-->

23Tweets Toggle

Buku Pertamaku | Aka Kurnia SF | Sumbawa

Aka Kurnia Sanjaya Farhan, lahir di Sumbawa, 26 September 1975. Kecil dan sekolah di Sumbawa dari SD di MI Muhammadiyah di Utan, Sumbawa. Sekolah Menengah Pertama di Utan satu tahun, kemudian pindah ke Pondok Pesantren Assalam, Solo. Kepindahan ke Solo membuat Aka kaget karena peraturan dan kedisipilinan yang jauh berbeda ketika ia di Sumbawa. Aka keluar tidak kuat, mau pulang ke Sumbawa malu. Aka kemudian sekolah aliyah di IAIN, waktu itu ada sekolah laboratorium di sana. Aka berencana masuk kuliah di ISI, tapi tidak keterima. Orang tuanya juga kurang setuju ia masuk ISI. Ia sebenarnya terterima di Arsitektur, YKPN, orang tua telat bayar uang maka ia gagal masuk. Ia kemudian masuk UMY, di Fakultas Ilmu Agama jurusan Dakwah. Di kampus, Aka sibuk dengan organisasi-organisasi kampus salah satunya LPM (Lembaga Penerbitan Mahasiswa), nama tabloidnya Nuansa. Sejak saat itu ia mengenal dunia jurnalistik kemudian fotografi.

Booklovers, berikut #23tweets cerita Aka Kurnia.

1 Aka Kurnia Sanjaya Farhan, lahir di Sumbawa, 26 September 1975. Kecil dan sekolah di Sumbawa dari SD, MI Muhammadiyah di Utan, Sumbawa.

2 SMP di Utan satu tahun, kemudian ke Pondok Pesantren Assalam, Solo karena Bapaknya ingin ia sekolah yang jauh. Kepindahan ke Solo membuat Aka kaget karena peraturan dan kedisipilinan yang jauh berbeda dari Sumbawa.

3 Aka keluar tidak kuat, mau pulang ke Sumbawa malu. Aka kemudian sekolah aliyah di IAIN, waktu itu ada sekolah laboratorium di sana.

4 Aka berencana masuk kuliah di ISI Yogyakarta, tapi tidak diterima. Orang tuanya juga kurang setuju ia masuk ISI. Ia sebenarnya terterima di Arsitektur, YKPN, orang tua telat bayar uang maka ia gagal masuk.

5 Ia kemudian masuk UMY, di Fakultas Ilmu Agama jurusan Dakwah. Di kampus, Aka sibuk dengan organisasi-organisasi kampus salah satunya LPM (Lembaga Penerbitan Mahasiswa), nama tabloidnya Nuansa.

6 Ia pernah ikut diklat jurnalistik tahun 1996 yg digelar BEM UMY. Sejak itu, Aka Kurnia mulai suka dunia jurnalistik.

7 Banyak kegiatan di kampus juga membantu kekurangan ekonominya, ia banyak dapet konsumsi. Aka adalah anak pertama dari lima bersaudara, keempat adiknya semuanya wanita. Ia harus sadar diri ketika kiriman orang tua tak menyukupi kebutuhannya.

8 Saat itu, di UMY ada Jurnal Inovasi yang dikelola oleh Lembaga Penelitian yang diketuai oleh Amin Rais, Pimpinan Redaksinya Said Tuhuleley, dan wakilnya Haidar Nasir.

9 Aka Kurnia magang di jurnal tersebut, ia belajar jadi editor, reporter untuk beberapa edisi. Ia kemudian menjadi staf redaksi untuk jurnal Inovasi.

10 Ia kemudian semakin rutin menulis dan menggeluti jurnalistik. Dalam pengalamannya tersebut ada hal yang sangat mempengaruhi hidupnya kini yakni ketika ia meliput masyarakat pedalaman di Sumbawa, di Pegunungan Tepal. Ia baru kenal fotografi waktu itu, ia membawa kamera pinjaman SLR.

11 Satu rolnya rusak, ia malu sekali ketika sampai Jogja hanya satu rol fotonya yang bisa dicetak. Sejak saat itu ia bertekat belajar forografi.

12 Sejak saat itu hingga kini ia jadi fotografer, ia selalu membawa kamera kemana-mana. Sejak di Tepal, ia kemudian jadi fotografer tetap di Jurnal Inovasi.

13 Ketika LP3M UMY bekerjasama dengan Diknas membuat majalah Gerbang, sebuah majalah pendidikan untuk anak-anak SMA yang dibagikan gratis di seluruh Indonesia, Aka tergabung dalam majalah tersebut.

14 Ia kemudian kerap keliling Indonesia untuk melakukan liputan. Aka kemudian masuk Akademi Design di MSD selama satu tahun.

15 Dalam kuliah tersebut ada mata kuliah fotografi dasar dan lanjutan. Di kampus itulah ia banyak ketemu fotografer-fotografer terkenal. Ia tergabung dalam HISFA (Himpunan Seni Foto Amatair Yogjakarta), merupakan lembaga tertua kelompok fotografer di Yogjakarta.

16 Sejak itu, kemampuan fotografinya bertambah dan fotonya mulai dikenal. Ia kemudian terlibat dalam pembuatan beberapa Ensiklopedia.

17 Pertama, ia terlibat dalam pembuatan Ensiklopedia Pamekasan yang dibuat UGM dengan Pemda Pamekasan. Ia keliling Pamekasan dengan Buldan Al Khuri, si mantan pemilik Bentang.

18 Kedua, Ensiklopedia Muhammadiyah. Ia berperan sebagai fotografer utama, ia keliling Indonesia untuk motret peristiwa-peristiwa Muhammadiyah.

19 Ia juga terlibat dalam pembuatan Ensiklopedia NU. 2010 Aka Kurnia pindah ke Lombok bersama istrinya selama 2 tahun. Tahun 2012, Sumabawa membuka Universitas Teknologi Sumbawa. Ia terlibat dalam membuat logo universitas tersebut. Ia kemudian menjadi Ketua Program Studi di Komunitas, Universitas Teknologi Sumbawa. Tahun 2014, ia kuliah IKJ mengambil magister Pencintraan Seni dan Budaya Urban.

20 Waktu kecil, Bapaknya punya buku “100 Tokoh” yang berisi 100 tokoh paling berpengaruh di dunia. Buku itu banyak berpengaruh untuknya.

21 Kemudian ketika di pondok ia membaca buku “Muhammad” karya Haekal. Ia pernah beli buku “Sketsa Henk Ngantung” di shopping, Yogyakarta. Ia suka pada sketsa-sketsa Henk Ngantung, mantan gubernur DKI Jakarta pada masa Soekarno.

22 Salah satu favorit Aka lain yaitu “Kisah Mata” karya Seno Gumira Ajodarma. “Design Grafis” karya Priyanto Sunarto juga jadi kesukaannya.

23 Menurut Aka, buku adalah teman berdialog. Apa yang tak ia ketahui, ia mendapat pengetahuan dari buku tersebut.Mahasiswa Sumbawa itu tertarik baca buku, tapi di sana sangat jarang toko buku. Hanya ada satu atau dua kios buku. Kebanyakan mahasiswa Sumbawa membeli buku secara online.

Sekian obrolan Buku Pertamaku bersama Aka Kurnia. Sampai jumpa di program lain. Salam literasi!

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan