-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Angkringan Buku – Gregorius Soeharsojo Goenito

Gregorius Soeharsojo Goenito adalah pelukis yang berdomisili di Surabaya, Jawa Timur. Gregorius Harsojo Goenito dulu aktif di Lekra (1963-1965) sebagai pemain teater sebelum akhirnya harus diasingkan ke Pulau Buru. Ia tengah mempersiapkan buku perjalanan kisahnya berjudul “Tiada Jalan Bertabur Bunga” terbit tahun ini. Booklovers, simak kisah Gregorius Harsojo Goenito di Nusa Kambangan, Pulau Buru, juga pertemuannya dengan Pramoedya Ananta Toer di radiobuku.com
Berikut #23tweets kisah beliau di #AngkringanBuku
Tayang pada 19 Mei 2015

1. Gregorius Soeharsojo Goenito (78 tahun) merupakan pelukis yang berdomisili di Surabaya. Ia belajar melukis sejak di Sekolah Rakjat. Selain melukis, ia juga menguasai beberapa alat musik.

2. Sejak kecil Gregorius memang bercita-cita ingin menjadi seorang seniman yang baik. Ia menempuh sekolah tingkat atas atau SMA di Taman Siswa. Pada tahun 1957, ia mulai tertarik dengan seni drama. Ia pernah menonton pertunjukan tetaer yang dibawakan Bagong Kusudiharjo.

3. Pada tahun 1963 Gregorius bergabung dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) di Surabaya, sanggarnya bernama sanggar Sura (Seniman Untuk Rakyat).

4. Menurut Gregorius, lekra adalah kesenian rakyat, tanpa dibentuk kesenian rakyat akan tetap ada. Fungsi lembaga Lekra hanyalah untuk menghimpun pelaku kesenian tersebut.

5. Sedikit membandingkan seniman masa itu dengan sekarang, Gregorius berpendapat bahwa dalam Lekra yang terpenting bukan ketika seseorang tampak “nyeniman” tapi bagaimana ia bekarya.

6. Di Sanggar Sura, Gregorius mempelajari banyak hal, dari seni drama, lukis, tari, musik, dan ludruk. Ia tidak hanya piawai memainkan peran dalam drama, ia juga piawai bernyanyi dan menggesek biola.

7. Ketika teman-temannya di sanggar Sura yang mengurus drama pindah ke Jakarta, ia memutuskan fokus mengurus drama di sanggar Sura tanpa meninggalkan seni lukis yang lebih dulu digelutinya.

8. Ia semakin serius di dunia seni, kesibukannya makin banyak. Akhirnya ia yang telah menjadi pegawai negeri waktu itu memutuskan keluar untuk fokus di dunia seni.

9. Ia mengikuti hati nuraninya, seperti yang diajarkan di Taman Siswa oleh Ki Hadjar bahwa yang terpenting dalam pendidikan adalah bagaimana membentuk moral manusia agar bisa mandiri dan memahami kepribadian kesenian itu sendiri, bukan semata ijazah.

10 Pada tahun 1963-1965 sanggar Sura semakin membesar perkembangannya. Banyak anggota-anggota baru yang masuk, Gregorius semakin sibuk melakukan pementasan-pementasan drama.

11 Situasi politik yang memanas pada masa itu antara PKI dan pemerintah, memaksa Gregorius menjadi salah satu seniman Lekra yang ditangkap dan diasingkan ke Pulau Buru.

12 Sebelum dibawa ke Pulau Buru, Gregorius dan tahanan politik yang lain dibawa ke Nusa Kambangan. Di Nusa Kambangan ia baru mengetahui bahwa tokoh-tokoh seperti Soemanjaya, Rivai Apin, dan Pramoedya Ananta Toer juga ikut ditahan.

13 Dalam hati Gregorius berkata, mungkin kalau tidak ditangkap seumur hidup ia tak akan pernah bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer yang waktu itu memang susah ditemui. Ia bangga, bisa menjadi salah satu bagian pergerakan bersama orang-orang yang dia kagumi.

14 Agustus 1969, setelah beberapa waktu di Nusa Kambangan sebelum Ulang Tahun Kemerdekaan RI, Gregorius dan tahanan politik lainnya dibawa ke Pulau Buru. Ia melihat, beberapa tahanan kriminal di Nusa Kambangan melepas mereka pergi, tahanan kriminal itu berpikir mereka akan pulang.

15 Gregorius meninggalkan seorang kekasih ketika ditahan, ia sering merasa sedih. Usianya masih muda, belum 30 tahun kala itu, usia yang masih dipenuhi dengan semangat muda dan gelora percintaan. Ia sering memangis jika mengingat kekasihnya.

16 Kisah perjalanan hidupnya ini ia susun menjadi sebuah buku berjudul “Tiada Jalan Bertabur Bunga” yang direncanakan terbit tahun ini. Buku itu merupakan kisah hidupnya, bagaimana ia mengjar cita-citanya untuk menjadi seniman yang harus melewati masa-masa sulit.

17 Di Pulau Buru ia banyak menghabiskan waktu dengan tetap melukis, melakukan pertunjukan teater, juga mengajari warga masyarakat Pulau Buru asli untuk hidup lebih modern.

18 Ia dan sesama tahanan politik di Pulau buru harus menghadapi banyak hal, rasa rindu pada rumah dan kekasih, menghadapi aparat yang menahan merek, belum juga bagaimana mereka harus makan esok hari. Gregorius mencoba sabar dalam masa itu, sulit, tapi ia percaya bahwa setiap manusia pasti punya ketegaran masing-masing untuk tetap bertahan.

19 10 tahun lamanya ia di Pulau Buru, pada tahun 1979 ia bebas. Ia kini berusaha mengenang Pulau Buru dengan ikhlas. “Aku tak ingin mengenang Pulau Buru sebagai kenangan pahit, nyatanya setiap jalan menuju cita-cita tak selalu indah,” tuturnya.

20 Pramoedya Ananta Toer mulai menulis di Pulau Buru sejak kedatangan Jendral Soemitro. Sejak saat itu Pram memiliki kebebsan untuk menulis. Pramoedya banyak menghabiskan waktu untuk menulis, tapi ia tetap melakukan kewajibannya sebagai tahanan karena mungkin rasa tidak enak pada tahanan lain, tutur Gregorius.

21 Selesai menulis biasanya Pramoedya akan memberikan karya hasil tulisannya pada teman-teman di tahanan dan mereka akan membaca secara bergantian. Gregorius ingat, ia pernah membaca Bumi Manusia di Pulau Buru.

22 Jarak antara tahanan dan pos di mana Pramoedya Ananta Toer bisa menulis dengan mesin tik kira-kira 25 km. Pramoedya harus jalan kaki untuk menempuh jarak itu karena tak ada kendaraan lain. Menurut Gregorius, Pramoedya masih untukng karena ia berjalan tanpa membawa beban biasanya tahanan harus membawa barang dalam gendongan mereka.

23 Kini ia tengah menunggu bukunya “Tiada Jalan Bertabur Bunga” kisah perjalanan hidup beliau terbit | Booklovers mau membaca?

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan