-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Buku Pertamaku – Dadang Christanto | Australia

Lahir di Tegal 2 Mei 1957. Selain perupa dia juga pernah menjalani aktivitas seni yang lainnya. Pernah tergabung dalam Sanggar Bambu ketika SMA, ia banyak belajar pada Untung Basuki. Pada tahun 1965, ayahnya diangkut truk pagi-pagi. Saat itu ia masih SD, tak tahu apa-apa. Ibunya tak pernah mau menjawab jika Dadang bertanya tentang hilangnya sang ayah. Pada akhirnya ia banyak mencari tahu sendiri.

“Aku bangga jadi anak PKI,” kini ia tahu apa yang terjadi dan bangga dilahirkan sebagai anak PKI. Ia menjadikan pengalaman silamnya sebagai ide-ide untuk karya seni rupa dan instalasinya. November 2015 ia membuat pameran di Australia. Pameran senirupa itu ia beri judul “1965”.

Dadang Christanto

1 Lahir di Tegal, Jawa Tengah 2 Mei 1957. Bulan lahirnya juga bulan kelahiran partai di mana ayahnya tergabung. Ia menghabiskan masa kecilnya di Tegal.

2 Selain sebagai seorang perupa, Dadang Christanto juga pernah menjadi awak teater. Dadang Christanto pernah menjadi anggota Sanggar Bambu. Ia banyak belajar dari Untung Basuki, penulis lagu dan anggota Bengkel Teater.

3 Dadang Christanto masuk Jogja pada tahun 1975, sekolah di Sekolah seni Rupa Indonesia, kampusnya di Gampingan. Ia lulus 1879, kemudian ia sekolah malam di Bengkel Teater, sekolah informal yang diajar Rendra, Hariman Siregar, Adnan Buyung dll.

4 Sejak rajin sekolah malam itu ia mempunyai kesadaran tentang politik di Indonesia. Sebelumnya, ia mengaku sebagai anak SLTA biasa yang hobi main dan nongkrong. Ia tidak sekedar belajar teater di Bengkel tapi juga belajar tentang wawasan di luar teater.

5 Dadang Christanto anak keempat dari lima bersaudara. keluarganya tinggal di Desa Kematran, kecamatan Kramat, tak jauh dari kota Tegal. Ia lahir di keluarga Cina, tapi keluarganya, seingatnya, tak pernah menggunakan bahasa Cina. Keluarganya adalah satu-satunya Cina di desa itu.

6 Ibu dan Bapaknya lebih ke kejawen, mereka selalu bakar kemenyan tiap Jumat Kliwon. Bapak dan Ibunya mengerti betul tentang kejawen, ia sering protes ketika orang tuanya bakar kemenyan karena asapnya ke mana-mana.

7 Rumahnya di Tegal dekat dengan lapangan, di mana Lekra sering menggelar pementasan seni. Rumahnya sering dipakai untuk berias seniman yang akan pentas. Rumahnya juga sering untuk kumpul dan diskusi orang-orang PKI.

8 Ia tak pernah bertanya pada ibunya tentang keanggotaan PKI ayahnya, ia takut melukai perasaan ibunya. Ia pernah bertanya pada tetangganya, tetangganya bilang ayahnya aktivis sering kumpul dengan guru ini dan itu, semua nama yang disebut adalah anggota PKI. Ia pernah menelusuri sejarah 1965 sendiri, bertanya pada tetangga-tetangganya namun tak banyak yang ia dapat.

9 Ia masih duduk di bangku SD, 8 tahun usianya ketika ayahnya dibawa oleh truk pagi-pagi benar. Ibunya menangis, kakak-kakaknya menangis, ia diam karena memang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

10 Ia baru tahu ketika tetangganya mengatakan, “Kae lho Bapakmu nang asrama polisi digebukin.” Ia waktu itu tak bisa memahami kalimat itu. Tapi dari tangisan Mamanya ia tahu, ada sesuatu yang tak beres. Mamanya sering bertemu orang-orang yang dikira Mamanya tahu di mana keberadaan suaminya.

11 Mamanya sering “dipingpong”, informasi yang diterima tentang keberadaan suaminya tak pernah jelas. Katanya di penjara ini, penjara itu, tapi ia tak diijinkan bertemu suaminya. Si “pemberi informasi” sering minta makanan, pakaian, uang, permintaan suaminya kata mereka.

12 Pernah suatu ketika, adik Dadang yang waktu itu usianya 5 tahun diberi ijin untuk bertemu ayahnya. Tapi usia sekecil itu, mana dia tahu itu ayahnya atau bukan. Lama-lama keluarga Dadang seperti diperas, permintaan uang dan barang semakin sering. Sangat dilematis.

13 Dua hingga 3 bulan mencari, tidak pernah bertemu justru harus memberi ini dan itu disaat ekonomi keluarga makin sulit, keluarga Dadang memutuskan untuk berhenti mencari, sudahlah ayah dianggap hilang, kata Dadang.

14 Kesadaran dan pengetahuan tentang ayahnya ia dapat ketika di Bengkel Teater. Ia banyak mendapat pemahaman tentang apa yang terjadi, bukan hanya sekedar dari media, bukan dari kacamata Orde Baru. Ia mulai mencari informasi sendiri, ia mulai tak percaya pada pemerintah!

15 Pergaulan sebagai aktivis membuatnya banyak memperoleh pengetahuan, seperti Surat Nyonya Dewi Kepada Soekarno, ia dulu membacanya. Dari informasi-informasi ini ia mendapat benang merah tentang apa yang terjadi.

16 Ia pernah bertanya pada ibunya apa ayahnya PKI. Bukan, kata sang ibu karena ia tak pernah melihat kartu keanggotaan ayahnya. Ibunya mengalami trauma, pernah ada seseorang lewat depan rumahnya. Ibunya tegang, “Orang itu yang memberi daftar,” kata sang ibu.

17 Hampir sebagian karya Dadang Christanto terinspirasi dari masa lalunya tentu dengan ekspresi-ekspresi yang berbeda. Ada beberapa karya yang sengaja tak pernah ia pamerkan dan pasang di rumahnya, karya-karya tentang 1965 yang terlalu “horor”.

18 Anaknya penah bertanya di mana kakeknya, jika sudah meninggal karena sakit atau tua, karena sakit katanya. Lalu agak dewasa anaknya tanya lagi, ia mlipir bertanya cita-cita anaknya. Jadi plaintonologis. Bagus Gunung, jadi suatu ketika kalau kamu cari tulang belulang dinosaurus kamu akan menemukan tulang belulang kakek kamu.”

19 Secara personal, ia telah bisa menerima apa yang terjadi tapi secara sosial permasalahan ini belum selesai. sejauh pemerintahan saat ini tidak transparan terhadap sejarah, permasalahan ini tak akan pernah selesai.

20 November 2015 Dadang Christanto menggelar pameran di Brisbane, Australia berjudul “1965”. Pameran ini memamerkan karya-karya lukisannya termasuk lukisannya yang berjudul, “Darah Itu Segar Jendral”, plesetan dari Film Pengkhianatan G 30 S PKI “Darah Itu Merah Jendral”.

21 Dadang Christanto ingin sekali bisa pameran “1965” di Indonesia. Sudah sejak tiga tahun lalu, ia menawarkan pemeran ini ke galeri-galeri di Indonesia, peringatan 50 tahun peristiwa 1965 tapi belum ada respons.

22 Dadang Christanto mulai membaca ketat sejak SMA, ia berkawan akrab dengan Heru Kesawa murti, sang penulis naskah teater. Heru menjadi teman diskusinya di bangku SMA. Ketika lulus SMA mereka berniat melanjutkan ke Filsafat karena hobi merenung, Heru duterima Dadang tidak, ia pindah haluan ke Seni Rupa.

23 SMA ia banyak membaca majalah Horison, cerpen-cerpen Hemingway, puisi Pablo Neruda, ia juga membaca novel eksistensialisme, Merahnya Merah karya Iwan Simatupang. Ketika kuliah ia membaca Bebas Dari Sekolah karya Ivan Illich; buku yang membuatnya berpikir untuk terus kuliah atau keluar. Ia juga membaca banyak buku-buku terlarang ketika zaman Orde Baru. Seorang Wartawan pernah bertanya padanya, “Apa yang ingin kamu sampaikan pada Suharto?” Dadang Christanto menjawab, “Suharto, cerita kamu yang benar karena semua cerita ada pada kamu. Padahal harusnya saya katakan waktu itu, Suharto, kamu pembunuh!”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan