-->

Tokoh Toggle

Andy F Noya | Kisah Hidupku | Jakarta

Meluncurkan buku biografi dilematis bagi Andy F Noya. Pasalnya, selama ini, ia memberikan `panggung’ kepada narasumber yang inspiratif.

Kini, dirinya menjadi `panggung’ bagi orang banyak. Peraih Panasonic Gobel Award 2010 dan 2011 itu, selain pernah menjadi pemimpin redaksi Metro TV dan Media Indonesia, pernah menjadi host program Jakarta Round Up yang kemudian Jakarta First Channel di Radio Trijaya pada 1994-1999.

Pembawa acara Kick Andy (Metro TV), Andy F Noya, 54, meluncurkan buku biografinya yang berjudul Kisah Hidupku.

Buku tersebut ditulis seorang wartawan senior (Kompas) yang juga sahabat Andy, Robert Adhi KSP. Pada awal pembuatan pun, menurut Andy, Adhi melakukan pendekatan yang cukup intens untuk meminta dirinya agar mau `membuka’ kisah hidupnya dalam bentuk buku.

Setelah empat tahun berjalan, akhirnya biografi Andy, Kisah Hidupku, siap diluncurkan di Jakarta.

Andy merasa peluncuran buku biografinya sebagai hal dilematis. Di satu sisi, dirinya akan menjadi `panggung’ bagi banyak orang. Padahal, selama ini, dirinyalah yang `mengangkat’ orang-orang yang inspiratif dengan berbagai aktivitas mereka yang berdampak positif sekaligus menjadi `cahaya’ bagi lingkungan.

“Mengukur apa yang dilakukan orang-orang itu, aku menjadi ragu, seberapa penting ceritaku jika dibandingkan dengan cerita mereka.Begitu pergulatan batinku. Ibaratnya, kalau ada pertandingan, aku wasit, tapi menjadi pemain juga,“ kata Andy saat dijumpai Media Indonesia di ruang kerjanya di Jakarta, Rabu (29/7). Andy pun mengungkapkan, dalam buku biografinya kali ini, tidak semua kisah hidupnya diceritakan. Ia mencontohkan wawancara dengan istri, anak-anak, dan teman-teman dekatnya sengaja ditiadakan meskipun pada prinsipnya sebenarnya ada.

“Aku banyak ngurang-ngurangin karena mengejar harga. Aku ingin harga yang semurah-murahnya karena aku tidak ingin pengalamanku tidak bisa membeli buku karena mahal terjadi pada bukuku,“ kata lelaki kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 6 November 1960 itu. Alhasil, melalui diskusi panjang dengan penerbit, buku yang sedianya dijual dengan harga melewati Rp100 ribu itu bisa dipangkas menjadi Rp89 ribu dengan cara mengurangi halaman.

“Saya dan penulis bahkan rela meniadakan royalti. Niat menerbitkan buku ini juga bukan uang. Enggak cari uang dari sini. Kami akan senang kalau buku ini dibaca banyak orang dan menginspirasi. Bersyukur penerbit paham hal itu,“ kata suami Retno Palupi itu.

Apakah kisah-kisah yang belum sempat diceritakan dalam buku itu kemudian akan diterbitkan di masa mendatang? Andy mengaku menerbitkan buku kedua merupakan persoalan yang lain karena banyak hal yang harus dia simpan juga. Pre-order Buku Kisah Hidupku memang belum diluncurkan. Namun, pihak penerbit telah mencetak ulang. Sistem pembelian pre-order yang disertai tanda tangan dirinya dan kartu pos membuat permintaan membengkak dari prediksi. Namun, Andy mengaku keberatan jika jumlahnya dipublikasikan.

“Menurut penerbit, hal itu (cetak ulang) baru terjadi kali ini. Bahkan, tanda tangan yang awalnya disepakati 250 eksemplar kemudian terus bertambah, akhirnya aku umumkan melalui Facebook-ku diperpanjang dua hari hingga 31 Juli,“ jelasnya.

Andy mengaku kecintaannya terhadap buku berlangsung sejak belia dan hingga kini tetap terpelihara.“Berada di perpustakaan untuk membaca, merenung, tenang, ditemani secangkir cappucino dan musik itu membuat saya rileks. Di perpustakaan itu buat saya seperti anak kecil yang berada di sebuah toko permen.Bau buku itu juga mendatangkan kegembiraan yang luar biasa,“ tutup ayah tiga anak itu.

Sumber: Media Indonesia, 31 Juli 2015

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan