-->

Esai Toggle

Anton Kurnia | Menjelang Pameran Buku Frankfurt 2015

Oktober tahun ini Indonesia menjadi tamu kehormatan (guest of honour) dalam pameran buku terbesar di dunia, Frankfurt Buchmesse alias Frankfurt Book Fair atau Pameran Buku Frankfurt (PBF). Itu kehormatan besar. Untuk itu, sejak dua tahun silam pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melakukan serangkaian persiapan. Dalam ajang itu dipilih tema utama “17.000 Islands of Imagination” untuk menggambarkan keberagaman budaya Indonesia.

Panitia nasional yang diketuai Goenawan Mohamad menyiapkan lebih dari 200 buku, terutama karya sastra, untuk diterjemahkan ke bahasa Inggris dan Jerman serta ditampilkan dalam pameran tersebut. Lebih dari 100 penulis dan penampil dari Indonesia juga diundang untuk menghadiri acara yang berlangsung selama seminggu itu.

Penerjemahan karya sastra kita ke dalam beragam bahasa asing diharapkan menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan intelektual bangsa kita. Sesungguhnya sejak lama kita telah melahirkan karya yang sejajar dengan karya terbaik dunia lainnya seperti novel-novel Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), pengarang pembangkang yang berkali-kali dicalonkan sebagai pemenang Nobel Sastra.

Mungkin ide bagus jika di paviliun Indonesia di Frankfurt nanti disiapkan booth khusus yang memajang karya-karya Pramoedya serta edisi terjemahannya yang setidaknya telah ada dalam 40 bahasa asing, termasuk Inggris, Jerman, Prancis, Swedia, dan Jepang. Bagaimanapun, Pramoedya adalah sastrawan Indonesia yang paling dikenal dunia dan bisa dijadikan ikon di stan pameran Indonesia di PBF.

Di sisi lain, ternyata persiapan kita menuju Frankfurt itu diwarnai sejumlah kontroversi. Salah satunya terkait pemilihan buku-buku yang diterjemahkan ke bahasa asing untuk ditampilkan dalam ajang tersebut, penentuan para penulis yang akan diundang ke PBF, dan tema diskusi yang ditampilkan dalam ajang itu. Protes itu antara lain disuarakan melalui media sosial oleh dua sastrawan terkemuka, Linda Christanty dan A.S. Laksana. Keduanya termasuk penulis yang diundang ke PBF.

Sesungguhnya, kontroversi semacam itu tak hanya terjadi di sini. Waktu Brasil terpilih sebagai tamu kehormatan pada 2013, Paulo Coelho memprotes keras karena sejumlah penulis muda Brasil yang menurutnya potensial tidak dilibatkan pemerintah. Coelho yang bisa dibilang penulis Brasil paling dikenal dunia saat ini bahkan memboikot, tidak datang ke Frankfurt.

Ketika Cina yang jadi tamu kehormatan pada 2010, yang diprotes adalah tidak ditampilkannya para penulis terkemuka yang dikenal sebagai pembangkang, misalnya sejumlah penulis eksil yang minta suaka di Amerika Serikat pasca pembantaian Tiananmen.

Begitu pula saat Turki menjadi tamu kehormatan pada 2008. Sejumlah penulis Turki memboikot acara itu karena panitia dianggap tidak memfasilitasi para penulis muda Turki meski pemenang Hadiah Nobel Sastra 2006, Orhan Pamuk, bersedia tampil dalam acara itu.

Terkait kontroversi yang merebak dalam persiapan Indonesia sebagai tamu kehormatan 2015, seyogianya perlu dijelaskan oleh para kurator (atau panitia) jika memang Islam menjadi salah satu yang menarik perhatian publik Jerman, mengapa penyair berlatar pesantren peraih penghargaan internasional SEA Write Award dan Khatulistiwa Literary Award seperti Acep Zamzam Noor tidak diikutsertakan?

Mengapa pula ikon “sastra Islami” Helvy Tiana Rosa yang merupakan pendiri Forum Lingkar Pena tidak diundang?

Jika tema pembantaian orang kiri 1965 juga dinyatakan sebagai salah satu yang menarik diskusi publik di sana, mengapa Martin Aleida sastrawan peraih penghargaan Kemdikbud 2014 yang menjadi korban peristiwa itu bahkan sekadar bukunya pun tidak diikutkan? Lalu, mengapa, misalnya, “tokoh pembaharu” puisi Indonesia sekaliber Sutardji Calzoum Bachri tidak diundang?

Semua itu perlu dijelaskan agar tak ada tuduhan bahwa keputusan-keputusan panitia diambil berdasarkan suka atau tidak suka (like and dislike) atau faktor nepotisme dan perkoncoan. Dengan demikian, apa yang ditampilkan di Frankfurt nanti benar-benar dapat dipertanggungjawabkan sebagai karya terbaik dalam dunia sastra dan literasi Indonesia.

Anton Kurnia adalah cerpenis, buku kumpulan cerpennya, Insomnia, terpilih untuk diterjemahkan dan ditampilkan di PBF 2015

Sumber: Koran Tempo, 28 Juli 2015

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan