-->

Resensi Toggle

Simon Hendrik Spoor, Rival Panglima Besar Sudirman

Percuma belajar tentang Revolusi Indonesia, jika hanya tahu Sudirman saja dan tak pernah tahu siapa Spoor. Lihatlah juga bagaimana Letnan Jenderal Spoor menggempur Sudirman dan pasukannya.

Orang-orang Indonesia yang belajar sejarah revolusi Indonesia tentu tahu Sudirman. Tapi sebagian tidak tahu Simon Hendrik Spoor. Sejarah Indonesia lebih sibuk mengultuskan Sudirman, dan lupa mengajarkan pada murid siapa saja dari pihak Belanda yang berperang. Hanya diajarkan memusuhi tapi tak diajari mengenal musuhnya. Padahal, sudah lama sekali ahli perang Sun Tzu bilang: kenali musuhmu!

Adalah Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor, sang panglima tertinggi Tentara Belanda di Indonesia—yang membawahi seluruh Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (sebut saja: KNIL, Tentara Kerajaaan Hindia Belanda yang anggotanya kebanyakan orang Indonesia) maupun korps-korps militer Belanda lainnya—yang menjadi otak dari pergerakan militer Belanda di Indonesia. Orang-orang Indonesia hanya tahu Agresi Militer Belanda pertama dan kedua saja—yang disebut militer Belanda sebagai: Aksi Polisionil. Otak dari semuanya adalah Spoor.

Tugas Spoor sebagai Panglima jelas jauh lebih berat daripada pendahulunya, dia harus mengembalikan kejayaan KNIL seperti sebelum Maret 1942. Spoor pun berpikir bagaimana caranya membangun kembali KNIL yang porak-poranda setelah bubar pada Maret 1942—ketika balatentara Jepang menyikat mereka dalam waktu singkat.  Dimana Spoor sendiri kabur ke Australia, tentu saja agar semua tak habis disikat Jepang. Spoor mengoperasikan unit-unit KNIL yang tersisa untuk melawan Jepang. Misi Tahiya di Saumlaki, walau harus kembali lagi ke Australia, dianggap gemilang karena berhasil membunuh banyak pasukan Jepang disana. Sudah pasti pulang membawa informasi soal kedudukan Jepang di sana.

Di mana Spoor dan kawan-kawannya yang kemudian mendirikan NEFIS Nederlands East -IndiesForces Intelligence Service (Baca saja: NEFIS, Badan Intelejen yang mengumpul informasi tentang Hindia Belanda) memerlukan lebih banyak informasi seperti yang juga dibawa Tahiya itu.

Meski lulusan terbaik di Breda, karir Spoor sebagai perwira panjang dan berliku. Cukup panjang jalan Spoor untuk jadi Letnan Jenderal: harus melalui 3 tahun jadi Letnan Dua; 8 tahun sebagai Letnan Satu; 9 tahun sebagai Kapten; lalu melesat cepat dari Mayor sampai ke Letnan Jenderal. Untuk jabatan Mayor, Letnan Kolonel, Kolonel; Jenderal Mayor dilalui rata-rata setahun. Tentu saja dalam kondisi memaksa. Waktu Spoor jadi Mayor, Hindia Belanda genggaman Jepang. Atas kerja keras dan kemampuan semasa di Australia Spoor pun jadi andalan pemerintah kerajaaan Belanda untuk mengcengkram kembali Hindia Belanda yang memerdekakan diri sebagai: Republik Indonesia.

Posisi penting yang pernah dipegang Spoor sebelum jadi Panglima adalah Komandan atau Direktur NEFIS. Posisi ini membuat Spoor punya banyak gambaran tentang Indonesia yang membantunya dalam mengembalikan berjayanya Hindia Belanda dengan jargonnya: Je Maintiendrai (Kami akan berkuasa selamanya).

Rencana besar Spoor, salah satunya menghancurkan Tentara Republik Indonesia yang labil, namun tak pernah bisa dihancurkan Spoor. Spoor tak sedikitpun simpatik pada Tentara Republik, dimana sebagian besar perwiranya adalah bekas Tentara Sukarela bikinan Jepang yang biasa disebut PETA. Orang-orang PETA berada dalam daftar teratas yang harus dihukum—karena mereka bagian pendukung penjahat perang Pasifik: Jepang.

Nah, di seberang Spoor, ada Sudirman—Sang Panglima tertinggi Tentara Republik Indonesia. Berbeda dengan Spoor, Sudirman begitu mudah jadi Mayor. Cukup dengan latihan tak berat dan hanya 3 bulan di Bogor, Sudirman sudah bisa jadi Komandan Batalyon PETA dengan pangkat Daidancho—yang kira-kira setara Mayor. Sementara Spoor butuh waktu hampir 20 tahun berdinas untuk menyandang pangkat mayor. Spoor bahkan harus ikut sekolah lagi dalam Hogare Krijgschool (Sekolah Tinggi Militer).

Kesamaannya, revolusi pasca Perang Dunia II memaksa dua bekas Mayor itu melesat jadi Panglima dengan tanda pangkat Letnan Jenderal dipundak mereka. Tentu saja proses pembekalan Spoor lebih panjang dan tidak instant seperti Sudirman—yang usianya selisih belasan tahun.

Sudirman jadi panglima karena votting para komandan tentara Republik—yang kata Didi Kartasasmita adalah rapat Cowboy.Dimana dalam rapat itu, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo sang pendiri Tentara Republik sekaligus bekas senior Spoor waktu dinas di Kalimantan, harus kalah dalam rapat cowboy  itu. Ada yang menyebut, Spoor rela beri hormat pada Oerip, namun jijik sekaligus ngeri pada Sudirman. Sudirman, bekas guru sekolah Muhamadiyah itu, di mata Spoor: sepenuhnya besar kepala, sombong tak terkira, memakai seragam dan tanda jasa ala perwira Jepang dengan kepala pakai Kupiah.

KNIL, meski tak tangguh-tangguh amat sebagai Angkatan Perang karena terbukti kalah telak lawan Balatentara Jepang, namun KNIL bukan Tentara karbitan macam PETA. Pelatihan tempur bagi calon komandan PETA, bisa jadi sumber kekalahan pasukan-pasukan Republik yang dalam banyak front melawan tentara Belanda—yang membuat Sudirman dan jajarannya memaklumkan Perang Gerilya melawan Belanda.

Kegemilangan Spoor tentu saja dalam menjepit wilayah Republik dalam Agresi Militer Pertama 21 Juli 1947 dan Agresi Militer kedua 19 Desember 1948. Agresi pertama cukup mampu mempersempit ruang gerak Republik. Agresi militer kedua, yang mengerahkan pasukan payung baret merah untuk merebut Lapangan Udara Maguwo dan bersama pasukan komado baret hijau untuk menduduki Jogja dan menangkapi pejabat Republik.

Rencana Spoor ini sukses berjalan, Spoor berharap Agresi militer adalah Skakmat bagi Republik. Spoor bisa menyekak Republik dan militernya, namun ternyata kemenangan militer Spoor bukan kemenangan politik bagi Belanda. Belakangan, sejarah tidak memenangkan Spoor.

Spoor dari keluarga musisi. Ayahnya, Andreas Petrus Spoor adalah violis cum Komponis terkenal di Den Haag dan Amsterdam. Seperti ayahnya, Spoor pun bermain bioola dengan baik. Semasa menjadi kadet di Breda, Spoor adalah salah satu pemain biola disana. Spoor muda ambil jalan beda dari ayahnya, memilih untuk menjadi perwira. Militer cocok untuknya. Dia yang terbaik di kelasnya waktu diKoninklijk Militaire Academie (Akademi MIliter Kerajaan Belanda) di Breda.  Tak heran jika Spoor terbiasa dengan musik. Julius Tahiya, waktu jadi staf Spoor sering melihat Spoor memutar koleksi musik klasiknya untuk menata pikirannya—sebelum menentukan banyak hal.

Buku “Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia” ini, yang dirilis Kompas pada 2015 ini, mengulas lebih banyak seorang Spoor sebagai perwira Belanda ambius, dalam mengejar karir dan menghabisi Tentara Republik pimpinan Sudirman. Spoor dan tentaranya bisa memporak-porandakan namun tak bisa menamatkan riyawat Republik dan pasukannya.

Seperti judulnya, hidup Spoor juga tragis, diduga dia diracun dan mengalami serangan jantung. Sekitar kematiannya terkait juga dengan kematian Letnan Rob Aernot—yang konon atas perintah Spoor menyelidiki korupsi di kalangan petinggi sipil dan militer Belanda. Bisa jadi kematiannya adalah harapan darii musuh-musuh terselubungnya di kalangan petinggi Belanda, sekaligus bagi pejuang-pejuang Republik. Setelah Spoor, Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia adalah sahabatnya, Buurman van Vreden.

Spoor

  • Judul: Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia
  • Penulis: Jaap de Moor
  • Penerbit: Kompas
  • Tahun: 2015
  • Tebal: xx+556; 15 cm x 23 cm
  • ISBN: 978-979-707-885-8

Petrik Matanasi | Sejarawan (militer) indie, kini mengajar di Bogor

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan