-->

Peristiwa Toggle

Ayu Utami dan Lily Yulianti Farid di Pekan Raya Buku Frankfurt: Dari Semar hingga Bissu

P1060495 - CopyFRANKFURT — Isu seks, tradisi, dan agama menjadi topik pembahasan Ayu Utami dan Lily Yulianti Farid di Paviliun Indonesia di Pekan Raya Buku Frankfurt (15/10).

Dua penulis sastra ini berangkat dari akar kebudayaan berbeda. Ayu Utami lahir di Jawa dan besar di kota metropolitan Jakarta. Sementara Lily Yulianti tumbuh bersama budaya bugis di Makassar, Sulawesi Selatan.

Dari budaya Jawa, Ayu menemukan sosok Semar yang menurutnya “beyond”. Gendernya laki-laki tapi memiliki payudara. Dari situ kemudian Ayu memahami kode-kode budaya yang maju melihat motif dan kcenderungan seksualitas yang tidak tunggal.

“Pandangan tunggal melihat seksual berdampak pada demonisasi perempuan. Semakin misterius seks, semakin dikontrol oleh kekuasaan,” kata pengarang buku Saman ini. Buku ini hak ciptanya telah dibeli penerbit dalam bahasa Belanda, Inggris, Italia, Perancis, Ceko, Jerman, Korea, dan Ethiopia.

Ayu lalu bercerita bagaimana sejak kecil ia mengenal kata “WTS” yang dipakai para pejabat hanya untuk menghaluskan istilah pelacur yang dianggap kasar. Bahkan kamus Purwodarminta, kata orgasme diartikan sebagai kemarahan dan orgy diringkus artinya menjadi ritus keagamaan.

“Saya menulis Saman dengan bahasa seks yang verbal karena ingin mengembalikan makna-makna tabu dalam kata-kata itu ke porsinya,” tutur Ayu.

Bissu dan Empat Gender

Di Makassar di mana Lily Yulianti lahir dan tumbuh dikenal empat gender yang hidup berdampingan tanpa prasangka. Selain gender pertama (perempuan) dan kedua (laki-laki), tradisi Bugis juga mengenal gender gender ketiga, yakni adalah calabai (perempuan palsu, bencong); serta gender keempat, calalai, pria palsu.

Bissu yang merupakan pemimpin upacara tidak diambil dari gender pertama (perempuan, makkunrai) dan gender kedua (laki-laki, burane), tapi justru dari gender ambivalen ini. Bissu dipercayai bisa menghubungkan percakapan antara Dunia Atas dan dunia manusia.

Menurut Lily, posisi bissu mengemuka kembali berkat usaha gigih Robert Wilson mementaskan La Galigo di panggung-panggung dunia sejak 2004. Padahal, sebelumnya dunia bissu hanya dibahas di wilayah-wilayah akademis.

Posisi bissu yang keramat dalam tradisi itu yang membuat Lily yakin kita bisa membicarakan seksualitas dengan cara lebih rileks tanpa prasangka. Padahal di Sulawesi Selatan mayoritas masyarakatnya beragama Islam dan radikalisasi keagamaan menguat. “Tidak ada resistensi pada bissu. Kalau hari Jumat bissu menjadi laki-laki biasa yang berangkat salat. Bahkan ada naik haji. Tapi jika menjalankan peran adat, sisi perempuannya yang muncul,” jelas penulis buku cerita “Ruang Keluarga” ini.

Berkaca pada posisi bissu yang ambivalen dan hadir dalam percakapan yang rileks dalam budaya meyakinkan Lily bahwa keragaman adalah modal utama menjadi Indonesia.

Begitu pula Ayu Utami melihat perbedaan dalam melihat gender dan seksualitas untuk tak perlu dirumuskan, melainkan diterima. (Muhidin M Dahlan dari Pekan Raya Buku Frankfurt)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan