-->

Lainnya Toggle

#23Tweets | Angkringan Buku: Pram dalam Kelambu – Soesilo Toer | Blora

Soesilo Toer adalah anak ketujuh dari pasangan Mastoer dan Siti Saadah. Lahir di Blora pada 1937. Sebagai adik kesayangan Pramoedya Ananta Toer, jalan hidup Soesilo Toer tidak mulus. Dalam garis tangannya, derita dan keringat menjadi jalan hidup.

“Percaya gak, saya sampai saat ini adalah Rektor. Ngorek yang kotor-kotor. Saya adalah pemulung. Ketika orang beranjak tidur, saya kelayapan di kota blora mencari sampah yang bisa ditukar jadi uang,” katanya sambil terkekeh. Getir, tapi tanpa penyesalan.

Lewat buku “Pram dalam Kelambu” — dan sebelumnya, “Pram dari Dalam” — Soesilo Toer membaca sosok Pram dengan jalan proses kreatifnya yang bergelombang dengan cara yang kritis. Pram mengembalikan Pramoedya Ananta Toer seutuhnya sebagai manusia dengan segala lebih dan kurangnya.

Soesilo Toer (Koleksi Pataba)

Koleksi Pataba Press

1 Soesilo Toer 17 Februari 1937. 78 tahun saat ini. Pram hanya 81 tahun. Dalam soal umur saya lawan dia. Soesilo Toer adalah adik yang dibanggakan Pram. Beda usia 12 tahun 12 hari. Dari soal umur, Soesilo berjuang melampaui kakaknya. Bagi Soesilo, Pram adalah pendorong dirinya untuk belajar menulis, hidup berani, dan tak boleh meminta pada orang lain. Kalau Pram tenar dan kaya di jalan buku, Soesilo Toer menjiplaknya dalam soal sebaliknya: kemiskinan dan derita

2 Enam tahun hidup Soesilo dijalani dalam penjara Orba sebagai hadiah rezim setelah lulus sebagai master di Univ Ptrice Lumumba dan doktor di Institut Plekhanov Uni Soviet. Bagi Soesilo hidup dalam derita dan kemiskinan adalah aplikasi dari akronim Toer yang melekat di nama anak-anak Mastoer: tansah ora enak rasane.

3 Semasa nyawa masih melekat di badan, Soesilo Toer ingin menulis lima buku atau Pentalogi. Yang sudah terbit Pram dari Dalam (2013), Pram dalam Kelambu (2015), dan Pram dalam Bubu (2015). Yang belum: “Pram dalam Belenggu” dan “Pram dalam Tungku”.

4 Menulis itu bukan mencari hadiah, tapi mencari makna hidup dan berjuang, kata Pram kepada Soesilo. Pram berjanji kepada Soesilo untuk menyekolahkannya jadi mister dan doktor. Tapi baru sebulan di Batavia cuma dikasih Rp 10 sebulan. Sisanya disuruh cari sendiri dan jangan minta.

5 Jangan minta, dengan segala perkecualiannya, adalah benar. Tapi tidak selalu begitu. Sebab saat manusia lahir sudah menyandang profesi sebagai debitor!

6 “Pram dari Dalam” tentang episode kreatif Pram tatkala belum terikat oleh lembaga tertentu. Sementara “Pram dalam Kelambu” periode masuk memenjara diri sendiri, keluarga. Bagi Pram, kawin itu penjara. Dan semua orang berbondong-bondong memasukinya. Yang dipikirkan enaknya, bukan kesengsaraannya.

7 “Pram dalam Bubu” adalah episode saat Pram memasuki perangkap dan tak bisa keluar. Bubu adalah alat penangkap ikan dari bambu. Sekali masuk, tak bisa keluar lagi. Menulis adalah bubu bagi Pram. Tak pernah bisa keluar lagi dari bubunya sendiri. Mottonya: menulis sebagai tugas nasional.

8 Di Blora, Soesilo Toer menjadi pemegang obor yang terus menyalakan semangat TOER. Perpustakaan Pataba yang dijaga Soesilo Toer dan puteranya Beene Santoso menjadi tapal bahwa rumah seluas 3 ribu meter persegi di Jl Sumbawa 40 adalah rumah anak semua bangsa. Saat 1000 hari meninggalnya Pram, Perpus Pataba Blora dihadiri sekira 55 komunitas dan menggelar acara selama lima hari.

9 Fungsi perpus Pataba dibikin agar membaca dan menulis menjadi kultur. Namun yang disedihkan Soesilo, di RT 1 di Jetis di mana perpus Pataba berdiri terdapat 10 keluarga guru. Selama 9 tahun perpus Pataba buka, belum ada satu pun datang dan meminjam buku.

10 Untuk menumbuhkan minat menulis pada siswa, sejak 2013 Pataba menyelenggarakan lomba menulis. Hadiahnya 2 juta dirogoh dari kantong “rektor” Soesilo Toer. Khusus untuk siswa Blora, seburuk apa pun tulisan mereka yang masuk, diberi sangu Rp 50 ribu dan piagam. Walau begitu, tetap saja Pemerintah Blora menganggapnya sebagai “perpustakaan liar”.

11 “Dalam menilai karangan, satu buku sejuta pendapat,” kata Soesilo Toer. Demikianlah karya Pram diperlakukan pembacanya. Datanglah anak tertua yang ayahnya aktif di Masyumi Pasuruan ke Blora dan menunjukkan bekas luka di kepalanya karena digolok PKI. Dia bilang: “Saya gak peduli siapa Pram. Saya kagum dengannya. Walau tak berkesempatan menemui Pram, tapi saya bahagia bisa menemui adiknya untuk menjelaskan Pram itu PKI, komunis, ateis. Saya datang ke Blora ini seperti umrah.”

12 Soesilo Toer tahu bahwa Pram itu pernah naksir pada tantenya sendiri. Saat istri dari om-nya itu pulang ke Kediri, Pram dengan semangat mau mengantarkan tantenya itu. Soesilo Toer mendengar cerita itu dari tantenya yang ditaksir Pram.

13 Usai Pram diusir dari istri pertamanya, Arvah Iljas, dan berpacaran dengan Maemunah Thamrin, Soesilo Toer kebagian tugas mengantar surat-menyurat mereka. Sebelum surat sampai, semuanya terlebih dahulu dibuka dan dibaca Soesilo. “Saya memang perantara cinta Pram dan Maemunah yang bajingan!” kata Soesilo Toer.

14 Pram punya kelebihan dan kekurangan. Semua orang pintar, namun berbeda kemampuan. Pram berkali-kali nempeleng adiknya. Keras dalam mendidik. Jadilah sang politgot Koesalah Soebagyo Toer sarjana di kampus Kabelnaya, Moskow. Jadilah Soesilo Toer jadi mister-mister dan doktor-doktor yang pekerjaan tertingginya adalah “Rektor”. Adik kebanggaan.

15 Menurut Seosilo, dia dan Pram sama-sama bodohnya. Pram tamat SD setelah ditempuh 10 tahun, Soesilo mesti butuh waktu 8 tahun untuk tamat SMP. Pram dibodohkan oleh bapaknya. Dan Soesilo Toer dibodohkan oleh siapa?

16 Rasa merdeka dan tahu menyelesaikan masalah adalah hakikat pendidikan. Soesilo Toer paham betul soal bahwa tujuan pendidikan adalah makna, bukan harta. Makanya, anak semata wayangnya Benee Santoso dibebaskan memilih mau jadi apa. Ben lulusan STM partikelir di Blora dan diterima bekerja di Astra Jakarta dengan gaji 15 sampai 20 juta per bulan. Tapi Ben lari dari perusahaan beken asal Jepang itu karena terobsesi oleh Pram: tak mau terus-terusan jadi kuli (Jepang). Dia memilih jadi petani-peternak merdeka, punya tanah garapan sendiri, punya kandang kambing, dan menemani bapak-ibunya di Blora.

17 Ben berkata kepada ayahnya: “Saya tak butuh warisan dari Bapak. Serahkan saja rumah di Blora itu untuk negara sebagai heritage”. Soesilo Toer tercekat. Anak segitu bisa punya pandangan merdeka seperti itu karena obsesi terhadap apa yang dilakukan Pakde-nya Pramoedya. “Dalam keluarga Toer, pendidikan itu dibiarkan. Bukan disuruh-suruh, tapi kesadaran untuk melakukan sesuatu” kata Soesilo Toer. “Semua orang adalah guruku; semua tempat adalah sekolahku” menurut Soesilo Toer adalah ajaran pendidikan yang benar.

18 Buku Pram pertama yang mempengaruhi Sesilo Toer adalah “Keluarga Gerilya”. Buku kedua, “Ibunda” karya Maxim Gorki. Buku Ketiga yang berpengaruh: “Max Havelaar” karya Multatuli yang dibaca Soesilo Toer dalam bahasa Rusia. Lenin mengomentari buku Multatuli itu: Begitulah kejamnya penjajahan Belanda itu. Kalau terjadi revolusi, itu wajar!

19 Buku keempat yang berpengaruh adalah: “How The Steel Was Tempered” karya Nikolai Alexeevich Ostrovsky. Buku yang ditulis tangan. Belum selesai, ia lumpuh da disusul buta. Novel pun ditulis dengan cerita lisan kepada sekretarisnya. Soesilo Toer mendapatkan buku itu sebagai hadiah lomba menulis di kampusnya di Moskow. Saat di Moskow itulah ia mendapatkan pengalaman sebagai kuli kerja memperbaiki rel kereta trans-Siberia di sekitar Danau Baikal.

20 Buku kelima yang tak dilupakan Soesilo Toer adalah “Tenggelamnya Kapal v.d. Wijk” karya Hamka.

21 Soesilo Toer ke Moskow tahun 1962 setelah menjadi veteran Trikora. Pangkat terakhirnya adalah Letnan. Kalau Pram pernah berpangkat Letnan dari kesatuan Siliwangi. Soesilo adalah veteran tanpa bayaran, tanpa teken prestasi. Itulah pejuang sejati, kata Tan Malaka. Tahun 1973 pulang ke NKRI dan langsung diberi penghormatan oleh negara: Tahanan Politik.

22 Banyak yang kagum pada lulusan Jerman yang membiayai hidupnya dengan jualan botol bekas. Tapi Soesilo Toer, Phd dari Moskow, sejak kecil hingga sekarang tanpa malu berprofesi sebagai “Rektor”; ngorek yang kotor-kotor. Menjadi rektor adalah pertahanan hidup. Masih ngemut ditinggal mati ibu. Belum tamat SD ditinggal bapak. Di Jakarta, di Moskow, hingga di Blora sekarang, kerja Rektor tetap ditekuni Soesilo Toer. Jam kerja Rektor Soesilo Toer dimulai pukul 1 dini hari saat orang-orang terlelap tidur.

23 Kata-kata Pram yang paling mengiang dalam hidup Soesilo Toer adalah: “Jangan Minta!” Kata-kata itu kristalisasi dari kehidupan neneknya, si mata biru, yang menghidupi sendiri hidupnya pasca diusir dari rumah penghulu Rembang. Kalau ada keluarga yang malu kalau tahu nenek mereka gembel, babu, dan tuna susila di Surabaya, maka Soesilo bangga betul. Manusia bukan dilihat dari posisi akhirnya, tapi bagaimana semangatnya untuk tidak tumbang dari kehidupan. Dari babu itulah lahir cucu bernama Pramoedya Ananta Toer.

Booklovers, demikian Program Angkringan Buku bersama Soesilo Toer dari Blora. Radio Buku; Mendengarkan Buku, Membuka Cakrawala. Sampai Jumpa!

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan