-->

Agenda & Donasi Toggle

23 Agustus 2015 | Bincang-bincang Sastra edisi 119, Puisi “Suluk Senja” karya Dimas Indiana Senja

Peluncuran antologi puisi Suluk Senja karya Dimas Indiana Senja

Pukul: 20.00 WIB – Selesai

Hari/tanggal: Minggu, 23 Agustus 2015

Tempat: Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY)

 

Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerjasama dengan Taman Budaya Yogyakarta dan didukung oleh Radio Buku  menggelar acara Bincang-bincang Sastra edisi 119, peluncuran antologi puisi Suluk Senja karya Dimas Indiana Senja. Acara ini akan diselenggarakan Minggu, 23 Agustus 2015 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pukul 20.00 WIB. gratis. Didaulat sebagai pembicara dalam acara ini adalah Bustan Basir Maras dipandu oleh Eka Safitri. Selain itu akan ada penampilan musik puisi dari Kopi Basi, teaterikal puisi oleh Shinta Kusumasari, serta pembacaan puisi oleh Ulfatin Ch., Eka Anggraini, Dinar Suci Mayaratih, Retno Iswandari dan Umi Kulsum.

Penyair muda berprestasi kelahiran Brebes bernama asli Dimas Indianto S. ini mengaku bahwa belajar menulis puisi kepada penyair Abdul Wachid B.S. sekitar tahun 2010 diawali dengan pertemuannya sebagai mahasiswa dan dosen di STAIN Purwokerto (kini IAIN Purwokerto). Latar belakang pesantren dan sejumlah kejuaraan baca puisi yang ditekuni sebelumnya rupanya telah banyak memengaruhinya dalam memantapkan kariernya untuk menulis sastra, terutama puisi. Proses kepenyairannya dimatangkan dalam program pesantren Mahasiswa kepenulisan yang digagas Dr. Moh Roqib, M. Ag., pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah. Di situlah pertemuan Dimas dan mahasiswa kepenulisan lainnya dengan Abdul Wachid B.S. ibarat tumbu oleh tutup, klop.

Antologi puisi Suluk Senja ini adalah antologi puisi yang kedua setelah antologi puisi Nadhom Cinta tahun 2012 silam yang juga diluncurkan di acara Bincang-bincang Sastra SPS. Menurut Dimas, Puisi telah membawa saya ke mana-mana. Keliling Indonesia. Bahkan berkat puisi saya bisa menamatkan pendidikan S-2 saya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2015 ini. Di Yogya saya semakin mantap dengan jalur sunyi yang saya puluh ini. Yogya telah memberi saya ruang bertegur sapa yang tidak didapatkan di daerah lainnya. Atmosfir kreativitas sastra di Yogya begitu tebal, ditunjukkan dengan banyaknya acara sastra dan banyaknya sastrawan yang lahir di kota istimewa ini.

“Sebagian besar puisi dalam antologi ini saya tulis di Yogya. Yogya telah memberikan banyak wacana dan ilmu bagi saya dan bagi perkembangan perpuisian saya. Setelah peluncuran Suluk Senja saya akan kembali ke Purwokerto, tentu saya akan sangat merindukan semangat bersastra di Yogya. Terima kasih Yogya.” pungkas Dimas saat ditemui dalam sebuah acara sastra.

Mustofa W. Hasyim selaku ketua SPS menyatakan bahwa, “Generasi muda sastra harus dipupuk biar tidak pupus. Acara ini adalah simbol semangat ulangtahun kemerdekaan RI ke-70. Semoga generasi muda bangsa ini mampu berjuang untuk menjaga kebudayaan dan menjaga kemerdekaan Indonesia.”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan