-->

Esai Toggle

Delapan Tahun Apresiasi Sastra di Sewon Bantul

Agenda hari kedua gelaran #RamaikanSelatan dalam rangka 9 tahun Indonesia Buku adalah malam Apresiasi Sastra: Obrolan 10 Karya Sastra Dalam Semalam. Komunitas ini dibentuk delapan tahun yang lalu oleh pecinta sastra dari milis online dan kemudian memanfaatkan grup di Facebook. Apresiasi sastra kedelapan ini akan membahas sejumlah karya, yaitu:

ESAI:Pramoedya Dalam Kelambu—Soesilo Toer. Pembahas: Raudal Tanjung Banua. Jejak Langkah Nafas Anak Agung Panji Tisna—Agung Brawida dkk. Pembahas: Didin Tulus.

PUISI:Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih—Pringadi Abdi Suryo. Pembahas: RoziKembara. Pagar Kenabian—Sofyan RH. Zaid. Pembahas: Sunil. Perahu Mabuk—Saut Situmorang. Pembahas: Tomi Febriyanto.

CERPEN: Semua Untuk Hindia—Isakara Banu. Pembahas: Muhidin M Dahlan.

NOVEL: Perempuan Bernama Arjuna—Remy Sylado. Pembahas: Tri Agus Susanto. Magening—Wayan Jengki Sunarta. Pembahas: SautSitumorang. Rahasia Imperia—Akmal Nasery Basral. Pembahas: Arie Saptaji.

TERJEMAHAN: Gabriela, Cengkih dan Kayu Manis—Jorge Amado (Penerjemah: Ingrid Nimpoeno). Pembahas: Thomas Blarer.

Endah SR selaku moderator memulai acara Apresiasi Sastra pada pukul 19.31.Muhidin M. Dahlan membahas Semua Untuk Hindia. Peringatan pertama yang diberikan Gus Muh adalah pembaca harus sudah tahu tentang sejarah, karena dalam buku itu sama sekali tidak dijelaskan mengenai nama kota/nama jalan, dsb yang dimaksud. Cerpen ini mengambil banyak peristiwa sejarah, seperti PuputanBadung, Perang Diponegoro, dsb. Namun, setting itu tidak menjadi ruh dalam cerita. Penulis menempatkan para Belanda/Indo sebagai tokoh utama.Ketiga belas cerita menggunakan sudut pandang orang pertama—aku. Kesan Gus Muh pada cerita ini adalah para Belanda/Indo dalam kumcer ini sangatlah sombong meskipun mereka telah kalah.Laskar rakyat itu kejam, yang bermartabat adalah KNIL.

Kumpulan cerpen yang membawa pada era kolonialisme, setting yang jarang digarap oleh penulis kontemporer.

Menurut Nirwan Dewanto, yang memberi endorsement, bahwa isi cerpen ini bisa diambil manfaatnya oleh generasi sekarang. Bagi Gus Muh, kumpulan cerpen ini adalah bagian dari industri masa lalu. Sebagai sebuah cerita, kumpulan cerita karya IsakaraBanu ini bagus. Namun, pesan/ideologi apa yang hendak disampaikan penulis, sangat kurang.

 

Thomas Blarer, penikmat sastra asal Swiss yang telah lama tinggal di Indonesia berkesempatan membedah karya Jorge Amado. Karya sastrawan asal Brazil ini sangat menarik dan berbeda dengan novel-novel Indonesia. Dalam novel itu, meski sebuah cerita roman, namun tergambar suasana politik yang familierdengan kondisi di Indonesia.

Jorge Amado lahir pada 10 Agustus 1912. Pada tahun 1935 ia pernah dipenjara dan diasingkan sehubungan dengan aktivitas gerakan kiri. Buku-bukunya dicekal di Brazil dan Portugal.

Gabriela Cengkih dan Kayu Manis karya Jorge Amado sangat romantis, sensual. Bercerita tentang Gabriela, gadis cantik yang bekerja sebagai koki di rumah Najib. Kecantikannya Gabriela menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang untuk mengunjungi bar milik Najib, tempat Gabriela bekerja. Najib menyukainya, Gabriela tak mau terikat.Akhirnya Najib menikahinya. Mereka bercerai tapi masih tinggal di rumah yang sama. Kisah ekonomi dan social di sebuah kota di Brazil. Novel ini juga menggambarkan tentang perubahan kondisi ekonomi dan social di kota Ilheus. Bagaimana kota yang awalnya dikuasai oleh tuan tanah berubah menjadi kota berbasis perdagangan.

 

Tri Agus Susanto membahas novel Perempuan Bernama Arjuna karya Remy Slylado. Buku tersebut ada tiga seri. Remy Sylado seorang yang multalenta. Kerap membuat puisi, esai, penulis tentang bahasa, penulis novel, terutama yang berlatar belakang Tionghoa. Dalam Perempuan Bernama Arjunaseri ketiga ini membahas tentang Javanologi dalam fiksi. Dalam dua buku sebelumnya membahas Sinologi dalam fiksi dan filsafat dalam fiksi.Berbicara tentang filsafat dalam fiksi, mungkin langsung teringat dunia sophie. Kurang lebih mirip.Dalam buku ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Arjunayang bersuamikan seorang dari Belgia. Beberapa tokoh dalam buku ini namanya adalah plesetan. Buku ini yang mengklaim bukan bacaan ringan karena isinya mengenai filsafat. Di sini ada kutipan dari sekitar 130 tokoh filsafat, kebudayaan yang berhubungan dengan Jawa, dari zaman Hindu hingga sekarang.

Buku ini setingnya sederhana. Arjuna dan suaminya disuruh oleh sang nenek untuk berkunjung ke Magelang. Perjalanan dari Semarang, Solo, Jogja dan akhirnya ke Magelang. Tujuannya mengatasi masalah Arjuna dan sang suami yang tak kunjung punya anak. Tri AgusSusanto menekankan bahwa buku Perempuan Bernama Arjunaini bacaan untuk dewasa. Dalam buku Perempuan Bernama Arjuna ini banyak terdapat kata-kata yang kurang familier. Itulah salah satu kepiawaian Remy Slylado. Namun sayangnya, kata-kata tersebut tidak ada penjelasannya, sementara mengenai nama-nama tokoh ada keterangannya.

 

Saut Situmorang membahas Magening, novel karya Wayan Jengki Sunarta disebut oleh Saut Situmorang bergenre novel KKN. Wayan Jengki mencoba menulis tentang kehidupan di Dusun Magening, Bali timur. Diksi-diksi dalam novel ini sangat dipengaruhi oleh pengetahuan Wayan Jengki yang lebih dulu dikenal sebagai penyair. Di novel ini mengetengahkan beberapa budaya Bali, seperti leak. Namun, dalam konflik dalam novel ini terasa datar. Tak ada kejutan berarti.

 

Rahasia Imperia adalah bagian kedua dari trilogi Imperia. Karya pertama Akmal Nasery Basral adalah Ilusi Imperia. ArieSaptaji yang seharusnya membahas novel Rahasia Imperia karya Akmal Nasery Basral berhalangan hadir karena sakit. Namun dia telah menitipkan makalah kecil berisi pembahasannya terhadap novel Rahasia Imperia. Endah SR selaku moderator Apresiasi Sastra membacakan beberapa isi makalah tersebut. Para hadirin juga dapat membaca kopian makalah tersebut.

Beberapa hal yang menjadi catatan Arie Saptaji terhadap novel Rahasia Imperia ini adalah Akmal kerap menjelaskan berbagai hal di seputar kasus. Tidak sedikit memang keterangan yang relevan dengan cerita, namun beberapa di antaranya terasa sebagai tempelan belaka, dan sebaliknya. Kemampuan Wikan dalam extra sensory perception (ESP) tidak dieksplorasi lebih lanjut. Wikan hanya menunjukkannya dalam rapat redaksi pertama.

Tokoh utama trilogi Imperia ini bukanlah seorang detektif. Kita berjumpa dengan Wikan Larasati, seorang wartawan yang kebetulan terlibat dalam kasus kriminalitas. Novel ini mengajak kita melanglang buana dari Indonesia, Jerman, Swiss, Turki untuk memecahkan misteri. Novel ini menarik sebagai komentar sosial. Ada komentar yang terang-terangan, namun juga ada yang terselubung, mengundang kita dalam tataran yang lain.

 

Pada bagian esai, Raudal Tanjung Banua membahas Pramoedya Dalam Kelambu karya Soesilo Toer. Dalam buku itu Raudal mendapati suatu pergulatan antara dua orang penyandang namaToer, Pramoedya dan Soesilo. Kedua tokoh ini punya basis kepenulisan yang sama-sama kuat. Soesilo yang terlibat langsung tak hanya menceritakan tapi juga menafsirkan sehingga ceritanya kuat.Dalam hal personal, banyak pertentangan di antara mereka. Namun, di luar Pak Sus sangat membela Pram, terutamanya saat Orde Baru berkuasa. Merasakan perasaan rindu-dendam. Misalnya merasakan saat pertama Pram harus ke Pulau Buru.Ia memberikan jaket lusuh seraya menepuk pundak Soesilo. Ketika Pram baru pulang dari Pulau Buru, dia tak mengenal Soesilo karena begitu lama mereka tak bersua. Kemudian perlahan ada diskusi antara mereka.

Esai kedua yang dibahas adalah Jejak Langkah Nafas Anak Agung Panji Tisna karya Agung Brawidadkk.Pembahas: Didin Tulus.

Apresiasi Sastra ini juga diselingi musikalisasi puisi yang dibawakan Bagustian Iskandar.

 

Terakhir, adalah giliran puisi Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih,Pagar Kenabian dan Perahu Mabuk yang akan dibahas. Puisi pertama adalah karya Pringadi Abdi Suryo. Rozi Kembara mengungkapkan pada puisi tersebut terdapat kecenderungan untuk memasukkan budaya populer. Pada puisi Pagar Kenabian, Sunil, sang pembahas, mengungkapkan puisi ini lugas, mudah dipahami. Perahu Mabuk karya Saut Situmorang dibahas oleh Tomi Febriyanto.Sebagai sebuah puisi cinta, Tomy sering kali tidak menemukan cinta laki-laki pada perempuan di dalam puisi Saut.

Pukul 12.00 Apresiasi Sastra berakhir. (Misni Parjiati)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan