-->

Peristiwa Toggle

15 Maret 2015 | Indonesia di Pameran Buku Leipzig, Jerman

Harian Kompas 12 April 2015 menurunkan laporan dari pameran buku Leipzig Book Fair 2015, Jerman, pertengahan Maret 2015. Dalam pameran itu dipentaskan petikan tari ronggeng yang dibawakan penari Ayun Anindita Setya Wulan bersama petembang Jawa, Wasi Bantolo. Tari itu adaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Lebur tumpur sumawur katrajang/ Bumi geter potar pater pateteran/ Bosah baseh hambalasah kasulayah/ Pindo ombak lembak lumimbaing jolonidi/ Bumi bengkah sumungah panasing kawah.” Itulah kalimat pembuka (sulukan) yang dilantukan seniman asal Solo, Jawa Tengah, Wasi Bantolo, dengan suara keras, bergelombang. Getaran suaranya mengesankan makna tembang yang memang mengisahkan dunia yang tengah dilanda kekacauan.

Puluhan penonton masih terdiam. Mereka berdiri mengerubungi panggung mungil di gerai Indonesia. Meski mulai merasakan pendaran gelombang nada sulukan, mereka tidak memahami artinya. Apalagi, cuaca di kota bekas Jerman Timur di ujung musim dingin pagi itu masih sekitar 10 derajat celsius. Suasana agak cair ketika Ayun Anindita Setya Wulan, penari asal Purwodadi, Jawa Tengah, mulai menari. Dengan rambut disanggul, mengenakan kemben dan kain jarit serta bertelanjang kaki, perempuan langsing itu menggoyangkan tubuhnya dengan lincah. Sambil melempar-lempar selendang hijau terang, sesekali dia putar pelan pinggulnya. Mirip gerakan tari ronggeng di Banyumas, Jawa Tengah, sebagaimana digambarkan Ahmad Tohari dalam novelnya, Ronggeng Dukuh Paruk (pertama terbit pada 1982). Tarian itu memang menjadi petikan kecil dari karya sastra yang mengisahkan seorang penari ronggeng bernama Srintil.

Tak lama Ayun menari, tetapi panggung itu berangsur hangat. Puluhan warga Jerman, juga sejumlah warga Indonesia, yang hadir mulai bergairah. Terlebih, dengan dipandu aktor senior Slamet Rahardjo, pengunjung diajak menonton cuplikan film Sang Penari besutan sutradara Ifa Isfansyah yang diadaptasi dari novel Tohari. Slamet sendiri bermain sebagai seorang dukun dalam film produksi 2011 itu.

Lalu, Ahmad Tohari, yang terbang sekitar 15 jam dari Jakarta, dihadirkan di panggung. Ditemani dua penerjemah bahasa Jerman, sastrawan itu mengisahkan makna di balik kisah ronggeng yang berujung tragis akibat tersangkut dampak Peristiwa 1965 itu. “Peristiwa 1965 adalah tragedi besar di Indonesia. Saya bersaksi telah terjadi hal buruk. Itu harus ditulis agar tidak terjadi lagi pada masa depan,” katanya.

Penampilan di Leipzig Book Fair 2015 adalah semacam pemanasan dari rencana Indonesia untuk tampil sebagai tamu kehormatan dalam Frankfurt Book Fair di Frankfurt, Jerman, Oktober 2015. Bagi publik setempat, Leipzig lebih dikenal sebagai ruang pertemuan antara pembaca dan penulis, sementara Frankfurt lekat dengan kegiatan industri perbukuan. Selain memajang buku, gerai-gerai dari sejumlah negara di dunia pada ajang di Leipzig itu juga menggelar beragam acara temu penulis, diskusi, ulas buku, atau pembacaan sastra.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan