-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Angkringan Buku – Rabu Pagisyahbana | Yogyakarta

Rabu Pagisyahbana baru saja meluncurkan kumpulan puisi berjudul Perahu Napas. Buku ini merupakan tonggak pertama dalam menandai kepenyairannya. Perjalanannya menulis puisi mulanya dipaksa seorang teman yang akhirnya meninggalkannya saat ini mulai serius menulis. Perjalanan itu tentu tak mulus. beberapa kali ia mengalami trauma. Puisinya pernah dihujat, ia trauma. Segepok puisinya raib, ia trauma. Namun seperti perempuan cantik, puisi mampu memikatnya kembali dan menggandenganya. Maka lahirlah Perahu Napas. “Napas” keluar dari dua lubang hidung dapat dimaknai sebagai napas pertama & napas terakhir. Sementara “perahu” melayari jarak antara napas pertama menuju napas terakhir.

1 @rabusyahbana, ngopi tiap hari dan perokok part time. Bersama teman2 lintas bidang, ia tergabung dengan komunitas @Ngopinyastro
2 @Ngopinyastro lahir 2011. Titik temu kebetulan antara @rabusyahbana, Akid dan pemilik warkop @BjongNgopi. Mulanya 2 bulanan
3 Setelah edisi kelima, pemilik @BjongNgopi membebaskan @Ngopinyastro. Komunitas ini pun bergerak dari ruang ke ruang
4 @rabusyahbana meluncurkan buku kumpulan puisi #PerahuNapas, ditulis 2011-2014. Merekam jejaknya sebagai penyair
5 Tidak semua peristiwa dapat dijelaskan, tetapi puisi mampu memrepresentasikannya. Itulah nikmatnya puisi bagi @rabusyahbana
6 Tema #PerahuNafas @rabusyahbana mengangkat hal-hal sederhana. Seperti kelaparan sebelum tidur dalam puisi Debu, Angin & Aku (hal.38)

7 Tentang judul #PerahuNapas, “napas” dari dua lubang hidung, napas pertama dan napas terakhir. @rabusyahbana
8 Sementara “perahu” melayari jarak antara napas pertama menuju napas terakhir.Karena pelayaran itulah, #PerahuNapas diluncurkan @rabusyahbana
9 Selain dalam #PerahuNapas, puisi2 @rabusyahbana lainnya juga terkumpul di beberapa antologi bersama
10 @rabusyahbana pernah mengalami trauma kehilangan segepok puisinya, 2006-2009. File hangus, cetak raib.
11 Bagi @rabusyahbana, yg paling sulit dari puisi adalah menerjemahkan gagasan ke kata-kata. Pikiran berjalan cepat, sementara kata terbata-bata.
12 @rabusyahbana menulis, salah satunya agar ia bisa memberikan warisan kepada anak2nya. Menjadi penyair itu hal lain
13 Guru @rabusyahbana mengatakan bahwa ia tak bakat menulis. Lalu ia menyerahkan setumpuk tulisan selama setahun, untuk berguru
14 Seminggu kemudian @rabusyahbana datang lagi, meminta nasihat puisi. Sang guru lalu menghajarnya hingga subuh menjelang
15 @rabusyahbana mengalami trauma. Ia menjauhi puisi, bahkan buku. Ia benci membaca. tapi ia tetap kembali pada gurunya
16 Satu hal yang diingat @rabusyahbana, menulis itu harus hati-hati, jangan hanya menyusun kata, karena tulisan akan dibaca
17 “Menulis bukan hanya hasil, tapi juga proses. Puisi bisa menjadi mahal karena prosesnya.” @rabusyahbana

18 @rabusyahbana terbiasa mengumpulkan puisi selama 3-4 tahun, lalu mengeditnya. Datanglah tawaran dari penerbit
19 Kendala mengedit puisi bagi @rabusyahbana adalah diri kita di masa lalu. Terjadilah negosiasi antara penyair dan karyanya
20 Perkenalan @rabusyahbana dengan puisi dipaksa oleh temannya. Setelah ia nulis, temannya ini justru menghilang tanpa kabar
21 Chairil Anwar banyak mempengaruhi jalan kepenyairan @rabusyahbana. Lalu Iman Budhi Santosa dan Zulkifli

22 Komik menjadi bacaan pertama bagi @rabusyahbana. Lalu terpikat dengan The Name of the Rose Umberto Eco
23 Musashi karya Eiji Yoshikawa dan ROnggeng Dukuh Paruh karya Ahmad Tohari masih melekat diingat @rabusyahbana

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan