-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Katalog Seni – Moelyono | Tulungagung

Karya seninya tentang KUD pada tahun 80-an di ASRI Yogyakarta mengantarkannya pada julukan aktivitas seninya di kemudian hari, yakni seni rupa penyadaran. Bahwa berkesenian berarti terlibat. Karena itu ia memilih menjadi guru di sebuah desa di Tulungagung.

Moelyono konsisten menjalani aktivitas berkesenian yang berpihak dan melibatkan masyarakat yang mengalami diskriminasi, baik politik, ekonomi, maupun diskriminasi tubuh.

Moelyono (Dok Gelaran Almanak)

Moelyono (Dok Gelaran Almanak)

1 Moelyono adalah perupa dengan minat yang luas: lukis, performance art, instalasi, dan pegiat pendidikan masyarakat pinggiran, terutama anak-anak, lewat wadah LSM.

2 Sejak kecil Moelyono menyukai Kitab Perjanjian Lama yang dipunyai tetangganya. Bukan isi kitab itu, melainkan gambar-gamabr di dalamnya. Sebagai pegawai pesuruh di kabupaten (Tulungagung), ayah Moelyono kerap membawa pulang majalah-majalah Soviet berukuran besar dan seri-seri kawasan di Indonesia. Gambar-gambarnya menarik minat Moelyono.

3 Dengan kemampuan menggambar di atas rata-rata, Moelyono sejak SD selalu menjadi pilihan bila menggambar peta bumi. Karena suka menggambar, maka sewaktu di SMP Molyono suka komik. Ngefans berat dengan komik Teguh Karya, mulai menggambar komik dengan gaya ala Teguh Karya. Sebagai fans, Moelyono sampai mendatangi idolanya untuk mendapatkan suntikan semangat. Komik yang mempertemukan Moelyono dengan cersil Kho Ping Hoo. Ia mesti bersaing bercerita sebanyak-banyaknya dengan teman-temannya keturunan (Tiongkok) yang dominan di SMP berbasis Katolik.

4 Majalah Aktuil mengisi ceruk-sadar Moelyono. Sejarah musik The Beattle, Queen, hingga God Bless diketahui Moelyono dari majalah yang digawangi Remy Silado dari Bandung itu. Majalah itu pula yang mendorong Moelyono menggambar dengan pensil tokoh-tokoh musik legendaris dari Liverpool itu. Apalagi di Aktuil ada rubrik Galeri Pop Art yang diasuh Sanento Yuliman dan Jim Supangkat.

5 Di SMA kepercayaan diri menggambar Moelyono tumbuh baik. Bahkan seluruh isi kelas jika ada tugas menggambar semuanya dibuatkan Moelyono. Betapa senangnya Moelyono, siswa dari desa di sebuah kabupaten di pelosok Jawa, saat gambarnya Hanuman pegang gitar dimuat di Aktuil. Komentar ayahnya datar saja: “Karena kamu beli Aktuil, maka gambarmu dimuat”. Tapi diam-diam ayahnya memperlihatkan gambar itu ke kepala kantor kebudayaan kabupaten saat bertamu di rumah. Dengan rasa bangga tentu saja. Galeri Pop Art Aktuil itulah yang memantapkan hati Moelyono untuk memasuki ASRI Yogyakarta.

6 Sebagai pesuruh, ayah Moelyono sering membawa pulang koran-koran di kabupaten. Dari koran yang memuat cerita, Moelyono belajar menulis. Tentu saja cerita dan puisi mbeling Remy Silado di Aktuil sangat berpengaruh. Guru bahasa Moelyono–juga sebagai wartawan Kompas di Tulungagung–mendorong untuk menulis di mading.

7 Dengan menjual sepeda, Moelyono memasuki ASRI. Saingan utamanya saat menggambar adalah mahasiswa asal SMSR dengan gambar awal (untuk siswa dari SMA): pemandangan alam. Hasilnya gagal total. Moelyono sempt drop: jurusan lukis, tapi lukisan ditolak. Karena berasal dari SMA, Moelyono merasa sangu bacaannya jauh lebih memadai ketimbang lulusan SMSR dengan skill menggambar di atas rata-rata. IPK Moelyono di tahun pertama 3.6. Nilai itu mengantarkannya mendapat beasiswa dari Affandi.

8 Di semester 3, Moelyono berada satu lingkup kos Gampingan Baru 23 dengan kakak-kakak kelasnya yang tiap malam menghabiskan waktunya berdiskusi. Ada Haris Purnomo, Gendut, Ronald Manulang, Dede Ari Supria, Bonyong, dan banyak lagi. Modal diskusinya buku bergambar yang “dipinjam” dari ASRI. Juga sejarah seni modern hingga avant garde dan pop art.

9 Hasil diskusi intensif itulah melahirkan dua kali pameran yang menghebohkan jagad seni rupa Yogyakarta dengan nama “Pipa” (Kepribadian Apa). Moelyono yang masih gundul diikutkan dalam pameran yang dibubarkan polisi di Gedung Senisono itu.

10 Yang diingat Moelyono, pendidikan di Gampingan 23 itu keras sekali. Dia seperti di-drill. Dipaksa membaca sebanyak yang bisa dijangkau. Selain berdiskusi yang keras, juga Moelyono termotivasi menulis. Di antara anggota PIPA, Gendut yang rajin menulis, dan kultur itu didapat dari Agus Dermawan T.

11 Kultur diskusi dan membaca/menulis di Pipa dekat dengan kultur aktivis yang jago baca buku dari UGM, terutama arsitektur di bawah naungan pemikiran Romo Mangun dan mahasiswa sastra arahan Umar Kayam. Pipa juga dekat dengan Bengkel Teater Rendra. Terbentuklah kultur kaki tiga: Gampingan-Bulaksumur-Patangpuluhan (Bengkel Teater).

12 Dari praktik seni di Pipa itu–pernah membuat praktik environmental art di Parangtritis–Moelyono pulang ke Tulungagung dan merespons batuan yang membentuk figur legenda rakyat Joko Budeg dengan membuat cikrak besar di atasnya. Sewaktu memasangnya, Moelyono dibantu masyarakat setempat, selain pemanjat tebing terlatih. Seni Cikrak Joko Budeg itu bikin geger dua desa yang segera menggelar upacara selamatan. Itulah awal Moelyono sadar secara natural bagaimana kesenian terlibat dalam masyarakat.

13 Moelyono juga terinspirasi dengan sosok dosen ITB yang mengabdikan ilmunya di pelosok. Romantika itulah yang membuat Moelyono memasuki kampung pantai Brumbun, Tulungagung untuk menjadi guru gambar. Sewaktu ngajar gambar ikan dalam kelas apa adanya, anak-anak Brumbun diam saja. Bertambah-tambah gugupnya Moelyono ditonton oleh orangtua murid yang berkerumun dan menonton dari dinding kelas. Pada akhirnya Moelyono memutuskan ikut anak-anak menggambar sambil main di pantai dengan medium alam: menggambar di pasir. Ternyata murid-murid Moelyono pada dasarnya tak punya buku gambar. Di atas pasir Brumbun itulah Moelyono mengajarkan kepada siswa-siswanya secara sederhana teori-teori dasar menggambar: titik dan garis.

14 Inspirasi petani di areal rawa (sebelah barat batu Joko Budeg) menjadi mata inspirasi Moelyono melahirkan seni instalasi Kesenian Unit Desa (KUD) yang dijadikannya tugas akhir. Tikar digelar di halaman kampus ASRI Gampingan. Di atas pincuk ada tanah, enceng gondok, tanaman cabe, bayam. Moelyono bermaksud dunia akademik seni bisa mendialogkan problem sosial yang dihadapi warga. Tapi semua dosen penguji yang dipimpin Saptoto menolaknya sebagai tugas akhir di jurusan lukis. Seluruh penguji ke luar ruang dan meninggalkan Moelyono sendirian di podium. Tanpa dialog apa pun.

15 Pengalaman menjadi guru gambar di Brumbun yang mengantarkan Moelyono menjadi fellowship di Ashoka. Sebuah LSM internasional yang peduli pada penguatan pendidikan dan kerja kreatif alternatif dalam masyarakat. Saat mengikuti pelatihan fellowship Ashoka itulah Moelyono berjumpa dengan bacaan-bacaan bertema transformasi sosial seperti “Pendidikan Kaum Tertindas” karya Paulo Freire. Juga buku Teater Pembebasan, dan sejumlah artikel tentang Marx, Lenin, Mao.

16 Itulah awal Moelyono melakukan safari seni rupa dari Brumbun dari kota ke kota: Jakarta, Yogya, Salatiga. Bahkan ke Philipina bersama Halim Hade mengikuti workshop budaya Asian Council for People Culture (ACPC).

17 Sebagai seniman yang terlibat, Moelyono berjumpa dan tinggal beberapa saat dengan Wiji Thukul di Solo. Di saat yang sama Halim Hade menyiapkan diskusi “Sastra Kontekstual”. Gerakan dan asupan bacaan yang sebagian besar dibeli di Shoping Center Jogja menjadi modal besar Moelyono untuk meyakinkannya bahwa apa yang dilakukannya memiliki kerangka konseptual. Maka lahirlah buku “Seni Rupa Penyadaran” yang diterbitkan Bentang Budaya.

18 Di Perth, Moelyono memresentasikan kerja-kerja “senirupa penyadaran” pertama kali via ARX (Artist’s Regional Exchange’s). Disusul Asia Pacific Triennial of Contemporary Art (APT) di Brisbane.

19 Di Tokyo, Moelyono bersama lima perupa-aktivis lainnya diundang kurator Akira Tehata merespons tema “A Topic Side”. Membahas di mana seniman tinggal dan apa yang dilakukan di lingkungannya. Itu pertama kali Moelyono merasa pikirannya dihargai secara profesional; baik kuratorial maupun finansial. Moelyono berkolaborasi dengan Min Tanaka. Tanaka adalah seniman-aktivis, pernah berjumpa dengan Che Guevara di Amerika Latin dan memiliki lahan pertanian untuk bertani dan menggelar instalasi seni. Moelyono membuat 10 patung dan Min Tanaka melakukan pertunjukan tari telanjang yang seluruh badannya dilumuri lumpur sawah.

20 Moelyono pernah mengajar di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan Petra Surabaya. Saat itulah Moelyono mendapat job mengasuh rubrik Galeri Gambar di Surya yang diisi buruh-buruh yang tinggal di Rungkut. Juga polisi. Galeri Gambar bukan untuk seniman, melainkan Rakyat.

21 Lembaga buruh yang sedang tangani kasus terbunuhnya Marsinah mengajak Moelyono untuk tahlilan 100 hari. Sebelas buruh teman Marsinah difasilitasi Moelyono bikin pameran cukil kayu dan instalasi patung jerami yang diinterogasi di Koramil di Balai Pemuda Surabaya.

22 Saat pembukaan pameran Marsinah, pintu Balai Pemuda Surabaya disegel Letkol Badri. Tanpa surat. Tanpa pemberitahuan. Juta tak ada koran yang membela. Bahkan pembelaan dari seniman dan akademisi senirupa. Dibantu Munir, negosiasi Moelyono dengan tentara gagal. Sampai-sampai istri Moelyono menangis dan memberitahu supaya tidak usah selenggarakan pameran yang aneh-aneh.

23 Di Tulungagung, Semsar Siahaan dan Wiji Thukul dari Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) menemui Moelyono. Kata Semsar: “Saat ini (1993) kamu yang ditutup, besok giliran kita. Kita harus saling bantu”.

Demikian #23Tweets Program Katalog Seni bersama perupa Moelyono. Sampai jumpa di program-program selanjutnya di Radio Buku Live Streaming. Mendengarkan Buku, Membuka Cakrawala.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan