-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Komunitas – Ultimus dan Produksi Buku Kiri | Bilven Sandalista | Bandung

Ultimus didirikan anak muda bernama Bilven dan kawan-kawannya yang pada kelokan zaman lalu memilih dan fokus pada terbitan-terbitan buku bertema kiri dan PKI; kaum yang selalu jadi tabu untuk membincangkannya. Bilven menuturkan dengan rinci buku-buku yang telah diterbitkan dan buku-buku penting yang mesti dibaca untuk sebuah pencarian kebenaran dalam sejarah.

Program Komunitas ini spesial menampilkan kultur lembaga yang dikelola sekelompok orang yang percaya pada buku cetak dan mempropagandakannya dengan keras kepala lewat buku tentang nasib kaum paria dalam sejarah besar Indonesia.

Bilven Ultimus

1 Sejak 2004 penerbit buku kiri bernama Ultimus ini telah menerbitkan sekira 80-an judul buku. Tiga arus besar kategori terbitan Ultimus. Pertama, terjemahan karya-karya Marxisme klasik.

2 Dalam golongan ini terdapat buku babon Kapital (I, II, III), Anti Duhring (F Engels), Anarkisme dan Sosialisme (G Plekhanov), Seni dan Kehidupan Sosial (G Plekhanov), Hubungan Estetik, Seni dan Realitas (Nikolai Chernyshevsky).

3 Semua terjemahan karya klasik itu dikerjakan oleh Oey Hay Djoen via Hasta Mitra. Nama pena Oey adalah Samanjaya atau Ira Iramanto.

4 Oey Hay Djoen adalah anggota Pimpinan Pusat Lekra. Rezim Soeharto membuangnya ke Pulau Buru. Sekembali dari Buru itulah kerja Oey adalah menerjemahkan.

5 Golongan buku kedua yang diterbitkan Ultimus adalah terkait sejarah kiri di Indonesia. Seperti buku “Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI” karya Busjarie Latif. Latif adalah ketua lembaga sejarah PKI.

6 “Tanah Merah yang Merah”, sebuah kronik sejarah Digul yang disusun Koesalah Soebagyo Toer. Terkait dengan sejarah Digul juga, Ultimus menerbitkan karya Petrik Matanasi, “Thomas Najoan”.

7 “Soekarno: Biografi Politik” yang ditulis pemikir dari Uni Sovyet dan diterjemahkan langsung dari bahasa Rusia. Buku pertama yang berbicara Sukarno dari muda hingga dijatuhkan dari sisi blok komunis.

8 Karya Suar Suroso “Akar dan Dalang: Pembantaian Manusia tak Berdosa dan Penggulingan Bung Karno”. Suar Suroso adalah eksil dan tinggal di Tiongkok.

9 Golongan buku ketiga yang diterbitkan Ultimus, dan ini terbanyak, adalah memoar/prosa/puisi yang ditulis tahanan Pulau Buru atau mereka yang eksil.

10 Yang pertama terbit puisi “Angin Burangrang” karya Sjamsir Muhammad. Ia bukan sastrawan, melainkan sekretaris umum BTI. Terbuang ke Buru. Ia merekam ingatannya dalam sajak-sajak.

11 Buku puisi yang diterbitkan Ultimus dari para tapol dan eksil, antara lain karya: Chalik Hamid (eksil di Belanda), Nurdiana (eksil di Tiongkok), HR Bandaharo, S Anantaguna, Sutikno WS, Mawi Ananta Joni (eksil di Belanda).

12 Buku jenis prosa/memoar yang diterbitkan Ultimus, antara lain karya Sarkawi Manaf (Eksil di Swedia), Tri Ramidjo, Tatiana Lukman, M Ali Hanafiah, Harsono Sutedjo, Joko Sri Mulyono, NH Atmoko, Sobron Aidit, dan HH Ong.

13 Alasan Ultimus menerbitkan buku-buku tapol, selain penting, karena tak banyak penerbit yang mau menerbitkannya. Bagi Ultimus, buku kiri itu penting disebarluaskan untuk memberi gambaran atas peristiwa masa lalu. Buku2 ini melawan cerita propaganda versi penguasa.

14 Menerbitkan buku kiri itu menyenangkan karena kita berinteraksi langsung dengan kisah pelaku kekerasan politik masalalu.

15 Di masa awal penerbitan umumnya hubungan dengan penulis eksis dilakukan hanya dengan email, telepon. Menerbitkan buku di luar arus utama modalnya mula-mula bersandar pada kepercayaan.

16 Sama dengan buku jenis lain, termasuk buku kiri, kesulitan menjual buku di Indonesia itu memang sulit. Dalam konteks jual buku kiri, kesulitan jualnya sepadan dengan kebanggaan ketika menerbitkannya.

17 Lima buku kiri yang paling direkomendasikan Ultimus untuk Anda baca: (1) “Kapital” (2005) karya Karl Marx. Buku terjemahan Oey Hay Djoen ini berisi penjelasan tentang modal, nilai lebih, penghisapan kapital, krisis. Tidak mudah dibaca karena banyak istilah-istilah teknis soal ekonomi dan filsafat.

18 Buku kedua paling direkomendasikan: “Soekarno: Biografi Politik” (2009) karya M.S. Kapitsa, N.P. Maletin. Ini buku pertama tentang Sukarno yang ditulis orang asing dari blok komunis dan mengambil sudut pandang marxisme.

19 Buku ketiga paling direkomendasikan Ultimus: “Manifesto Komunis” (2015) karya Marx & Engels. Berisi sejarah ringkas dan padat tentang perjuangan kelas dan benturan-benturan kerasnya dalam sejarah.

20 Buku keempat: “Akar dan Dalang” (2013) karya Suar Suroso. Berisi musabab terjadinya pembantaian massal dan peristiwa politik yang mengiringinya.Saat ini Suar tinggal di Tiongkok.

21 Buku kelima: “Manuskrip Sejarah PKI ke-45” (2014) karya Busjarie Latif. Naskah ini ditemukan di Tiongkok dalam bentuk ketikan lama. Buku ini versi sejarah PKI dan ditulis pihak internal.

22 Buku manuskrip ini penting karena berisi babakan-babakan sejarah bagaimana peran PKI dalam membangun bangsa sebelum dihancurkan tahun 1965.

23 Manuskrip PKI ini menjadi buku putih yang menjelaskan kiprah PKI di luar narasi besar lawan-lawannya yang menghantamnya tanpa tersisa sebutir pun kegiatan bajik yang dilakukan partai pemenang no 4 pemilu pertama di Indonesia ini.

Demikian #23Tweets Program Komunitas bersama pendiri Penerbit Ultimus Bandung, Bilven Sandalista @sandalista1789. Sampai jumpa di program-program Radio Buku berikutnya. Radio Buku, Mendengarkan Buku, Membuka Cakrawala!

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan