-->

Esai Toggle

Hanputro Widyono | Berebut Buku di Solo Membaca 2015

Lembaga Pers Mahasiswa Kentingan Universitas Sebelas Maret menggelar bazar buku murah bertajuk Solo Membaca 2015 di gedung pusat kegiatan mahasiswa UNS. Acara yang mengusung tema ”Ba(n)caan” tersebut berlangsung pada 8-13 Juni dengan menghadirkan puluhan penerbit lokal dan nasional. Ribuan judul buku ditawarkan mulai Rp 3.000 sampai Rp 150.000 per buah.

Lembaga Pers Mahasiswa Kentingan Universitas Sebelas Maret menggelar bazar buku murah bertajuk Solo Membaca 2015 di gedung pusat kegiatan mahasiswa UNS pada 8-13 Juni.

Setiap kali memasuki lokasi bazar, pengunjung disambut dengan kalimat dari tokoh pergerakan kiri paling fenomenal sekaligus kontroversial di Indonesia, Tan Malaka. ”Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi,” begitu bunyinya. Kalimat Tan Malaka tersebut dianggap mampu mewakili keprihatinan panitia terhadap minimnya daya beli dan maraknya pembajakan buku oleh masyarakat, khususnya mahasiswa.

”Selama ini, kan, pembicaraan mengenai minimnya minat baca masyarakat Indonesia terus berlangsung. Bahkan, Human Development Index 2014 menempatkan Indonesia di posisi ke-39 dari 42 negara. Itu sangat memprihatinkan,” kata Ketua Panitia Solo Membaca 2015 Feliana Vinda Vicelia.

Ia menambahkan survei dari Yayasan Reproduksi Cipta Indonesia menyebutkan, hampir semua responden sebanyak 3.000 orang mengaku pernah melanggar hak kekayaan intelektual. Jenis pelanggaran yang dilakukan dosen berupa 13,1 persen membajak, 79 persen menggandakan, dan 7,9 persen mengadaptasi karya. Pelanggaran oleh mahasiswa berupa 34,3 persen membajak, 54,7 persen menggandakan, dan 11 persen mengadaptasi karya. Bahkan, dosen dan mahasiswa menganggap menggandakan buku adalah hal biasa, bukan perilaku melanggar hukum (Kompas, 22 April 2015).

”Karena itulah, bazar buku murah Solo Membaca ini digelar untuk meningkatkan minat baca dan membiasakan mahasiswa membeli buku orisinal sehingga tingkat pembajakan buku oleh mahasiswa dan masyarakat sekitar dapat berkurang,” katanya.

Harga mahal

Harga miring yang ditawarkan di bazar buku dalam acara itu menjadi daya tarik bagi pengunjung. Harga buku yang ditawarkan berkisar Rp 5.000-Rp 20.000. Selama ini, mahasiswa menilai harga buku yang beredar di toko-toko buku sangat mahal, tidak pas dengan kondisi kantong mahasiswa yang sebagian besar masih meminta uang saku dari orangtua.

”Mahal, apalagi buat anak kos seperti saya. Setiap kali membeli buku di toko buku, saya harus mengakali dengan tidak makan. Berbeda dengan di bazar buku seperti ini, sangat murah dan sangat membantu,” kata mahasiswa FISIP UNS, Na’imatur Rofiqoh.

Menyikapi hal itu, penulis dan CEO Indiva Press Afifah Afra mengungkapkan, seharusnya penerbit menjadi perusahaan yang bermitra dengan pemerintah agar harga buku di Indonesia lebih murah. ”Tapi, kenyataannya sampai sekarang penerbit-penerbit di Indonesia masih berjalan sendiri-sendiri serta kurang disokong pemerintah. Belum lagi masalah yang dihadapi penulis di Indonesia. Bandingkan dengan penulis di negara-negara Timur Tengah yang mendapat gaji atau insentif dari pemerintah,” kata Afifah.

Keinginan adanya subsidi harga buku dari pemerintah juga diungkapkan dosen sastra Jawa UNS, Christiana Dwi Wardhana. ”Pemerintah seharusnya menyubsidi buku. Dosen seperti saya, yang sudah PNS pun, bisa bercerai sama istri kalau gaji setiap bulan dipakai membeli buku,” katanya.

Alasan mengenai mahalnya harga buku itulah yang membuat banyak di antara pencinta buku kemudian mencari alternatif agar tetap dapat membaca buku, baik melalui peminjaman buku di perpustakaan, diskusi buku, membeli buku-buku bajakan, maupun memfotokopi buku.

”Fotokopi buku lebih baik daripada tidak pernah membaca buku karena daya beli masyarakat Indonesia terhadap buku masih rendah. Bahkan, ketika saya mewajibkan mahasiswa fotokopi saja, ada yang fotokopi ada yang tidak,” kata Chris.

Kondisi ini mengingatkan kita dengan ungkapan Aristoteles: primum vivere, deinde philosophari, ’berjuang dulu untuk hidup, barulah boleh berfilsafat’. Selama masyarakat Indonesia masih disibukkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup, keinginan untuk membeli buku masih jauh dari pikiran.

Hanputro Widyono, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Indonesia, UNS Surakarta

Sumber: Kompas, 16 Juni 2015, halaman 35

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan