-->

Agenda & Donasi Toggle

30 Mei 2015 | 19.30 | Jogja | Bincang-Bincang Sastra 116 – Sesanti Tedhak Siti Iman Budhi Santosa

Studio Pertunjukan Sastra Yogyakarta bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempersembahkan Bincang-bincang Sastra edisi ke 116 dengan acara Ajar Bali Dadi Wong Jawa.

Dalam acara ini akan diluncurkan antologi geguritan karya Iman Budhi Santosa berjudul Sesanti Tedhak Siti yang berisi 57 geguritan yang ditulis sejak tahun 1980-an hingga 2014. Diselenggarakan pada hari Sabtu, 30 Mei 2015 pukul 19.30 WIB. di Pendapa Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai pembicara adalah Purwadmadi dan Iman Budhi Santosa dipandu oleh Hayu Avang Darmawan.

Selain itu akan ada penampilan pembacaan geguritan oleh Anes Prabu Sadjarwo, Asti Pradnya Ratri, Dwika Ningrum, Gilang Sanjaya, Purwito Aji Yuwono, dan Linda Prasetyaningsih, serta tembang gurit oleh Thangthing Unine.

Ing antologi menika kula mboten saged caos geguritan kanthi cacah mirunggan. Awit mboten sedaya geguritan ingkang kula serat saged kapacak ing riki. Kula namung nglempakaken geguritan wiwit taun 1980-nan ingkang caket kaliyan téma irah-irahan ing nginggil: Sesanti Tedhak Siti. Kula kinten cacahipun geguritan ing antologi menika cekap kanggé nggambaraken maknaning irah-irahan kasebat. demikianlah disampaikan Iman Budhi Santosa dalam pengantar buku tersebut.

Meskipun demikian, geguritan karya penyair kelahiran Magetan 67 tahun silam ini sangatlah menarik untuk ditelisik lebih dalam. Seperti telah diketahui, di jagad sastra Indonesia Iman Budhi Santosa dikenal kuat dalam merangkai kata-kata menjadi puisi. Namun perlu disadari pula bahwa hampir seluruh tema dalam puisi-puisinya bernuansa budaya Jawa.

Di sinilah letak keistimewaannya, bahwa buku Sesanti Tedhak Siti ini adalah antologi geguritan tunggal pertama karya Iman Budhi Santosa. Boleh jadi, gagasan-gagasan dalam geguritan ini merupakan inti momen puitik yang dialaminya. Oleh karena itu, tidak ada kata dalam bahasa Indonesia yang mampu mewakili mengungkapkannya sebagai sebuah puisi.
Sesanti Tedhak Siti, memiliki folosofi yang mendalam berkaitan dengan proses perjalanan hidup manusia di dunia.

Sebagai manusia Jawa, hari ini, di era modern ini kita semua banyak disuguhi dengan hal-hal menakjubkan, sehingga hal yang menakjubkan itu menjadi tak menakjubkan lagi. Terkadang hal tersebut membuat kita lupa diri, membuat kita buta, kita tak tahu asal dan tujuan hidup ini. Maka dari itu, marilah kembali, ajar bali dadi wong jawa, sudah saatnya kita kembali menziarahi tanah Jawa sebagai kampung halaman tempat pertama kali kita menginjakkan kaki. Barangkali demikianlah ajakan Iman Budhi Santosa melalui karya geguritannya ini.

Tertanda,
Latief S. Nugraha, Sekretaris Studio Pertunjukan Sastra

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan