-->

Peristiwa Toggle

Ahmad Tohari di Pekan Raya Buku Frankfurt: “Bahasa Banyumas Hilang, Ronggeng Ikut Hilang”

P1060432 - CopyFRANKFURT – “70 persen orang Indonesia itu tinggal di desa,” kata Ahmad Tohari di Paviliun Indonesia, Pekan Raya Buku Frankfurt, Frankfurt Am Main (14/10). Oleh karena itulah Ahmad Tohari lebih nyaman menjadi orang desa.

Penulis buku “Ronggeng Dukuh Paruk” ini mengatakan untuk orang di luar Indonesia yang ingin mengetahui tentang desa, bacalah buku-bukunya. “Saya pengarang dari desa yang mencintai desa, dan menggali inspirasi cerita dari pengalaman hidup di desa,” kisah pengarang kelahiran Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah pada 13 Juni 1948 ini.

Ronggeng, misalnya, adalah budaya desa di mana Tohari tinggal. Ronggeng adalah “pesta desa” yang diselenggarakan sesudah panen atau ketika ada hajatan di kampung seperti sunatan.

Dunia ronggeng yang turut dalam pemusnahan orang-orang komunis tahun 1965 yang ditulis Tohari ini juga menjadi pengetahuan sendiri bagaimana kekerasan budaya dan budaya kekerasan berlangsung di desa. “Saya menulis bagian kekerasan terhadap komunisme itu di ‘Ronggeng’ bukan untuk berpihak pada kelompok tertentu, tapi pada kemanusiaan. Manusia jangan dibunuh. Ronggeng dibunuh dan diperlakukan dengan kejam lewat penyiksaan. Saya tidak rela mereka dibegitukan,” tutur Tohari.

Saat ini ronggeng tak lagi milik petani desa, tapi milik pedagang kesenian. Dalam hal ini pemerintah diminta secara khusus Tohari untuk tak hanya ‘nguri-nguri’ Ronggeng, tapi juga mengaktualisasikannya kembali.

Salah satu caranya, hidupkan bahasa daerah. Dalam hal ini bahasa Banyumas yang menjadi lidah ibu budaya ini. Jika bahasa Banyumas hilang, ronggeng ikut hilang.

Pegetahuan tentang Ronggeng sudah dikenal publik internasional lewat jalan kepengarangan Ahmad Tohari. Ia menjadi jembatan percakapan budaya Banyumas dengan dunia internasional lewat cerita Ronggeng.

P1060461 - CopyDi Pekan Raya Buku Frankfurt, karya-karya Tohari yang sudah diterjemahkan ke bahasa asing, terutama Inggris, antara lain Ronggeng Dukuh Paruk/ Sang Penari (Indonesia: Gramedia; Inggris: Lontar Foundation); Di Kaki Bukit Cibalak (Indonesia: Gramedia, diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan bantuan hibah penerjemahan dari pemerintah); Bekisar Merah (Indonesia: Gramedia, diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan bantuan hibah penerjemahan dari pemerintah. Hak cipta sudah dibeli Dalang Pulishing); Kubah (Indonesia: Gramedia; hak cipta sudah dibeli penerbit berbahasa Jepang dan Spanyol); Senyum Karyamin (Indonesia: Gramedia, diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan bantuan hibah penerjemahan dari pemerintah); dan Mata Yang Enak Dipandang (Indonesia: Gramedia, diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan bantuan hibah penerjemahan dari pemerintah). (Muhidin M Dahlan dari Pekan Raya Buku Frankfurt)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan