-->

Tokoh Toggle

Taufiq Ismail | “Dengan Puisi Aku…”

Penyair Taufiq Ismail genap berusia 80 tahun pada 25 Juni. Ia tetap resah dan hirau dengan apa yang terjadi di negerinya. Ia tetap ”mengutuk zaman yang busuk”. Semua tertuang dalam puisi sesuai kredo kepenyairannya, ”Dengan puisi aku bernyanyi sampai senja umurku nanti….”

Seorang ibu melahirkan bayi laki-laki di Pekalongan, Jawa Tengah. Ia dinamai Taufiq Ismail. Sayang, ia hanya berumur tiga bulan. Waktu berlalu dan sang ibu dianugerahi seorang bayi lagi yang ia lahirkan pada 25 Juni 1935 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia kembali memberi nama Taufiq Ismail.

Gegerlah keluarga besar di kampung halaman. Mereka meminta agar anak itu tak diberi nama seperti kakaknya yang meninggal kala berumur tiga bulan. Alasannya, ia dikhawatirkan akan berumur pendek. Lewat telegram dari Pekalongan, sang ayah menjawab: ”Yang menentukan panjang pendek umur itu bukan nama, tetapi Allah. Ia tetap bernama Taufiq Ismail.” Begitu bunyi telegram.

”Orang-orang di kampung langsung cep klakep, dieeem semua. Dan bayi itu sekarang berumur 80 tahun, ha-ha,” kata sang ”bayi” Taufiq Ismail.

”Saya mensyukurinya dan itu tidak habis-habisnya. Kira-kira lima atau enam bulan sebelum ini saya deg-degan, apa saya bisa mencapai angka 80 atau tidak sebab angka 80 itu hebat betul. Alhamdulillah tercapai,” kata Taufiq Ismail.

Terus menulis

Pada sebuah sore yang sejuk di halaman terbuka di antara Gunung Singgalang-Marapai pada 25 Juni lalu digelar hajatan Silaturahim Ramadhan dan Syukuran 80 Tahun Taufiq Ismail di Rumah Budaya Fadli Zon di Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat. ”Saya bersyukur juga karena dalam usia ini saya masih bisa menulis puisi, waduh itu saya bersyukur sekali. Saya baca memoar-memoar dari para sastrawan ada yang umur 60-70 sudah tidak bisa menulis lagi. Saya takut sekali. Tetapi, saya kok masih bisa.”

Taufiq juga bersyukur karena kesehatan pada umumnya baik. Kolesterol, asam urat, dan gula darah semua normal. ”Yang berkurang itu daya ingat, memori. Apa yang saya lakukan dua-tiga minggu lalu saya lupa. Terus nama-nama teman saya suka lupa. Wajahnya saya ingat, tetapi yak Allah jenenge lali, namanya lupa, waduuh… itu memalukan sekali, ha-ha.”

Anda masih terus menulis, apa pemicunya?

Itu juga menjadi pertanyaan saya, dan terjawab, itu karena saya banyak membaca. Saya membaca apa saja, buku, koran itu pasti, sesukanya. Itu sangat membantu. Ketika macet saat membaca, saya mengatasinya dengan meninggalkannya sebentar, lalu nanti kembali lagi untuk membaca dan membaca.

Puisi Anda dalam tahun-tahun belakangan ini banyak bicara tentang kematian dan akhirat.

Itu fase saya sekarang ini. Yang saya merasa ngeri nanti kepleset ketika sakaratul maut. Para setan punya rencana menggarap manusia. Mereka bikin satu tim, mereka bikin bagaimana menggarap, menjatuhkan manusia. Untuk itu, agar selalu waspada, maut harus selalu diingat. Dalam istilah agama itu dzikrul maut, mengingat maut, maut harus selalu diingat dengan puisi.

Puisi semacam itu bisa disebut bergaya sufisme?

Ahli-ahli teori akan mengatakan begitu. Mereka memberi nama-nama isme. Mungkin itu disebut sebagai sufisme. Kalau masalah dzikrul maut itu betul. Itu saya masukan dalam file puisi-puisi kubur. Dan itu masih saya tulis terus.

Puisi peduli

Kecintaan membaca dan menulis Taufiq Ismail tumbuh sejak kecil di lingkungan keluarga. Orangtuanya, Abdul Gaffar Ismail dan Siti Nur M Nur, adalah guru yang mempunyai kebiasaan membaca dan menulis. Ayahnya pernah menjadi Wakil Ketua Dewan Redaksi surat kabar Sinar Baru di Semarang. ”Setiap sesudah imsak, ayah saya akan duduk menyiapkan kitab-kitab yang tebal-tebal bersama ibu saya,” kata Taufiq mengenang.

”Pada suatu hari saya melihat ada tajuk rencana di halaman pertama koran Sinar Baru. Di situ ada nama ayah saya di bawah tulisan tajuk itu: Abdul Gaffar Ismail. Saya merasa takjub, heran. Usia saya waktu itu enam tahun. Saya berteriak, ’Ini Bapak yang menulis? Kok bapak bisa menulis sepanjang ini, dibantu oleh teman ya?’” tutur Taufiq menirukan ucapannya sendiri kala berumur 6 tahun.

”Ibu saya juga menulis pantun di majalah Pergerakan Perempuan. Pantun tiga bait itu ditulis di kulit luar majalah. Itu sebabnya saya ingin meniru mereka dalam hal kecintaan membaca buku dan menulis. Alhamdulillah itu tercapai.”

Rasa nasionalisme Abdul Gaffar Ismail dan Siti Nur M Nur dibangkitkan oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional Sumatera Barat seperti Djalaludin Thaib, Mochtar Luthfi, dan Ilyas Jacob. Oleh pemerintah kolonial, tokoh-tokoh lulusan Universitas Al-Azhar itu dibuang ke luar Sumatera.

”Mereka membawa santri-santri muda berkeliling Sumbar dengan membawa pesan kemerdekaan. Ayah dan ibu saya terpengaruh. Pemimpin-pemimpin mereka dianggap melanggar dan dibuang tahun 1934. Selebihnya, pemimpin muda-muda diusir ke luar Minangkabau. Ayah memilih ke Pekalongan. Suami-istri umur 21-20, baru menikah, diusir Belanda. Di sana mereka diterima, disambut masyarakat,” kata Taufiq.

Situasi politik dan aktivitas sebagai tokoh pergerakan menyebabkan orangtua Taufiq Ismail hidup berpindah-pindah tempat. Taufiq masuk Sekolah Rakyat pertama di Solo, kemudian berpindah ke Semarang, Yogyakarta, dan Pekalongan. Dengan adik-adiknya, yaitu Ida dan Rachmat, Taufiq berbicara dalam bahasa Jawa. Adapun dengan orangtua ia sehari-hari bicara dalam bahasa Minang. ”Jadi, sehari-hari saya berbicara dalam tiga bahasa, Minang, Jawa, dan bahasa Indonesia. Kira-kira dua tiga kalimat awal dalam bahasa Indonesia, sesudahnya Jawa semua, ha-ha.”

Bahkan, saat tinggal di Yogyakarta pada 1946-1948, Taufiq sempat belajar bahasa Jawa kromo inggil atau bahasa Jawa halus dari seorang tetangga yang kebetulan belajar pedalangan. ”Tetangga saya, Mas Tjipto, itu calon dalang. Tiap hari dia berlatih mendalang. Saya duduk di sebelahnya. Saya suka menirukan dia mendalang ’kopat-kapite kadya manuk branjangan…,ha-ha.’”

Jejak perjuangan orangtua dan keragaman lingkungan menjadikan Taufiq Ismail tersentuh oleh masalah-masalah sosial-politik di sekitarnya. Ada semacam tanggung jawab sosial dari seorang penyair terhadap kondisi di sekitarnya.

Dari masa ke masa ketika terjadi gejolak negeri ini Taufiq Ismail hadir lewat puisi. Puisi-puisi dalam buku Tirani dan Benteng merekam tragedi sosial-politik di sekitar tahun 1965. Awal 1970-an ia menyuarakan nasib negeri lewat puisi ”Kembalikan Indonesia Padaku”. Ketika korupsi menyeruak pada akhir 1970-an, hadir puisi ”Kembalikan Merah Putih pada Si Toni” dan cerita pendek ”Garong, Garong”. Dan ketika terjadi tragedi penembakan mahasiswa pada demo 1998 lahirlah ”Empat Syuhada pada Satu Malam”.

Dengan puisi Anda ”mengutuk zaman yang busuk”.

Puisi itu saluran segala bentuk perasaan, salah satunya amarah menghadapi keadaan. Itu sudah terjadi di tahun-tahun 1970-an dan terutama sepuluh terakhir ini. Yang terakhir ini waduhh. Kriminalitas, korupsi menjadi-jadi, narkoba, nikotin.

Menghadapi itu saya harus memberikan respons. Saya harus memberikan tanggung jawab saya sebagai penulis. Kalau dalam situasi bobrok seperti itu saya tidak bersuara, maka saya salah. Saya harus ikut urun. Ada hal-hal jahil terjadi, ada yang salah, ada yang korup.

Tetapi sebenarnya, apa yang terjadi sekarang, kalau dibandingkan dengan apa yang terjadi dulu itu kecil sekali. Tahun 1950-1960 ada menteri korupsi pembelian mesin tik. Kalau dibandingkan korupsi sekarang, itu ndak ada artinya. Ada rasa geram, dongkol, tetapi sama sekali tidak memaki, tidak menuding, apalagi menyebut nama. Masih terkontrol.

Puisi dan lagu

Puisi yang menyentuh ruang-ruang pribadi diakui Taufiq sudah pasti menjadi yang paling pertama. Pada syukuran, Taufiq membacakan puisi Adakah Suara Cemara untuk istrinya, Ati Ismail. Itu mengapa di bawah judul puisi itu tertera: Kepada Ati:

Adakah suara cemara

Mendesing menderu padamu

Adakah melintas sepintas

Gemersik dedaunan lepas

Deretan bukit-bukit biru

Menyeru lagu itu

Gugusan mega

Ialah hiasan kencana

Adakah suara cemara

Mendesing menderu padamu

Adakah lautan ladang jagung

Mengombakkan suara itu

Puisi itu dinyanyikan Bimbo dalam lagu dengan pengubahan sedikit di sana-sini mengikuti kaidah lagu pop. Taufiq Ismail termasuk penyair yang sering diminta menulis puisi untuk dinyanyikan. Dan dia sangat terampil menulis lirik puitis untuk lagu balada rock seperti ”Panggung Sandiwara”. Yang paling banyak dikenal adalah lagu bernuansa religius. Bimbo banyak membawakan lagu yang liriknya ditulis Taufiq Ismail, antara lain yang terkenal adalah ”Rindu Rasul” dan ”Sajadah Panjang”.

Penyanyi Chrisye (1949-2007) juga pernah meminta khusus kepada Taufiq Ismail untuk membuatkan puisi yang akan dilagukannya. Chrisye sudah menggubah lagu dan menulis liriknya tetapi ia merasa tidak puas. ”Dia minta dibikinkan (lirik lagu). Saya diberi waktu satu bulan,” kata Taufiq.

”Satu minggu dua minggu saya kerjain enggak dapat. Bahkan sampai minggu keempat saya gagal. Malam yang terakhir, itu malam Jumat. Hari Jumatnya lagu harus saya serahkan ke dia. Nah, kalau malam Jumat itu saya biasa baca wirid dan Surah Yasin.”

Di surah yang ke-73: ”… Akan datang pada suatu waktu kau diadili mulutmu tidak dapat berkata-kata. Yang akan berkata mengenai amalmu adalah tangan, kemudian kaki, ke mana mereka pergi melangkahnya.” Nah, ini ketemu sudah. Saya garap satu malam. Tetapi lagu itu kan pendek, padahal tema (Surah 73) ini kan cukup panjang. Tetapi kok ya selesai. Saya gembira sekali dan besoknya saya serahkan ke Papa Chrisye,” kata Taufiq tentang lagu berjudul ”Ketika Tangan dan Kaki Bicara”.

Lirik lagu itu dirasa sangat berat bagi Chrisye. Ia mengalami semacam ketergetaran jiwa saat melantunkannya, hingga merasa gagal, karena terhenti oleh isak tangis.

”Di belakang hari saya dapat cerita dari Chrisye. Ketika ia berlatih, dia cuma bisa melagukan satu kali saja. Pada kali berikutnya dia menangis. Berikutnya ia coba lagi, lagi, dan menangis lagi. Istrinya mengajak dia shalat dan mohon kepada Allah. Mereka lalu berangkat ke Australia untuk rekaman. Rekaman itu cuma sekali. Di sana ia coba lagi dan tak bisa lebih dari sekali. Dia tak bisa lagi di-retake (perekaman suara ulang). Jadi, satu kali saja take saja.”

Pada acara peluncuran album, saya diundang. Saya disodori amplop sama Chrisye. Saya tak bisa menerima amplop itu dan sangat terkejut. ”Aku tak berhak dapatkan ini karena ini bukan ide saya. Ini saya ambil dari Al Quran dan saya hanya memindahkan saja.”

Chrisye bilang. ”Jalan keluarnya tampaknya begini: Abang kan merasa bersalah kalau menerima honorarium ini. Kalau begitu terimalah uang ini, lalu abang merasa bersalah, dan minta ampun kepada Allah. Kemudian, sesudah minta ampun kepada Allah terima uang ini.”

”Ini jalan keluar yang bagus. Sebab, kalau saya tolak, akan jadi fitnah besar. Saya akan disebut sombong, sok aksi, dan seterusnya. Sesudah itu Chrisye senang sekali.”

Apa makna puisi bagi Anda?

Puisi itu bekal untuk masuk alam akhirat. Ini sebagian dari amal saya di dunia. Mudah-mudahan puisi memberi arti yang terbesar.

 

BIODATA TAUFIQ ISMAIL

LAHIR: Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935

KUMPULAN PUISI:

  • Manifestasi, 1963
  • Tirani, 1966
  • Benteng, 1968
  • Buku Tamu Musim Perjuangan, 1969
  • Sajak Ladang Jagung, 1973
  • Perkenalkan Saya Hewan, 1980
  • Puisi-Puisi Langit, 1990
  • Malu (Aku) jadi Orang Indonesia, 1995
  • Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit (Himpunan puisi 1953-2008)
  • Dust on Dust (Debu di atas Debu): 3 jilid buku kumpulan puisi Dwi Bahasa Indonesia Inggris terjemahan Amin Sweeney
  1. Mendirikan Majalah ”Sastra Horison” bersama Mochtar Lubis, PK Ojong, Arief Budiman, Zaini, Juli 1966
  2. Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Negeri Yogyakarta pada 2003 dan Universitas Indonesia pada 2009
  3. Mendirikan Rumah Puisi Taufiq Ismail di Tanah Datar, Sumatera Barat, 2008

Sumber: Kompas, 5 Juli 2015

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan