-->

Tokoh Toggle

Moenaf Hamid Regar | Menulis Mengasah Memori | Medan

Harian Media Indonesia 16 April 2015 menurunkan profil penulis 13 judul buku, Moenaf Hamid Regar. Menulis sejumlah buku menjadi pilihannya untuk tetap mengasah ilmu akutansi dan membagikannya ke masyarakat.16_04_2015_027_003_009 (foto)

Bila lazimnya orang berusia 84 tahun sudah berjalan dan bergerak lamban, tidak untuk Prof Moenaf Hamid Regar, M Acc Sc. Ia masih lincah mengajar akutansi di Fakultas Ekonomi Universitas Sumatra Utara (USU), menulis tiga buku, atau meluangkan waktu sebagai saksi ahli dalam persidangan.
Meski mengaku tidak memiliki rahasia khusus, pria yang memelihara jenggot itu selalu menyempatkan diri lari pagi.

“Saya selalu membiasakan diri untuk joging. Kebiasaan lari ini sudah 40 tahun saya lakukan. Tapi, sekarang lebih banyak jalan pagi saja agar badan dan pikiran terus bugar,“ ujar Moenaf yang ditemui Media Indonesia di kawasan perumahan dosen di Kampus USU Padangbulan, Medan, Minggu (5/4).

Selain disiplin olahraga, Guru Besar Emeritus itu selektif memilih makanan. Makanan dengan kadar lemak dan kalori tinggi sudah lama dihindarinya.

“Terutama makanan yang mengandung kolesterol dan makanan yang menyebabkan asam urat pasti saya jauhi,“ tambahnya. Makanan yang dimaksud Moenaf ialah daging, kacang-kacangan, jeroan ayam, maupun jeroan sapi. “Saya suka makan buah-buahan segar. Makan buah lebih baik daripada makan daging.“

Meski begitu, Moenaf tetap rajin melakukan general check up bersama istrinya, Rozany, setiap enam bulan sekali di Penang, Malaysia.

“Dalam waktu dekat ini saya dan istri saya akan berangkat lagi check up ke Penang,“ kata mantan pengajar Ilmu Akuntansi di Universitas Padjajaran Bandung dan Universitas Trisakti Jakarta ini.

Di usia lanjut, Moenaf masih tetap ingat semua seluk beluk akutansi bak membalik telapak tangan. Ternyata kuncinya ialah kebiasaannya menulis buku kala ia mengajar di USU.Apalagi kini sejak diangkat menjadi Guru Besar Emeritus FE USU tahun 2000, ia semakin rajin menulis buku.Pasalnya, kegiatan mengajarnya tidak seaktif dulu.

“Saya mengajar di USU sekali-kali saja. Yang rutin, seminggu sekali saya memberi kuliah di Pascasarjana UMSU (Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara). Hiburan saya saat ini ialah menulis buku dan mengisi seminar-seminar terbatas,“ ujar ayah empat anak dan kakek 10 cucu ini sambil memperlihatkan kepada Media Indonesia tumpukan buku-buku yang telah dia terbitkan.

Sampai saat ini tidak kurang dari 13 judul buku yang sudah ditulis lelaki kelahiran Bogor, 9 Oktober 1930 ini. Namun, ada tiga judul buku yang sudah ditulis Moenaf, tapi belum kun jung diterbitkan, yakni Kontroversi Subsidi BBM, Anatomi Korupsi, dan Seputar Riba dan Bunga Bank.

“Saya lagi cari penerbit yang cocok dari Jakarta. Setelah itu baru saya terbitkan. Saya berharap di sisa usia sekarang ini, saya masih bisa bermanfaat buat dunia ilmu akuntansi di perguruan tinggi serta untuk bangsa dan negara ini. Semua buku-buku yang saya tulis saya kirimkan ke semua pejabat negara dari mulai KPK, BPK, ICW, dan yang lainnya agar mereka mengkaji pemikiran saya tentang korupsi dan dunia perpajakan,“ ujarnya.Keluarga Hal lain yang tidak kalah penting atas kebugarannya, aku Moenaf ialah rasa syukur kepada Allah dan kehadiran 10 cucu dari tiga anaknya.Kehadiran mereka memberikan semangat baru bagi Moenaf.

16_04_2015_027_003_010Memang saat ini Moenaf tinggal di Medan bersama anak sulungnya, Bauni Hamid dan putri bungsunya, Meilani Hamid, tapi ia sempat tinggal di Bandung bersama anak keduanya, Effrina Yanti, dosen ITB. Sejak pensiun dari USU tahun 2000, ia sempat merasa nyaman tinggal di Kota Kembang karena sering bertemu cucu-cucunya.

Tapi dua tahun terakhir, rasa rindu akan USU sulit terobati. Dia masih diminta memberi kuliah pascasarjana di USU. Bahkan sejak pergantian rektor USU dari Prof Syahril Pasaribu kepada Prof Subhilhar, Moenaf pun masih diminta tenaga dan pikirannya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas USU.

Sayangnya, tidak ada satu pun anaknya yang meneruskan bidang keilmuan akutansi dan perpajakan.Putra sulungnya, Bauni, bekerja sebagai dosen arsitektur fakultas teknik USU. Anak keduanya, Septa Hamid, menjadi kepala divisi supply change management PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Jakarta. Anak ketiganya, Effrina Yanti, menjadi dosen teknik elektro ITB. Sedangkan, si bungsu memilih menjadi wiraswasta.

Justru jejak langkah Moenaf diikuti salah satu cucunya, Santi Jelita Hamid–anak sulung Septa Hamid-yang berkuliah semester 4 jurusan akutansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang.

Sebenarnya anak sulung Moenaf bernama Bauni ingin juga meneruskan bidang keilmuan Moenaf bidang akuntansi dan perpajakan. Itu ditunjukkan ketika dalam ujian seleksi masuk PTN pada 1986, Bauni memilih dua jurusan, yakni pilihan pertama arsitektur ITB dan pilihan kedua akuntansi UI. Tapi, Bauni justru lulus pada pilihan pertama.

Bersama anak-anaknya yang tinggal di kawasan perumahaan dosen kampus USU Padangbulan Medan, Moenaf masih sering berdiskusi tentang apa saja, terutama yang berhubungan dengan perkembangan kampus USU ke depan.“Saya masih cinta dengan USU. Makanya saya sekarang lebih banyak di Medan daripada di Bandung,“ kata Moenaf.

 

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan