telah menyerahkan hidupnya untuk menjaga dan merawat kebebasan berpendapat, maka suluk Malang Sumirang yang didendangkan Endah Laras menjadi relevan.

Malang Sumirang adalah nama lain dari Sunan Panggung yang dijatuhi hukuman dengan cara dibakar hidup-hidup oleh Raja Demak Bintoro Sultan Trenggono. Itulah puncak perselisihan pendapat dalam beragama di abad 15. Tapi sebelum dibakar, Sunan Panggung meminta syarat, yakni diberi pena dan menulis. Tulisannya jelang menuju api pembakaran itulah yang dikenal dengan Suluk Malang Sumirang.

“Jerman dan Indonesia telah banyak merasakan kekejaman politik dan agama. Dan dengan menulis si terhukum berbalik nasibnya. Kisah Sumirang menulis suluk mengubah yang tak berkuasa bisa menguasai makna dan alegori,” kata Goenawan Mohamad.

Menurut Goenawan Mohamad, Malang Sumirang mengajarkan kita bahwa makna tak bisa dijinakkan, tak mudah diringkus. Kita menulis untuk kesetaraan dan percakapan. Menulis adalah usaha besar menumbuhkan kemerdekaan. (Muhidin M Dahlan dari Pekan Raya Buku Frankfurt)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan