-->

Peristiwa Toggle

143 Buku Terjemahan untuk Frankfurt Book Fair 2015

JAKARTA — Sebanyak 70 buku yang akan dikirim ke pameran buku Frankfurt Book Fair pada 13-18 Oktober 2015 di Frankfurt, Jerman, saat ini masih diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Buku-buku berbagai tema itu melengkapi 73 buku yang telah selesai diterjemahkan. Namun, baru 39 penerjemahan buku yang sudah dibayar melalui subsidi pemerintah.

Penerjemahan 70 buku tersebut ditargetkan selesai pada Juli 2015 sehingga total 143 buku terjemahan bisa dikirim ke Frankfurt Book Fair pada Agustus 2015.

Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan M Muhajir memastikan semua penerjemah akan dibayar tepat waktu sesuai dengan kesepakatan. Bahkan awalnya pemerintah sudah menyetujui subsidi terjemahan untuk 300 buku dari 2.997 yang diajukan, tetapi akhirnya disepakati 200 buku saja.

Penerjemahan 143 buku seharusnya selesai pada 2014 agar pada tahun ini bisa fokus menerjemahkan 57 buku lain hingga genap 200 buku. Namun, menerjemahkan buku butuh waktu lama agar hasilnya berkualitas. Jadi, untuk sementara, 143 buku terjemahan dipastikan dikirim pada Agustus 2015.

“Tidak mungkin selesai 200 buku diterjemahkan hingga Oktober (2015) nanti. Namun, kan penerbit juga punya buku-buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Jadi, ya tetap bisa saja dikirim 200 buku,” kata John McGlynn, penanggung jawab seleksi buku dan penerjemahan Frankfurt Book Fair 2015, di sela-sela jumpa pers di Jakarta, Kamis (30/4).

Menurut McGlynn, menerjemahkan satu buku berbahasa Indonesia ke dalam bahasa asing, khususnya untuk buku sastra, membutuhkan waktu sekitar 18 bulan. Waktu selama itu bisa berkurang atau bertambah, tergantung dari tebal-tipisnya buku. “Buku sastra, apalagi, tidak mudah. Saya melihat banyak terjemahan yang kurang bagus,” kata Direktur Yayasan Lontar itu.

Sebagai perbandingan, Yayasan Lontar perlu 20 tahun lebih untuk menerjemahkan 200 buku. Kini, 200 buku bisa diterjemahkan dalam dua tahun dengan bantuan dana pemerintah.

Menurut sastrawan Ayu Utami, penampilan Indonesia di Frankfurt Book Fair menunjukkan, bangsa ini memiliki pemikiran yang tercatat di dalam buku. Karena itu, penerjemahan buku ke dalam bahasa-bahasa asing menjadi penting. Melalui ajang ini, para penulis Tanah Air bisa tampil bersama sebagai bangsa, bukan orang per orang.

Ketua Komite Nasional untuk Frankfurt Book Fair 2015 Goenawan Mohamad berharap agar penampilan Indonesia di pameran itu bisa berhasil baik.

Demikian dikabarkan harian Kompas edisi 2 Mei 2015, di halaman 12 dengan judul “70 Buku Masih Diterjemahkan”.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan