-->

Tokoh Toggle

Swastika Nohara | Penulis Skenario Film | Jakarta

Penulis skenario film Tiga Srikandi, Swastika Nohara, 37, berkisah tentang aktivitasnya di balik layar. Dia menuturkan, riset ialah sebuah keharusan bagi film. “Harusnya untuk membuat film itu tidak ada yang tidak riset, mau genre horor, science fiction, dan action, hal itu tetap harus dilakukan,“ kata dia.

Terkait dengan film “Tiga Srikandi” yang dijadwalkan rilis pada 24 Desember 2015 sebagai film liburan akhir tahun, dia bertutur riset yang dilakukan tim pembuat film itu sangat panjang.

Swastika Nohara, Penulis Skenario Film 3 Srikandi

“Kami mulai bekerja dari Desember 2014 dan skrip baru selesai Juni. Sekarang masa-masa produksi. Saat riset, kami sempat bertemu dengan ketiga tokoh sentral dalam film itu, yaitu Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani, dan Lilies Handayani,“ kata ibu dua anak itu.

Penentuan karakter itu tidak hanya didapatkan dari riset dengan teknik wawancara. Ada hal lain seperti riset melalui dokumentasi. “Kami juga melihat foto-foto mereka saat bertanding supaya detailnya tidak meleset, misalnya, karakteristik baju yang dikenakan, model rambut, atau aksesori yang dipakai,“ kata dia.

Dirinya kemudian bercerita tentang karakter Nurfitriyana Saiman, diperankan Bunga Citra Lestari, yang sangat dewasa, kalem, dan sangat rendah hati, serta peran Lilies Handayani yang meledak-ledak. “Kalau Mbak Lilies itu orangnya ramai sekali. Kalau bicara, tangannya selalu bergerak, aksesorinya segambreng, gelangnya, cincinnya. Itu nanti akan diperankan Chelsea Islan. Sementara itu, Tara Basro akan memerankan Kusuma Wardhani yang pendiam dan dewasa,“ tutur dia.

Film yang mengisahkan keberhasilan tiga pemanah putri Indonesia meraih medali perak di Olimpiade 1988 di Seoul, Korea Selatan, itu menurut Buk’e, demikian dirinya biasa disapa kedua anaknya, membuat tiga pemanah itu kaget.

“Bahkan, mereka sangat terkejut, mereka kaget karena masih ada yang ingat dengan mereka. Mereka merasa diingat dan kisahnya akan difilmkan itu sudah sesuatu yang menyenangkan,“ kata Tika yang juga penulis skenario film animasi “Magilika”. Menjaga kualitas Untuk tetap mempertahankan kualitas hasil pekerjaannya, dirinya hanya menerima dua penulisan skenario setiap tahun. “Supaya terjaga kualitasnya, kerjanya juga tidak terburu-buru, cukup meluangkan waktu untuk fokus supaya matang di riset juga,“ jelas dia yang pernah juga menulis skenario untuk FTV hanya dalam kurun waktu dua pekan.

Tika juga sangat disiplin dengan jadwal. Menurutnya, apa yang dilakukannya ialah tahap awal dalam sebuah produksi film. “Sehingga kalau seorang penulis skenario itu mundur dari jadwal, ia akan merusak jadwal kerja orang lain dalam satu tim dan itu sangat tidak enak,“ kata dia.

Terkait dengan proses riset film, dirinya mengaku sangat menikmati setiap perjalanan dan perjumpaan. “Setiap film itu tantangannya berbeda. Saya suka saat riset film “Cahaya dari Timur: Beta Maluku” karena mesti ke Ambon dan ketemu pantai. Suka juga dengan riset judi bola untuk bikin film “Hari ini Pasti Menang”,” katanya. Bekalnya yang ia miliki sebagai penulis film dokumenter sangat membuat pekerjaan yang kini ditekuninya terasa lebih mudah. “Saya terbiasa mencatat, itu naluri saya dari penulis film dokumenter sebelumnya,“ tutup dia. Ke depan, dirinya telah siap mengerjakan penulisan untuk film “Malin Kundang” versi modern bersama Dinna Jasanti, dan film “Love for Sale”.

Swastika Nohara meraih gelar MA dari Goldsmiths College, University of London pada 2006, dengan beasiswa dari British Council. Pada tahun yang sama, dirinya memulai karier menjadi penulis skenario film televisi (FTV).

Sumber: Media Indonesia, 24 Agustus 2015

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan