-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Angkringan Buku – Mikke Susanto | Yogyakarta

Mikke Susanto adalah staf pengajar seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia adalah kurator, penulis, dan dokumentator seni independen di Diksi Art Laboratory, Godean, Yogyakarta. Beberapa buku tentang seni telah lahir dari tangannya, antara lain “Diksi Rupa” dan “Bung Sukarno, Kolektor & Patron Seni Rupa Indonesia”.

1 Mikke Susanto lahir dan besar di Jember pesisir Selatan. Tepatnya Desa Kencong. Perbatasan antara Jember dan Lumajang. Hidup dalam budaya separuh-separuh; separuh Jawa separuh Madura; separuh Islam separuh Barat. Namanya adalah perpaduan dari itu.

2 Mikke yang anak ke-8 dari 8 bersaudara heran dengan namanya. Padahal ayah petani, ibu pedagang kelontong.

3 Mikke ke Jogja dan sekolah di ASRI didorong keinginan untuk jadi pelukis. Masuk tahun 1993 dan sarjana 1997. Dua tahun bekerja di IVAA sebagai dokumentator seni, dua tahun mengajar di perguruan tinggi swasta, sebelum menjadi pengajar seni di ISI.

4 Mula-mula bacaan seni Mikke adalah koran. Kliping adalah arena pertama Mikke membaca seni dan mulai bagaimana menulis seni secara populer. Dan ada tiga nama yang kerap menjadi nama beken di lembar koran itu: M Dwi marianto, Suwarno Wisetrotomo, Heri Prabowo.

5 Sejak SMA, Mikke punya kebiasaan mengumpul dan mengkliping hal-ihwal seni rupa.

6 Menghidupkan kultur pendokumentasian yang dianyam dari pengalaman, Mikke mendirikan Diksi Art Lab. Mencari, menyimpan, memanfaatkan, dan membagi arsip-arsip seni rupa.

7 Buku “Diksi Rupa” disusun Mikke bertujuan agar orang tahu konsep penting dalam seni rupa dan mendapatkan frase itu dalam waktu cepat.

8 Referensi awal Mikke untuk “Diksi Rupa” adalah Dictionary Art. Tapi buku ini mahal dan tak mudah dijangkau orang banyak. Mikke pun memutuskan untuk menyusunnya yang disesuaikan dengan perkembangan seni rupa di Indonesia.

9 Buku “Diksi Rupa” terbit pada 2001 dengan 500 entri yang dikerjakan selama lebih kurang 2 tahun. Pada 2011, “Diksi Rupa” memasuki revisi kedua dengan jumlah entri 2800 yang dikerjakan selama 7 tahun.

10 Mikke memberi judul bukunya “Diksi Rupa” karena kitab ini berada di tengah-tengah antara kamus dan ensiklopedia.

11 Pada 2009, Mikke terlibat dalam pengelolaan lukisan-lukisan di Puri Reratama. Maklum, puri yang dibangun Ibu Tien Soeharto oleh Presiden SBY dijadikan kantor. Perintah SBY: 16 ribu item karya seni yang ada di Puri jangan ditaruh di Istana yang ada di Jakarta.

12 Keterlibatan sebagai konsultan kurator itulah yang menjadi satu-dua ketertarikan Mikke Susanto pada karya-karya seni Istana Negara. Ragam cerita seni itu yang menuntunnya menjadikan topik Seni Rupa Istana itu menjadi karya tesis untuk pascasarjana. Hasilnya adalah buku “Bung Sukarno, Kolektor & Patron Seni Rupa Indonesia” (2014).

13 Ada 24 seniman yang dekat dengan Sukarno menghasilkan cerita-cerita yang hidup. Menghasilkan 500-an halaman dan mendapatkan predikat cumlaude di UGM.

14 Buku yang berasal dari tesis Mikke itu kemudian diterbitkan Yayasan Bung Karno, Jakarta.

15 Buku yang mempengaruhi benak Mikke adalah novel karya-karya Fredy S, SP Chandra (Manusia Harimau), Agatha Christy, dan Goenawan Mohamad (Sajak-sajak Lengkap, 1961-2001)

16 Buku Sanento Yuliman, “Dua Senirupa”, menginspirasi Mikke dalam penulisan esei-esei seni rupa. Bersama Jim Supangkat dkk, melahirkan ide Gerakan Seni Rupa Baru 1974.

17 Buku “Lukisan-Lukisan Koleksi Ir. Dr. Sukarno, Presiden Republik Indonesia” yang dikompilasi Dullah sangat mempengaruhi Mikke. Buku seukuran koran itu, 30 x 45 cm, terdiri dari empat jilid yang berisi koleksi-koleksi lukisan yang dimiliki Bung Karno.

18 Buku “Koleksi Bung Karno” ini dilihat pertamakali Mikke kelas 2 SMP di kampungnya. Pemiliknya seorang petani kaya raya.

19 Buku collector item ini diterbitkan secara mewah oleh Pustaka Kesenian Rakjat, Peking, Republik Rakyat Tiongkok, 1956 (Jilid I & II), 1961 (Jilid III & IV). Buku ini termasuk buku langka. Harganya setara dengan beli vespa kontemporer.

20 Sukarno secara demonstratif mengoleksi karya-karya seniman berbakat Indonesia, seperti terlihat di Jilid II dan IV. Nama-nama seniman itu antara lain Affandi, Agus Djaja, Alimin, Amrus Natalsja, Arie Smit, Barli, Basuki Abdullah, Batara Lubis, D. Dan, Dullah, Ernest Dezentje, Gambira Anom, Han Snel, Harijadi, Hendra, Henk Ngantung, Herbert Hutagalung, Joes Soepadjo, Juski, Karyono Js, M Kinsen, M. Pirngadie, Nurdin, Omar YH, Otto Djaja, Rustamadji, S Sudjojono, S Sutiksna, S Tjokrohandojo, S Tutur, S. Kerton, Subanto, Sudarso, Sudjono Abdullah, Sularko, Sunarto, Surono, Trubus S, Wakidi, maupun Wisade.

21 Buku ini membuktikan bagaimana Sukarno benar-benar menjadi kolektor dan sekaligus patron seni rupa Indonesia. Bangga ya karya seni justru yang jadi kolektornya adalah Bapak Presiden sendiri. Senang tentu saja.

22 Komik Teguh Santosa masuk dalam lingkar bacaan yang mempengaruhi Mikke. Dan tentu saja Asmaraman Kho Ping Hoo.

23 Seniman terkini mestilah juga berlaku seperti sejarawan. Buku bisa menjadi medium efektif bagi seniman untuk menjadikan karya-karyanya jauh lebih bermakna ketimbang sekadar bersandar semata pada fantasi semata.

Demikian Program Angkringan Buku bersama kurator dan penulis seni Mikke Susanto. Sampai jumpa di program Radio Buku berikutnya.  Mendengarkan Buku Membuka Cakrawala, streaming on radiobuku.com

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan