-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Katalog Seni – Laras Sinawang (Arsita Pinandita) | Yogyakarta

Pameran Perupa Muda (Paperu) FKY 27 telah berakhir memang. Tapi terbitnya katalog “Laras Sinawang” bisa memperpanjang perbincangan tentangnya. Jejak pameran yang diselenggarakan di Sasono Hinggil Dwi Abad Alun-Alun Selatan Yogyakarta selama sepuluh hari, 25-31 Agustus 2015 itu bisa dibaca dan diwacanakan kembali, terutama melihat potret karya-karya perupa muda terkini.

Arsita Anindita atau akrab disapa Dito @dito_vietnam bercerita pengalamannya menata jalannya pameran itu. Latar bermusiknya yang bermazhab “Metal Karoke” dan pendidikan seninya berbasis Desain Visual menarik untuk disimak.

Arsita Pindandita

1 Arsita Pinandita lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) ISI Yogyakarta pada 2009 dan berlanjut pascasarjana 2013. Saat ini mengajar di almamaternya.

2 Pada 2003 membuat grup musik. Namanya Nokia Pom-Pom Boys. Band ini ada saat ringtone merajelela. Seperti mp3, ringtone ini musiknya midi, aneh. Ringtone memancing gelegak musik dalam jiwa Dito. Memutar lagu karoke dengan menggunakan ringtone Nokia.

3 Dua tahun vakum, Dito mengajak Oka Ahmad. Terbentuklah Cangkang Serigala pada 2006. Masih konsisten memakai ringtone midi. Gado-gado musiknya, tergantung permintaan. Baru pada 2012 gitar akustik masuk dalam dunia Cangkang Serigala. Nama yang diberikan secara asal saja oleh Ican. Salah satu personel paling muda dan paling akhir masuk. Cangkang Serigala kini sudah meluncurkan dua EP dan satu single.

4 Aktivitas musik Cangkang Serigala selalu berdempet dengan aktivitas seni rupa. Wajar, personelnya adalah para perupa. Bermusik di panggung, tapi peka dengan persoalan visual; zine, desain, cover album, dan bahkan melukis bersama, menyanyi bersama.

5 Mengombinasikan akitivitas bermusik dan seni rupa bukan perkara gampang. Dan terbukti, walau punya band, mengeluarkan EP, single, justru tak ada tempat di musik. Lebih punya tempat di seni rupa. Mungkin musik adalah hobi, rezeki di seni rupa. Musik yang dimainkan macam Cangkang Serigala adalah produksi visual. Setiap album keluar, yang dibahas malah karya seninya, seperti yang membikin sampul, desain zine, dan seterusnya.

6 Buku katalog “Laras Sinawang” terbit sebagai refleksi atas pelaksanaan FKY 27 di bidang seni rupa. Pameran ini, sesuai namanya, Pameran Perupa Muda (Paperu), diikuti 30 seniman muda dan 10 perupa undangan yang sudah berumur. Berlangsung di “tempat angker” tapi warisan bersejarah, Sasono Hinggil Dwi Abad, Alun-Alun Kidul, Keraton, Yogyakarta.

7 Tema Paperu FKY 27 adalah “Laras Sinawang”. Laras artinya artinya selaras/harmoni. Nama “Laras” diambil Dito dari nama ibunya yang bisa menyelaraskan keluarga dari pelbagai suku dan daerah. Bu Laras dari Jogja; sementara ayah Dito berasal Palembang.

8 Dandan yang jadi tema besar FKY 27, di Paperu, bukan dimaknai merias, bersolek, merefleksikan diri. Sinawang, melihat dan berkaca pada sekitar. Dandan, sinawang, adalah keselarasan dari lama dan baru, dari masa lalu dan masa sekarang.

9 Dito dibantu M Hadid dalam mengurasi Paperu FKY 27. Dito mengelola karya dan seniman, sementara Hadid di bidang penulisan. Dari 212 aplikasi karya yang masuk dari perupa muda, seleksi akhir berjumlah 175, dan diminimkan lagi menjadi 30 peserta.

10 Jika open app terdiri dari perupa muda, maka peserta undangan Paperu FKY 27 adalah  perupa berpengalaman, tapi terpinggirkan dalam arus besar seni rupa terkini. Keduanya diharapkan saling berbagi pengalaman, saling wang sinawang. Yang tua bisa melihat yang muda; si muda bisa menimba dari pengalaman yang tua.

11 Sebut saja perupa tua Ardi Puji Wahono yang sambil jual bensin/pulsa/rokok, tapi tetap melukis. Semangat berkarya tetap menyala, walau peta pasar seni terkini tak menjangkaunya. Mereka perupa biasa, terpinggirkan, tapi soal berkarya tetap ngeyel.

12 Perupa muda, belajarlah pada Pak Subroto SM (l. 1946). Siapa dia? Pasti geleng-geleng kepala. Tapi sosok inilah yang membuat logo ISI Yogyakarta. Peta pasar seni rupa melupakannya, tapi rapopo. Mereka tetap nyetor karya-karya terkini. Artinya, angkatan tua ini tetap bekerja. Sebab berkesenian adalah profesi, ya harus dijalani.

13 Perupa muda, sowanlah kapan-kapan ke rumah perupa-perupa tua, tapi ngeyel bekerja ini: Ali Umar, Syahrizal Pahlevi, Widodo Djiancuk, Teguh Paino, Didi “Painsugar” Suryawan, Mahdi Abdulah, dan Otok Bima Sidharta.

14 Tim penyeleksi karya terdiri dari pribadi-pribadi dari pelbagai jurusan keahlian. Selain perupa Stefan Buana, tim seleksi terdiri dari musisi/pencipta lagu, arsitek dan pengamat ruang publik, dan kurator. Keragaman ini menciptakan wacana, sinawang.

15 Greg Wuryanto adalah arsitek lulusan Berlin ikut terlibat untuk melihat lebih dalam karya seni yang bagaimana yang ditempatkan di ruang publik, terutama okupasi seniman semena-mena di ruang-ruang publik.

16 Sosok berpengaruh di Sheila On Seven/SO7, Eross Chandra, digaet untuk ikut berpartisipasi. Eross adalah pencipta lirik lagu dan sekaligus bandnya ini selalu memperhatikan art work dan melibatkan perupa dalam penggarapan sampul-sampul albumnya, seperti @indieguerillas. Kurator Biennale Jogja XIII juga pernah terlibat sebagai art director dalam penggarapan album S07. Bagi S07, seni visual bagian penting dari keutuhan sebuah album.

17 Karena Paperu FKY 27 adalah semangat anak muda, maka melibatkan kurator yang konsens dengan isu youth culture menjadi perlu. Gintani Swastika dari ‘AceHouse Collective menjadi pilihan. Kelompok ini konsisten hadir di setiap ajang-ajang kreativitas kalangan muda, seperti fesyen, cutting edge, musik, seni visual. Kintani juga sedang menginisiasi biennale anak muda bernama, Kaleidoskop.

18 Stefan Buana diminta bergabung menjadi tim seleksi lantaran “Barak Seni”-nya menjadi studio terbuka untuk perupa-perupa muda belajar bagaimana menapaki dunia seniman senyatanya. Namanya saja, Barak, menjadi penggojlokan mental seniman muda dalam berkarya. Jangan lembek deh kalau jadi seniman. Tetap garang!

19 Diskusi seni Paperu berlangsung dua hari, dua wacana. Di hari pertama bertajuk Orang Biasa dalam Seni. Menghadirkan cerita orang biasa dalam arus perbincangan menjadi kecenderungan terkini? Anda orang biasa dari semesta sekitar, untuk kalangan Andalah sejarah terkini bergerak. Tapi tetap sinawang, selaras dan waspada. Diskusi “Orang Biasa” menghadirkan komikus “Harimau dari Madiun” Aji Prasetyo; Karina Rima Melati yang membawa batik sebagai isu sosial di mana buruh batik tak mendapatkan hak layak; dan Falencia Hutabarat yang melihat band cadas macam Burger Kill lahir dari sebuah kawasan yang sangat jauh dari jangkauan kota bernama Ujung Berung.

20 Di Hari Kedua diskusi Paperu FKY 27 menghadirkan tema “Ruang Publik” sebagai respons kegelisahan perupa terhadap karya-karya yang tampil di trotoar utama semacam Maliboro. Kuss Indarto, Timbul Raharjo, dan Iman Budhi Santosa dihadirkan untuk duduk bersama menjelaskan duduk soal okupasi (karya) seniman di ruang publik yang diributkan di media sosial. Pertanyaan besarnya: karya seni macam apa yang elegan untuk ditampilkan di ruang publik, di ruang mana sebuah karya cocok. Jadi bukan asal bawa dari studio dan ditempatkan di trotoar; apalagi dalam waktu yang lama.

21 Paperu juga menggelar Lokakarya Seni di lima titik untuk memperkenalkan jenis seni rupa kepada publik tertentu dengan jumlah peserta terbatas, seperti lokakarya sketsa di pesantren dengan menghadirkan Widodo Djiancuk untuk sinawang bersama. Widodo Djiancuk berbagi pengalaman sebagai seniman sketsa yang art project-nya yang terkenal adalah Ngasong Art Mobile, jualan sketsa dengan bus dalam perjalanan Jawa Tengah hingga Bali.

22 Lokakarya Siasat menghadirkan seniman grafis terkemuka Syahrizal Pahlevi di belakang penjara Surokarsan yang terancam dibongkar dan digantikan hotel. Penduduk sekitar yang terdampak berkarya bersama Pahlevi. Lokakarya Wayang Kertas diasuh Teguh Paino dan tim. Sementara Wayang Spon mengajak salah satu sanggar anak di Imogiri. Dan terakhir Lokakarya Demarkasi (Ilustrasi) menghhadirkan Farid Stevy dari FSTVLS berbagi pengalaman dan skill di Galeri Nyai Ontosoroh, IKAPI DIY.

23 Bacaan berpengaruh bagi Dito bukan berformat buku, melainkan zine. Antara lain, (1) Brainwashed dari Jakarta pada era 90-an. Dibuat Nino, vokalis band Trauma. Brainwashed mengantarkan Dito maju sebagai seorang metal dan punk; (2) Reigan, majalah life style keren dengan desain yang ngawur. Hurufnya kecil. Artikelnya juga nggak genah. David Carson, si pembikin, adalah aktivis posmodernisme di era gruns; (3) Trolley, dari Indonesia. Jika kamu suka “hai!”, nah Trolley kerennya dahsyat. Dibikin dari Bandung oleh David Tarigan cs di tahun 90-an yang lingkup belajarnya di kota-kota Eropa dan Amerika. Internet belum membudaya seperti saat ini; (4) Ripple, kelanjutan dari Trolley. Tak ada dua zine ini, tak ada zine-zine D.I.Y. di lingkup subkultur anak muda. Kemunculan distro, bikin kaos, art work, sejarah distribusi kaset di lingkup indie, melawan MTV, mesti melihat sejarah subkultur zine Trolley dan Ripple; (5) Kolektif Sudirman, zine yang dibuat Dito. Hanya sekali terbit. Bacaan bisa menjadi referensi, tapi tidak semua bacaan adalah referensi. Dengan bacaan kita bisa melihat sesuatu, tapi referensi bisa disimpan dan menjadi bank pengetahuan. Itulah cara Arsita Pinandita melihat semesta bacaan.

Demikian Program “Katalog Seni” kali ini. Sampai jumpa di program selanjutnya. Radio Buku, Mendengarkan Buku Membuka Cakrawala. Streaming di radiobuku.com.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan