-->

Agenda & Donasi Toggle

Press Release Kampung Buku Jogja | 8-10 Oktober 2015

 

12009644_10200870582484218_3065783125232487211_n

 

Acara: Kampung Buku Jogja

Tempat: Foodpark UGM

Waktu: 8-10 Oktober 2015

Pkl. 11.00-21.00 WIB

 

Hari ini pasar buku secara umum sedang mengalami kemandegan. Toko-toko buku berguguran karena tak kuat menangkis penurunan tingkat kunjungan dan pembelian oleh konsumen. Hal ini antara lain dapat dilihat pada peristiwa tutupnya sejumlah toko buku.

Yang menarik, realitas mutakhir perniagaan buku di pasar umum itu direspons berbeda oleh sebagian kalangan pekerja buku di Yogyakarta. Orang-orang lama yang dulu menerbitkan “buku-buku berat” kembali ke jalur produksi. Alasannya antara lain permintaan yang tinggi di ranah online dan toko-toko buku non-jaringan. Di sisi lain, sejumlah penerbit yang bermodal kuat menerbitkan buku-buku serupa dalam volume besar dan menggelontorkannya ke toko-toko buku besar. Sepertinya ada pemahaman yang sama bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk memunculkan kembali “buku-buku berat”.

Ada sejumlah hal berbeda dari pergerakan “buku berat” di Yogyakarta sekarang dibanding periode awal 2000-an, setidaknya berdasarkan pola pikir dan tindakan para pekerja buku generasi terbaru itu (yang ternyata diikuti oleh generasi sebelumnya). Pertama, ceruk pasar “buku berat” tidak pernah mati. Kedua, memindahkan “medan pertempuran” dari pasar buku umum (toko buku jaringan) ke pasar buku online dan pasar buku alternatif (pusat buku bekas, komunitas, bazaar/pameran). Ketiga, memangkas jalur panjang distribusi buku yang berbiaya tinggi. Keempat, memperbaiki kualitas isi buku.

Praktik atas kesadaran bahwa ceruk pasar “buku berat” selalu hidup adalah dengan melakukan produksi secara terukur dan terbatas (limited edition). Artinya, oplah cetak buku-buku itu disesuaikan dengan jumlah konsumen yang akan membelinya. Teknologi Print-On-Demand (POD) dan cetak offset terbatas cukup mampu menjadi pendukung cara tersebut. Jumlah konsumen pun terukur karena penerbit melakukan sistem pre-order untuk setiap buku yang hendak diproduksi. Dalam konteks ini oplah awal produksi dan oplah cetak ulang sebuah buku bisa berbeda tergantung jumlah konsumen yang ingin membelinya, bukan berdasarkan perkiraan jumlah toko buku yang membutuhkannya.

Sebagian penerbit di Yogyakarta, terutama yang menerbitkan “buku berat”, sadar bahwa regulasi toko buku jaringan terbesar di Indonesia cukup menyulitkan hadirnya produk-produk mereka di sana. Ketatnya aturan dan pendeknya masa pajang (display) di sana membuat para penerbit itu enggan memaksakan diri. Dari berbagai eksperimen, rupanya pasar online dan pasar buku alternatif cukup mampu menyerap buku-buku tersebut. Hal ini yang antara lain tampak dari kesuksesan penjualan via social media, juga acara-acara semisal Pasar Buku Indie 2014 dan Pesta Buku Jogja 2015.

KAMPUNG BUKU JOGJA merupakan kegiatan perbukuan yang melampaui kesan “transaksi buku” seperti yang terasa dalam pameran-pameran buku yang sudah ada. Kegiatan yang kami selenggarakan ini bukan hanya ruang dan tempat pertemuan buku dan pembelinya. Kegiatan ini bukan sekadar ajang menjual dan membeli buku lalu selesai begitu saja.

Dalam kegiatan ini, para penyuka buku akan bertemu dengan teman-temannya yang sama-sama menyukai buku. Ini adalah ruang dan waktu “bertemunya buku dan dirimu”.

Substansi dari istilah “kampung” di Nusantara adalah “sebuah tempat yang dirindukan” sebagai “tempat kembali”. Entah kembali untuk sekadar melepas lelah dan rindu dari sebuah perjalanan, atau, lebih mendalam, yaitu kembali untuk menemukan jati diri setelah terombang-ambing dari perantauan identitas. Mungkin itulah yang menyebabkan “pulang kampung” atau “mudik” menjadi sebuah momen yang dirindukan.

KAMPUNG BUKU JOGJA menjadi tempat melepas rindu para penyuka buku atas buku-buku berkualitas yang selama ini tidak cukup tersedia di jaringan toko buku. Di acara ini mereka akan mendapatkan buku-buku tersebut, baik yang baru, lama, langka, maupun indie.

Acara ini juga bertujuan menjadi tempat kembali bagi insan perbukuan dari jenuhnya perantauan. Mereka rindu menemukan identitas dirinya kembali. Di ajang inilah insan perbukuan yang berada di ranah mayor, minor (indie), reguler, alternatif, online, komunitas, dan lain-lain akan bersama-sama berkumpul melepas kerinduan.

Dua tujuan tersebut bermuara pada sebuah kesimpulan: acara ini menjadi tempat kembalinya buku pada asalnya atau identitasnya. Semoga perubahan zaman yang tak bisa dihindari dan meninggalkan jejak-jejak kegagapan di dunia buku dapat diatasi setelah insan buku bersedia kembali “pulang kampung” demi menemukan kebersahajaan, kejujuran, dan kemerdekaan.

Peserta kegiatan KAMPUNG BUKU JOGJA adalah: penerbit buku di Jogja dan luar Jogja, toko buku online dan toko buku alternatif, kolektor buku langka, dan penerbit buku indie di Jogja dan di luar Jogja. Sedangkan acara pendukung dalam kegiatan ini merupakan pengemasan atas esensi bertemunya anggota komunitas berupa pertunjukan sastra, gathering toko buku online se-Indonesia, bedah konten buku, workshop produksi buku, sarasehan buku indie, talk show dunia buku Jogja, lelang buku langka, diskusi buku di media baru (new media), dan pertunjukan music.

KAMPUNG BUKU JOGJA diselenggarakan oleh Komunitas Kampung Buku Jogja (KKBJ). Adapun Tim Kerja Kampung Buku Jogja terdiri dari:

Koordinator Kampung Buku              : Arif Abdulrakhim dan Adhe

Koordinator Buku Reguler                 : Adhe

Koordinator Buku Lawas/Langka      : Wijaya Kusuma Eka Putra

Koordinator Buku Indie                     : Irwan Bajang

Promosi Online                                   : Irwan Bajang dan Tim

Kesekretariatan                                   : Rere

Keuangan                                            : Wijaya Kusuma Eka Putra

 

Komunitas Kampung Buku Jogja beralamat di Taman Kuliner K-52 Condongcatur Depok Sleman. Adapun narahubung penyelenggara KAMPUNG BUKU JOGJA adalah: Arif Abdulrakhim (08121551801, 79F42768), Adhe (087839297524, 323C0C8F), WK Eka Putra (085796087931, 7474A41B), dan Irwan Bajang (081927595022, 54A5C7DD).

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan