-->

Peristiwa Toggle

Sastra Wolio dari Buton

Suku Buton, Sulawesi Tenggara, mewarisi sastra Wolio yang biasa disebut Kabanti. Ada pula tradisi selawatan bernama Maulido. Sebagaimana sastra tutur di daerah lain di Nusantara, kedua warisan budaya itu menjadi media penyampai kearifan lokal dari leluhur untuk masyarakat sekarang. Acara maulido tidak hanya digelar pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga pada berbagai pentas seni, sebagian dengan menyertakan alat-alat musik modern. Oinciamo opu Manga pewauna/ Apamembali bari-baria batua/ sii saangu kabanti oni Wolio/ Ikarangina Abdul Rahim… Oineiamo faqiri makodosana/ ajaahili ikatumpuna opuna/ Sakiaiya agaafili mingkuna/ Inda saangu amalana malapena. Kabanti atau syair dalam bahasa Wolio itu bermakna seperti ini: Dialah Tuhan yang menciptakan kita/ Menciptakan seluruh hamba/ Ini sebuah kabanti Wolio/ Yang dikarang Abdul Rahim… Dialah fakir yang berhutang/ jahil dari perintah Tuhannya/ Sifatnya senantiasa bejat/ tidak ada sesuatu amalnya yang baik. Karya itu berjudul “Pakeana Arifu” atau pakaiannya orang yang arif, karangan Abdul Rahim pada abad ke-19. Ditulis dengan aksara Arab-Melayu (pegon), syair tersebut berisi petuah mengenai jalan kebaikan. Naskah kuno tersebut disalin ulang oleh Lambalangi. (Kompas, 25 Juli 2015)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan