-->

Tokoh Toggle

Siti Maryam | Penekun Naskah Kuno dari Bima | Nusa Tenggara Barat

Soekarno menasihati istri Sultan tentang pentingnya pendidikan buat lelaki dan perempuan. Kepada Soekarno, Sultan Bima dan istri menjanjikan untuk kembali menyekolahkan Maryam. Begitu Soekarno pergi, gantian Maryam dimarahi habis-habisan oleh ibundanya karena dianggap mempermalukan orangtua.

Namun, Maryam tidak kapok. Esok harinya, sebelum berpidato di lapangan Kota Bima, Soekarno memanggil Siti Maryam dan bertanya,” Nduk, saya mau pidato, kamu mau nitip apa?”

Dengan bersemangat, Siti Maryam bercerita tentang aktivitasnya sejak dilarang bersekolah. Sekalipun menguasai bahasa Belanda, Inggris, Perancis, dan Jepang, dia merasa sulit mengembangkan diri. Dia akhirnya mendirikan organisasi wanita Rukun Wanita, yang banyak mengajarkan para perempuan di Bima tentang pengetahuan umum, bahasa, dan keterampilan. Maryam juga mendirikan sekolah guru bawah (SGB) sehingga tahu benar pembedaan jender yang dialami perempuan.

Maka, Maryam meminta agar Presiden Soekarno menyampaikan kepada masyarakat Bima agar tidak lagi memingit anak perempuan dan memberi kesempatan seluas-luasnya untuk meraih cita-cita dan pendidikan setinggi mungkin.

Demikianlah, dalam pidato di lapangan Kota Bima, Bung Karno kemudian berpidato dengan berapi-api agar masyarakat, baik perempuan maupun lelaki, menggantungkan cita-cita setinggi langit. Kalimat ini kemudian menjadi salah satu ucapan Bung Karno yang sangat terkenal dan diulanginya dalam berbagai pidato di tempat lain, salah satunya saat berpidato pada peringatan Hari Pendidikan Nasional di Istana Olahraga pada 2 Mei 1962: “Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit…. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang- bintang.”

Kenapa mengadukan Ibunda soal pendidikan ke Presiden Soekarno?

Saat itu saya sedih sekali karena ingin melanjutkan sekolah tetapi dilarang, hanya karena saya perempuan. Sementara Abang saya yang tidak berniat sekolah lagi justru disuruh sekolah.

Saya suka belajar dan membaca buku. Ingin sekolah sampai setinggi-tingginya. Sudah berkali-kali meminta kepada keluarga agar diizinkan melanjutkan sekolahnya yang terputus gara-gara perang. Setelah tamat HIS di Bima, saya kemudian melanjutkan ke HBS di Malang, Jawa Timur. Saya masih kelas dua HBS saat diminta pulang oleh orangtua karena situasi politik yang memanas menjelang tahun 1942.

Awalnya saya sempat menolak pulang. Namun, situasi memang tak menentu saat itu. Akhirnya pulang dengan pesawat Qantas bersama kakak dan rombongan orang yang juga hendak mengungsi ke Singapura. Pesawat dari Surabaya ke Bima, lalu rencananya mampir ke Australia, sebelum ke Singapura. Namun, setelah menurunkan saya dan abang di Bima, saya dengar pesawat itu ditembak jatuh di sekitar Kupang oleh tentara Jepang.

Doktor tertua

Semangat Maryam untuk melanjutkan sekolah tidak pernah padam. Maryam memilih bekerja di Kementerian Luar Negeri, sedangkan adik perempuannya di Sekretariat Negara. Sambil bekerja, Maryam masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Budi Utomo, Jakarta, hanya untuk mengikuti ujian akhir. Begitu mendapat ijazah, dia lalu masuk ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 1953.

Lulus sarjana muda, Maryam pindah bekerja di Departemen Kehakiman hingga kemudian menjadi staf ahli Menteri Saharjo sekitar tahun 1962. Dia terlibat dalam menyusun Undang-Undang Korupsi dan UU Kewarganegaraan, dan berbagai kebijakan perundang-undangan penting lainnya. Sambil bekerja, Maryam masih terus melanjutkan sekolahnya di UI hingga tamat pascasarjana.

Tahun 1964 Maryam pindah ke Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat, yang baru saja menjadi provinsi, terpisah dari Sunda Kecil. Ruslan Tjakraningrat, gubernur pertama NTB, meminta Maryam turut membangun provinsi baru itu. “Kita di sini (Lombok) belum ada sarjana. Mau bangun daerah atau tidak? Kamu harus pulang dan membantu di sini,” kisah Maryam menirukan ucapan Gubernur.

Saat usianya menginjak 80-an, dia kembali ke bangku sekolah. Dia memilih menekuni bidang filologi dan mendaftar di Universitas Padjadjaran, Bandung, dan diwisuda pada 2012 saat usianya 83 tahun. Disertasinya adalah tentang Hukum Adat Bima dalam Perspektif Hukum Islam, saat ini sedang dalam pencetakan untuk dijadikan buku.

Menekuni naskah

Sejak beberapa tahun terakhir, Maryam semakin tertarik menggeluti naskah kuno. Bahkan, penyakit katarak yang menyerang matanya tak memadamkan semangatnya untuk mengkaji naskah-naskah kuno Bima, yang kebanyakan ditulis dalam aksara Arab. Untuk membaca naskah-naskah itu, Maryam terpaksa harus menggunakan kaca pembesar.

Dalam beberapa kali perjumpaan di rumahnya yang bersahaja di Kota Bima, Maryam selalu bersemangat untuk menunjukkan koleksi naskahnya dan membacakan informasi yang kami butuhkan. Rumah Maryam dipenuhi naskah dan beberapa barang pusaka keraton. Ruang samping difungsikan sebagai sanggar seni sekaligus museum.

Kenapa kemudian sekolah lagi di bidang filologi?

Filologi itu jarang diminati masyarakat kita, tetapi justru banyak orang asing yang menekuni naskah kita. Itu yang menyebabkan sejarah kita dikuasai orang asing. Kebetulan pada 2007 ada simposium internasional tentang pernaskahan di Bima yang diadakan Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara). Saya saat itu anggota Manassa dan menjadi tuan rumah.

Banyak akademisi datang dan melihat koleksi naskah saya. Banyak yang suka karena katalognya sudah rapi dan kondisi naskahnya terawat. Padahal, saya belajar otodidak soal pernaskahan. Hingga ada tawaran dari Universitas Padjadjaran untuk belajar filologi di sana. Maka, tahun itu juga saya ke Bandung untuk mendaftar. Sejak itu, saya bolak-balik Bandung ke Bima untuk menyelesaikan studi. Saya tidak merasa kesulitan karena bidangnya sudah saya geluti dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak kapan mulai menyukai naskah kuno?

Sejak kecil, saya mencintai membaca buku dan naskah. Buku apa saja. Juga saya suka mendengarkan cerita dan dongeng orangtua. Di rumah juga, Sultan, punya perpustakaan. Di ruangan itu saya betah duduk berjam-jam dengan juru tulisnya. Bisa diskusi tanya apa saja.

Sebagai dampak dihapuskannya Daerah Swapraja melalui UU No 1/1957, konsekuensinya, Kesultanan Bima juga ditiadakan. Tanah dan seluruh harta kesultanan diambil oleh pemerintah. Surat menyurat dan koleksi naskah istana dianggap tidak ada artinya. Sertifikat juga dibuang. Saat itulah saya melihat banyak surat-surat berserakan. Sebagian tertulis dalam huruf Arab. Saya kumpulkan semuanya.

Saya juga mulai membaca dan memilahnya. Ternyata, isinya banyak yang menarik. Ada cerita lucu, ada pengetahuannya. Saya kumpulkan di rumah karena saya mengira suatu saat akan bermanfaat. Sejak itu saya sudah jatuh cinta pada naskah-naskah.

Kemudian, begitu bekerja di Provinsi NTB, saya juga melihat banyak arsip daerah berserakan, karena tidak dianggap penting. Padahal, saya melihat banyak informasi, terutama tentang sejarah dari zaman dulu, yang seharusnya tidak boleh dihilangkan. Saya mulai menekuni soal kearsipan sampai saya membuat gedung arsip di provinsi.

Kemudian, pada 1984, Pangeran Bernhard dan Duta Besar Belanda Van Dongen berkunjung ke Bima. Ketika itu, saya masih tugas di kantor gubernur, diminta membuat pameran di Bima. Saya kumpulkan semua pusaka keraton, mulai dari senjata hingga aneka perhiasan. Lalu saya pikir, ini tidak lengkap kalau tidak ada buku besar berisi sejarah Kesultanan Bima atau yang disebut Bo Sangaji Kai.

Bagi orang Bima, Bo (buku) ini sangat penting. Kalau sudah dibilang menurut Bo semua nurut. Lalu saya cari buku itu dan ketemu. Ternyata disimpan kerabat, tetapi kondisinya compang- camping dan penuh lipatan. Saya pamerkan apa adanya karena tidak ada waktu untuk memperbaikinya.

Namun, Bo itu yang justru menjadi perhatian utama Pangeran Bernhard. Dia bertanya, apakah buku ini ada duplikatnya? Saya jawab tidak ada. Saat itu saya tidak bilang kalau bukunya baru ketemu karena malu. Lalu Pangeran Bernhard bilang, “Kalau buku ini rusak, maka hilang sejarah kamu.”

Ucapannya itu yang membuat saya malu setengah mati. Begitu dia pergi, saya cepat fotokopi buku itu di Pasar Bima dan saya mulai bertekad untuk memelihara naskah aslinya.

Berikutnya, datang peneliti naskah dari Fakultas Sastra UI, Rujiati SW Mulyadi, yang meneliti soal naskah-naskah kuno. Dia mengajari saya tentang pentingnya naskah dan bagaimana mendata koleksi yang ada. Kami membaca bersama naskah-naskah yang ada sampai dini hari, lalu mulai membuat katalog.

Di setiap kesempatan ke Jakarta, saya menyempatkan ke Arsip Nasional. Saya bawa beberapa naskah, lalu minta untuk dilaminating di sana. Begitu seterusnya sampai seluruh naskah Bo Sangaji Kai ini terlaminating semuanya. Hingga saat itu, untuk urusan konservasi naskah sudah ada kemajuan, tetapi mengenai isinya apa dan apa signifikansinya, belum banyak dikaji.

Lalu pada 1987 ada filolog Perancis, Henry Chambert Loir, datang ke Bima. Begitu saya tunjukkan naskah Bo Sangaji Kai, dia sangat tertarik. Dia kemudian mulai membuat terjemahannya. Namun, karena banyak istilah Bima, saya kemudian diminta membantunya. Selama dua tahun saya membaca, menerjemahkan, dan kemudian mentransliterasike bahasa Indonesia. Ternyata isinya sangat menarik. Sejak saat itu, saya sudah terobsesi dengan naskah dan itu yang membuat saya bersemangat kuliah lagi di bidang filologi.

Seberapa penting naskah kuno ini dalam kehidupan berbangsa dewasa ini?

Menurut saya sangat penting, tetapi sayangnya sering kali diabaikan. Sebagai contoh, tahun 2004, saya didatangi oleh ahli gunung api dari Amerika Serikat, Haraldur Sigurdsson. Dia mengatakan, seluruh dunia ribut dengan Gunung Tambora karena letusannya sedemikian dahsyat dan berdampak global. Dia ingin tahu, apakah ada catatan lokal yang menyebut tentang Tambora, terutama saat sebelum terjadinya letusan pada 1883.

Saat itu saya memang sudah mentransliterasi Bo Sangaji Kai dan mengingat ada bagian yang menyebut tentang dampak letusan Tambora. Lalu saya buka naskah itu dan menunjukkan deskripsi tentang Kerajaan Tambora dan Pekat yang habis, dan seluruh rakyat mati kelaparan karena letusan itu. Sigurdsson sangat terkejut dan menganggapnya sebagai temuan penting. Hingga saat itu saya sebenarnya belum banyak tahu soal Tambora yang letusannya ternyata menyebabkan tahun tanpa musim panas di Eropa dan Amerika. Saya justru tahu dari Sigurdsson dan saya merasa malu.

Pengetahuan kita yang minim soal tanah kita sendiri itu karena selama ini kita cenderung mengabaikan naskah lama, sejarah kita sendiri. Justru orang Asing yang lebih peduli dan mereka mendapatkan pengetahuan darinya. Contoh lain, saat ini kita ramai dengan soal maritim setelah sekian tahun pembangunan dianggap berorientasi ke daratan. Padahal jelas bahwa di naskah kuno soal maritim ini. Bahkan, Kesultanan Bima juga punya undang-undang soal kemaritiman yang menunjukkan betapa pentingnya persoalan ini pada masa lalu.

Apakah masih ada impian yang belum terwujud?

Saya masih merasa punya utang terhadap tanah kelahiran saya, Pulau Sumbawa. Hingga saat ini, Sumbawa masih jauh ketinggalan pembangunannya dibandingkan dengan daerah lain. Padahal, kami memiliki sejarah panjang dan turut membentuk negeri ini. Sejak beberapa tahun terakhir, saya punya gagasan untuk mendorong pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa, terutama setelah keluarnya UU 1999 tentang pemekaran wilayah. Sekarang kami masih terus berjuang.

Sementara untuk pernaskahan, saya masih punya banyak cita-cita untuk menerjemahkan dan mentransliterasi seluruh naskah yang saya simpan. Sampai sekarang baru naskah Bo Sangaji Kai saja yang selesai. Masih ada Bo Sultan Abdul Karim dan naskah lain. Ini harus diketahui orang lain karena sangat kaya isinya, mulai dari ilmu kesehatan, ilmu alam, ilmu bintang, dan lainnya. Saya minta keponakan untuk meneruskan, tetapi dia masih belum bisa baca. Belakangan kami juga menemukan aksara Bima yang sebelumnya telah dinyatakan hilang. Sekarang saya mau bikin kamus aksara Bima.

Jangankan mendalami isi naskah, saat ini banyak naskah yang hilang. Beberapa kali orang Malaysia datang ke rumah mau membeli naskah. Saya dengar di banyak bekas kesultanan lain, naskahnya sudah habis dijual. Saya pernah tanya saat ada Festival Kraton ke salah satu kesultanan, kenapa naskah-naskahnya dijual? Mereka menjawab, lalu apa yang kami makan jika tidak menjualnya.

Ini menyedihkan. Masak kita harus baca naskah asli Indonesia di negara lain? Inilah yang menjadi pemikiran dan kegelisahan saya sendiri. Kenapa kita begitu mengabaikan sejarah kita sendiri. (Ahmad Arif)

Sumber: Kompas, 12 Juli 2015, “Siti Maryam Menggantungkan Cita-cita Setinggi Langit”. Diarsipkan warungarsip.co.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan