-->

Peristiwa Toggle

Inilah Kliping Berita Saut Situmorang Ditangkap Polisi!

YOGYAKARTA — Sastrawan Saut Situmorang dijemput paksa anggota Polres Jakarta Timur di kediamannya di Jalan Danunegaran Mantrijeron, Yogyakarta, Kamis, 26 Maret 2015.

Seharian kerabat sastrawan dan pegiat seni di Yogyakarta memberikan dukungan semangat kepada Saut sebelum diangkut ke Jakarta menggunakan keretaapi malam.

Penulis Puthut EA misalnya, melepas Saut di rumahnya dengan mengajak berdoa bersama dan memberi dukungan atas kriminalisasi yang menimpa penyair itu. “Hari ini Saut, besok barangkali kita yang kena giliran (dikriminalisasi),” kata Puthut EA.

Menurut Puthut, Fatin Hamama dan orang-orang arogan yang merasa punya uang di belakangnya perlu ditabalkan sebagai pemberangus murahan dan penyuntik virus jahat yang menyerang akal sehat.

Saut Situmorang diadukan Fatin Hamama pada 2014 silam karena komentar keras di laman media sosial. Fatin tak terima dituding sebagai ‘makelar’ Denny Januar Ali dalam penulisan buku menghebohkan jagat sastra nasional itu. Apalagi dimaki dengan frase “bajingan” dan “lonte” oleh Saut Situmorang.

Saut

Berikut ini adalah kliping daring penangkapan Saut Situmorang di Yogyakarta:

 

SABTU 28 MARET 2015

 

Jangan “Kriminalisasi” Perdebatan Sastra
Kompas Cetak | 28 Maret 2015 | Halaman 11

Penyair Saut Situmorang diperiksa selama enam jam di Polres Jakarta Timur, Jumat (27/3). Dia menjadi saksi atas dugaan pencemaran nama baik yang dilaporkan Fatin Hamama terkait polemik buku sastra. Namun, proses di kepolisian ini dikecam karena perdebatan sastra semestinya tak dibawa ke ranah hukum.

Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Timur Komisaris Aris Timang mengatakan, Saut tidak ditahan karena statusnya hanya sebagai saksi. “Status Saut itu saksi. Dia dijemput tiga penyidik karena prosedur akibat tidak datang di dua panggilan awal. Jadi, tidak ada penangkapan, melainkan penjemputan,” ungkapnya.

Aris menambahkan, kasus ini menggunakan Pasal 45 Ayat (1) dan Pasal 27 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Polisi akan memeriksa saksi-saksi lain.

Setelah diperiksa, Saut menegaskan, dirinya tidak merasa melakukan pencemaran nama baik. “Kasus ini seperti mengada-ada,” ujarnya. Dia mendapat dukungan dari para sastrawan dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Kamis lalu, petugas Polres Jakarta Timur menjemput paksa Saut dari rumahnya di Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Tiba di Polres Jakarta Timur, dia diperiksa sejak pukul 13.00. Saut menjadi saksi atas dugaan pencemaran nama baik yang dilaporkan Fatin Hamama. Ini terkait dengan polemik buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Perdebatan sastra

Kasus itu bermula saat Saut dan sejumlah pegiat sastra membuat grup di Facebook yang mengkritik buku yang memasukkan nama Denny JA, pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), sebagai salah satu tokoh yang paling memengaruhi sastra Indonesia. Di grup itu, terdapat komentar Saut, “Jangan berdamai dengan bajingan.” Kata-kata tersebut dinilai mencemarkan nama baik pelapor dan membawanya ke ranah hukum.

Saut mengatakan, dia sempat diminta Fatin untuk menuliskan resensi buku tersebut. Namun, Saut menolak dengan alasan Denny JA tidak layak disebut sebagai tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh.

Menurut pengacara Saut, Iwan Pangka, kasus itu terlalu dibesar-besarkan. “Dalam sastra, kalimat seperti itu (bajingan) sudah biasa. Apalagi pelapor (Fatin) juga sastrawan. Jadi, seharusnya sudah mengerti,” ujarnya.

Komentar tersebut bukan persoalan pribadi antara Saut dan Fatin, melainkan sebagai perdebatan di dunia sastra. “Apa jadinya dunia sastra Indonesia kalau perdebatannya langsung dibawa ke ranah hukum. Undang-undang yang diterapkan dalam kasus ini (UU ITE) itu terlalu genit,” kata Iwan.

Dikecam

Budayawan Radhar Panca Dahana mengecam keras penjemputan paksa Saut oleh Polres Jakarta Timur sebagai saksi kasus pencemaran nama baik di Facebook terkait polemik buku sastra. Perdebatan sastra semestinya bukan ranah kepolisian sehingga tidak benar jika masalah ini ditarik ke persoalan hukum.

“Tidak benar polisi mengurusi perdebatan sastra. Dalam norma literer kesusastraan, saling ejek adalah hal lumrah sejak dulu, untuk saling melengkapi. Setelah ejek-mengejek, biasanya mereka (sastrawan) lalu minum kopi bareng,” katanya. Setiap wilayah kebudayaan memiliki ruang lingkup linguistik tersendiri yang berbeda-beda satu sama lain. Jangan semua disamaratakan dengan bahasa hukum.

Di Yogyakarta, proses hukum terhadap penyair Saut juga memicu protes di kalangan seniman. Mereka menilai perselisihan Saut dan Fatin sebenarnya merupakan persoalan sastra biasa sehingga tidak patut “dikriminalisasi” dengan dimasukkan dalam ranah hukum di kepolisian.

“Kasus ini kan sebenarnya bagian dari sebuah polemik di dunia sastra. Kenapa masalah ini mesti dibawa ke proses hukum? Itu berlebihan,” kata pengelola penerbit buku Indie Book Corner, Irwan Bajang.

“Kata-kata Bang Saut kan konteksnya mengkritik, masak harus sampai dilaporkan ke polisi,” katanya.

 

JUMAT 27 MARET 2015

 

Sastrawan Saut Situmorang Dilaporkan ke Polisi

Sindonews.com | Jum’at,  27 Maret 2015 | 09:33 WIB

Sastrawan Jogja Saut Situmorang yang dilaporkan dengan dugaan pencemaran nama baik akan diperiksa di Mapolres Jakarta Timur. Selain Saut, polisi juga akan memeriksa penulis buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, sekaligus pelapor kasus ini, Fatin Hamama.

Tidak hanya Saut,  Fatin Hamama juga melaporkan sastrawan lainnya yaitu utan Iwan Soekri Munaf ke polisi.

Dalam komentarnya di media sosial yang menjadi dasar pelaporan, Saut menyebut  Fatin Hamama, penyair perempuan yang dituding terlapor sebagai ‘makelar’ Denny JA dalam penulisan buku yang menghebohkan jagat sastra nasional itu.

Heboh karena nama Denny JA, yang dikenal sebagai konsultan politik, masuk dalam jajaran 33 sastrawan besar Indonesia, seperti Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer dan WS Rendra.

Kuasa Hukum Saut, Iwan Pangka mengatakan, semestinya debat sastra seperti ini tidak pantas masuk kedalam ranah hukum. Dengan masuknya kasus ini ke ranah hukum berarti mencekik kebebasan  kebebasan berpendapat dan berekspresi.

“Dengan cara begini, dunia sastra akan rusak, yang ditakutkan hal ini akan menjadi suatu kebiasaan yang tidak patut dicontoh, dimana dunia seni sudah  terkontaminasi dengan sikap pemaksaan kehendak dari pelapor,” katanya kepada wartawan, Jumat (27/3/2015).

Dia menegaskan, materi pemeriksaan hari ini adalah meminta keterangan dari saut sebagai saksi terlapor. “Klien kami sudah tiba dari Jogja, dan akan diperiksa sebagai terlapor,” tegasnya.

Kasus ini bermula dari laporan Fatin yang mendapatkan komentar ‘bajingan’ pada postingan Iwan Soekri di dinding grup Facebook ‘Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’.

Di dinding itu, Iwan menyampaikan bahwa dia baru saja menjalani pemeriksaan di Polres Jakarta Timur atas laporan Fatin. Saat itu, Saut berkomentar  ‘jangan mau berdamai dengan bajingan’

Fatin melaporkan keduanya dengan tuduhan penistaan dan pencemaran nama baik dalam undang-undang ITE.

Sebelumnya, pada 16 April lalu, Fatin sudah melaporkan Iwan Soekri, juga atas tuduhan pencemaran nama baik di media sosial. Fatin keberatan disebut ‘penipu’ oleh Iwan di dinding grup Facebook ‘Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’.

Untuk diketahui, Sutan Iwan Soekri Munaf adalah nama pena dari Sutan Roedy Irawan Syafrullah. Pria kelahiran Medan 4 Desember 1957 ini adalah seorang penyair, pernah menjadi wartawan, novelis, cerpenis. Dia dikenal sebagai salah satu sastrawan penentang terbitnya buku ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’.

Sementara, Saut Situmorang adalah seorang penulis, puisi, cerita pendek dan esai asal Indonesia. Penentang terbitnya buku ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’ itu pernah tinggal selama 11 tahun (1989-2000) di Selandia Baru, negara tempat dia menempuh studi di Victoria University of Wellington dan University of Auckland.

Puisinya pernah mendapat penghargaan oleh Universitas Victoria pada 1992 dan di Auckland University pada tahun 1997. Dia menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Karya-karyanya diterbitkan di Indonesia, Selandia Baru dan Australia. Koleksi puisinya dalam bahasa Indonesia antara lain Saut Kecil Bicara Pada Tuhan (2003) dan Catatan subversif (2004).

Selengkapnya di sindonews.com
Saut Situmorang Terjerat UU ITE
Koran SINDO | Jum’at,  27 Maret 2015 | 11:54 WIB

Saut Situmorang, penyair yang dilaporkan dalam kasus pencemaran nama baik melalui media sosial Facebook, ditangkap polisi di rumahnya di Jalan Danunegaran, Mantrijeron, Yogyakarta, kemarin.

Saut langsung dibawa petugas ke Jakarta. Saut terlihat mengenakan pakaian kaos berkerah motif kotak-kotak, bercelana pendek, dan membawa tas ransel. “Saya siap menjalani pemeriksaan polisi. Status saya saksi, kalau sudah dijemput, mau apa lagi? Seharusnya kalau masih saksi bisa dimintai keterangan di sini, kenapa dibawa ke Jakarta,” katanya kepada wartawan.

Sekadar informasi, pelaporan Saut dilakukan oleh Fatin Hamama terkait terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Buku ini menimbulkan kegundahan di dunia sastra nasional karena nama Denny JA yang selama ini lebih dikenal sebagai konsultan politik masuk jajaran 33 sastrawan besar Indonesia antara lain Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, dan WS Rendra.

Selengkapnya di koran-sindo.com

KAMIS 26 MARET 2015

Komentar ‘bajingan’ di FB, sastrawan Saut Situmorang ditangkap
Merdeka.com | Kamis, 26 Maret 2015 | 14:42

Sastrawan asal Yogyakarta, Saut Situmorang, ditangkap polisi dalam kasus dugaan pencemaran nama baik pelapor Fatin Hamama. Saut dijemput tiga polisi yang mendatangi rumahnya di Jalan Danunegaran Mantrijeron, Yogyakarta, untuk dibawa ke Kepolisian Resor Jakarta Timur.

“Saya siap menjalani pemeriksaan dengan polisi. Status saya saksi, kalau sudah dijemput, mau apa lagi? Seharusnya kalau masih saksi bisa dimintai keterangan di sini. Kenapa dibawa ke Jakarta,” kata Saut kepada wartawan saat dibawa polisi, Yogyakarta, Kamis (26/3).

Polisi yang berpakaian sipil ini mendatangi rumah Saut sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu, sastrawan berambut gondrong ini sedang santai di rumah. Saut berangkat ke Ibu Kota ditemani sang istri.

Pantauan merdeka.com, tidak nampak anggota polisi dari Polda DIY yang mengawal penangkapan Saut. Sedangkan tiga polisi dari Polsek Jaktim yang menjemputnya tidak memborgol Saut. Penyair ini dibawa ke Stasiun Tugu, Yogyakarta.

Saat ditangkap, Saut mengenakan kaos berkerah motif kotak-kotak, bercelana pendek dan membawa tas ransel. Kabar penangkapan tersebut begitu cepat menyebar. Sejumlah teman-teman sastrawan tiba di rumah Saut sesaat sebelum polisi pergi.

Beberapa waktu lalu, Saut pernah menyatakan sikap terkait polemik terbitnya buku ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.’ Kritik atas buku itu tidak hanya berujung pelaporan sastrawan Sutan Iwan Soekri Munaf ke polisi. Saut juga dilaporkan atas tudingan yang sama, pencemaran nama baik di media sosial.

Pelapornya juga orang sama, yakni Fatin Hamama. Fatin adalah penyair perempuan yang dituding terlapor sebagai ‘makelar’ Denny Januar Ali dalam penulisan buku menghebohkan jagat sastra nasional itu.

Sebabnya adalah nama Denny JA, lebih dikenal sebagai konsultan politik, tiba-tiba masuk dalam jajaran 33 sastrawan jempolan Indonesia. Dia dianggap sejajar Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer dan WS Rendra.

Fatin mengatakan, dia melaporkan Saut atas komentar ‘bajingan’ saat menanggapi tulisan Iwan Soekri di dinding grup Facebook ‘Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’. Di dinding itu, Iwan menyampaikan bahwa dia baru saja menjalani pemeriksaan di Polres Jakarta Timur atas laporan Fatin.

“Dia (Saut) komentar ‘jangan mau berdamai dengan bajingan’,” kata Fatin saat dihubungi merdeka.com beberapa waktu lalu.

Fatin lupa kapan tepatnya dia melaporkan Saut ke Polres Jakarta Timur. Namun dia ingat betul melaporkan pentolan kelompok sastrawan Boemipoetra itu atas tuduhan penistaan dan pencemaran nama baik. “Itu satu pasal dalam undang-undang ITE,” ujar Fatin.

Fatin mengatakan, dia sebenarnya menghormati kebebasan orang untuk berekspresi. “Tapi kan tidak bisa juga semena-mena, ini ada cacian, apalagi di media sosial. Orang tidak berhak mengumpat orang sesukanya,” ucap Fatin.

“Apakah pantas seorang sastrawan mencaci maki orang lain?” kata Fatin lagi.

Soal tudingan Saut bahwa dia makelar Denny JA dalam penerbitan ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’, Fatin membantahnya. “Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Denny JA,” tegas Fatin yang mengaku sama sekali tidak terlibat dalam proyek buku tersebut.

Selengkapnya di merdeka.com

Dilaporkan karena Menghina Lewat Facebook, Penyair Saut Situmorang Ditangkap Polisi
Detik.com | Kamis, 26/03/2015 | 16:31 WIB

Penyair Saut Situmorang ditangkap polisi di kediamannya di Yogyakarta. Saut ditangkap atas laporan karena diduga menghina seseorang lewat facebook.

“Benar yang bersangkutan dijemput di Yogyakarta tadi malam,” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Martinus Sitompul di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Kamis (26/3/2015).

Menurut Martinus, Saut yang diamankan tiga polisi pada Rabu (25/3) malam, sudah mendapat surat panggilan tiga kali. Namun tak kunjung datang memenuhi panggilan polisi.

“Yang bersangkutan dilaporkan atas pencemaran nama baik melalui facebook dalam hal ini kena UU ITE,” jelas Martinus.

“Sekarang masih diperiksa di Polres Jaktim,” tegas Martinus.

Saut diketahui dilaporkan seseorang bernama Fatin Hamama yang juga penyair perempuan. Laporan itu dilakukan akhir 2014 lalu. Fatin dalam laporannya ke Polres Jaktim tak terima atas tudingan di laman facebook Saut yang menulis jangan mau berdamai dengan bajingan.

Komentar Saut itu dituliskan di facebook Iwan yang lebih dahulu dilaporkan karena menuding ada makelar dalam penulisan buku 33 sastrawan Indonesia. Dalam buku sastrawan itu ada nama Denny JA yang juga konsultan politik. Hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan dari pihak Saut ataupun Fatin.

Selengkapnya di detik.com

Kasus Fatin, Sastrawan Saut Situmorang Dijemput Paksa Polisi
Tempo.co | Kamis, 26 Maret 2015 | 17:10 WIB

Sastrawan Yogyakarta, Saut Situmorang, dijemput polisi dari Kepolisian Resor Jakarta Timur di rumahnya di Danunegaran, Mantrijeron, Yogyakarta, siang ini, Kamis 26 Maret 2015.

“Ada tiga orang yang datang tadi,” kata Saut kepada Tempo melalui sambungan telepon.

Saat penjemputan terjadi, sekitar 20-an sastrawan dan penulis Yogyakarta datang ke rumah Saut untuk memberi dukungan.

Pengarang buku puisi saut kecil bicara dengan tuhan itu saat ini sedang menunggu kereta api di Stasiun Tugu, Yogyakarta, yang akan membawanya ke Jakarta. Dia didampingi Katrin Bandel, istrinya yang juga kritikus sastra, dan Iwan Pangka, pengacaranya.

Menurut Iwan Pangka, Saut akan dimintai keterangan dalam kasus pencemaran nama baik Fatin Hamama. “Besok dia dimintai keterangan sebagai saksi, bukan ditahan. Saut akan pulang setelah memberikan keterangan,” kata Iwan.

Fatin Hamama, penyair Jakarta, melaporkan Saut dan sastrawan Iwan Soekri Munaf ke polisi karena dianggap mencemarkan nama baiknya melalui komentar-komentar mereka di Facebook. Fatin mengadukan Saut karena menyebut kata ‘bajingan’ di media sosial itu.

Kasus ini bermula dari terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang menghebohkan jagat sastra. Dalam buku itu, nama Denny JA, konsultan politik pendiri Lingkaran Survei Indonesia, masuk dalam jajaran sastrawan besar Nusantara, seperti Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer.

Polemik soal buku itu pun ramai di laman grup Facebook ‘Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’. Di situlah Iwan Soekri, Saut dan banyak sastrawan lain menyampaikan kritiknya atas buku tersebut. Sejumlah sastrawan menuding Fatin sebagai ‘makelar’ Denny JA dalam penulisan buku itu.

Selengkapnya di tempo.co

 

Penyair Saut Situmorang Dijemput Paksa Polisi karena Lontarkan Kritik

Tribunnews.com | Kamis, 26 Maret 2015 | 17:16 WIB

Kritik maupun polemik dalam dunia sastra Indonesia, merupakan hal lumrah dan telah berlangsung bahkan sejak era seniman angkatan ’45.

Namun, kekinian, kritik demi memajukan khazanah sastra seperti itu justru bisa merembes keluar dan terpaut masalah hukum.
Si pengkritik, pada  era ini, justru bisa dituduh melakukan perbuatan pidana oleh pihak yang merasa dirugikan.

Setidaknya, itulah yang terjadi pada penyair cum aktivis Saut Situmorang.

Kritik yang dilancarkan penyair realis atas buku kontroversial “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” malah menuai gugatan hukum.

Dirinya dilaporkan ke Polres Jakarta Timur oleh Fatin Hamama, wanita yang mengaku sebagai penyair. Fatin dinilai banyak pihak sebagai “makelar” konsultan politik Denny JA yang menyebabkan nama terakhir itu nangkring dalam buku tersebut.

Bahkan, Kamis (26/5/2015), Saut dijemput paksa aparat kepolisian untuk dimintai keterangan. Pasalnya, ia sudah kali kedua tidak memenuhi pemanggilan polisi.

“Iya, saya mendapat panggilan ketiga dari Polres Jakarta Timur, untuk diperiksa sebagai saksi dalam tuduhan kasus pencemaran nama baik Fatin Hamama,” tutur Saut kepada Tribunnews.com, Kamis sore.

Saut menuturkan, dirinya sama sekali tak pernah berniat apalagi menghina persona Fatin.

Ia menuturkan, inti kritik yang dilancarkan dirinya adalah substansi penilaian terhadap 33 sastrawan yang masuk dalam buku kontoversial tersebut.

Sebab, dalam buku tersebut, terdapat nama Denny Januar Adil (Denny JA) yang dikenal sebagai konsultan politik. Denny JA disandingkan dengan sastrawan besar Indonesia seperti Pramoedya Ananta Toer, HB Jassin.

“Yang dipersoalkannya (Fatin) adalah komentar saya dalam laman komunitas Facebook ‘Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’. Di menuduh saya mencemarkan nama baik pribadinya. Padahal, sesuai nama lamannya, itu adalah kritik saya terhadap buku tersebut,” jelasnya.

Saut menjelaskan, kritik merupakan hal lumrah dan menempati posisi penting dalam sastra di negara mana pun.

“Kalangan sastrawan Indonesia sejak dulu juga akrab dengan kritikan, bahkan kritik paling pedas sekali pun. Tapi anehnya, kritik semacam itu kini malah dituduh sebagai pencemaran nama baik,” tandasnya.

Berdasarkan penelusuran Tribun, buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” menuai kehebohan sejak kali pertama diterbitkan pada tahun 2014.

Sebabnya, terdapat nama konsultan politik Denny JA dalam buku itu. Denny dianggap berpengaruh karena diklaim memperkenalkan gaya baru sastra, yakni “puisi-esai”.

Padahal, Denny baru beberapa tahun sebelumnya mulai menerbitkan kumpulan puisi.

Buku ini, oleh banyak pihak, dinilai sebagai upaya pembodohan dan melamurkan pemahaman masyarakat terhadap sejarah panjang sastra Indonesia.

Bahkan, mahasiswa, intelektual, dan sastrawan bahu membahu menggelar aksi protes maupun petisi untuk menolak serta agar buku kontroversial itu ditarik dari peredaran.

Setelah buku itu terbit, terdapat buku “puisi-esai” yang ditulis oleh 23 sastrawan.

Belakangan, empat di antara 23 sastrawan itu mengaku “diperalat” Denny dalam proyek buku “puisi-esai”.

Buku itu, dinilai sebagai “proyekan: demi memuluskan posisi Denny sebagai “penemu gaya baru bersastra” dan pantas masuk buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.”

Keempat penyair yang membuat pengakuan itu adalah Ahmadun Yosi Erfanda, Chavcay Saifullah, Kurnia Effendi dan Sihar Ramses Simatupang.

Selengkapnya di tribunnews.com

 

Cibir Denny JA Masuk 33 Tokoh Sastra Berpengaruh, Saut Dijemput Polisi
Kompas.com | Kamis, 26 Maret 2015 | 17:32 WIB

“Saya akan melawan,” seru sastrawan Saut Situmorang ketika berjalan meninggalkan rumahnya di Danunegaran, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, mengikuti tiga petugas polisi dari Polres Jakarta Timur yang menjemputnya, Kamis (26/3/2015).

Penjemputan penulis buku puisi berjudul Saut Kecil Bicara pada Tuhan itu kontan membuat kaget sahabat dan para sastrawan serta seniman di Yogyakarta. Mereka pun serentak berdatangan ke rumah Saut untuk memberikan dukungan.

Sekitar pukul 14.00 WIB, Saut keluar rumah didampingi istri dan pengacaranya. Kerabat, sastrawan, dan seniman pun lantas menyalami dan memberikan dukungan. Saat pergi meninggalkan rumah dengan kawalan tiga polisi itulah, Saut menyerukan niatnya untuk melawan. “Dijemput sebagai saksi, ya itu kan bahasa polisi saja,” ujar dia.

“Jika alasan polisi menjemput sebagai saksi, kenapa tidak diinterogasi di rumah saja. Kenapa harus dibawa ke Jakarta? Saya tetap siap menjalani pemeriksaan,” ujar Saut. (Baca: Kok Kaget Denny JA Terpilih Jadi Tokoh Sastra?)

Sementara itu, Iwan Pangka, pengacara Saut, mengaku tidak diberi tahu bahwa akan ada penjemputan. “Untung saja masih di Yogya. Jadi, saya ke sini untuk mendampingi Saut,” kata dia.

Kasus yang menimpa Saut sebenarnya merupakan ekses dari dinamika perdebatan dunia sastra. Di dunia sastra, perdebatan memang menjadi hal yang biasa dan wajar. “Lalu, jika gara-gara perdebatan sastra di media sosial berakhir ke ranah hukum, bagaimana seniman bisa mengapresiasikan diri?” kata dia.

“Padahal, bahasa-bahasa perbincangan sastrawan kan memang seperti itu. Begitu gampangnya UU ITE dijeratkan. Perdebatan sastra dikriminalisasi dengan menggunakan UU ITE. Ini tidak benar,” ucap dia.

Dia mengakui, sebelumnya, memang sudah ada pemanggilan pertama dan kedua untuk Saut. Namun, beberapa waktu lalu, sudah terjadi perdamaian antara para pihak yang berseteru. Hanya, saat itu belum ada tanda tangan resminya. Setelah mereda, mendadak kasus ini dimunculkan lagi dan Saut dijemput.

“Kasus ini September 2014, sudah sempat ada perdamaian. Saya yang hadir mewakili Saut, tetapi sekarang dimunculkan lagi,” tutur dia. (Baca: Kontroversi Denny JA Masuk 33 Tokoh Sastra Berpengaruh Ramai di Twitter)

Beberapa waktu lalu, Saut menyatakan sikapnya via media sosial terkait polemik yang muncul setelah terbit buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Polemik muncul karena nama Denny JA yang terkenal sebagai konsultan publik masuk dalam buku itu.

Komentar Saut yang menulis “bajingan” di tulisan Iwan Soekri di grup Facebook “Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”, berujung pelaporan Fatin Hamama dengan tudingan pencemaran nama baik di media sosial.

Selengkapnya di kompas.com

Sastrawan Saut Situmorang Diciduk Polisi, Kenapa?
Viva.co.id | Kamis, 26 Maret 2015 | 17:20 WIB

Sastrawan berdomisili di Yogyakarta, Saut Situmorang, dijemput tiga anggota polisi dari Polres Jakarta Timur di kediamannya di Danunegaran, Matrijeron 3, RT 73, RW 20, Yogya, Kamis 26 Maret 2015.

Iwan Panka, kuasa hukum Saut, mengatakan penjemputan tersebut tanpa pemberitahuan kepada dirinya selaku pengacara Saut. “Saya diberitahu Katrin, kalau ada tiga polisi dari Polres Jakarta Timur yang akan menjemput Saut untuk dibawa ke Jakarta. Saya sendiri kaget juga kok tiba tiba ada penjemputan ini, meski suratnya hanya mengatakan Saut sebagai saksi,” kata Iwan kepada VIVA.co.id, Kamis 26 Maret 2015.

Menurut Iwan penjemputan Saut terkait dengam pelaporan yang dilakukan Fatin Hamama penyair perempuan atas pencemaran nama baik di media sosial.

“Menurut saya ini aneh dalam dunia sastra orang berhak berbicara dan mengeluarkan pendapat dan ekspresinya. Fatin ini juga sastrawan tapi seperti tidak tahu dunia sastrawan.”

Dengan dilaporkannya Saut ke Polisi dengan menggunakan pasal 27 UU ITE, menurut Iwan semakin menguatkan para sastrawan dan seniman untuk semakin kuat meminta agar UU tersebut direvisi.

“Inikan sudah mengekang kebebasan seniman khususnya sastrawan. Dulu kami biasa bicara terbuka tanpa ada yang saling tersinggung karena di dunia sastrawan memang seperti itu,” kata Puthut EA, sastrawan Jogja kepada VIVA.co.id.

Menurut dia substansinya ini adalah tentang kebebasan  berekspresi kawan-kawan sastrawan dan pelaporan tersebut sudah mengkooptasi dunia sastrawan.

Pihaknya selaku kuasa hukum Saut akan ikut mendampingi saat Saut dimintai keterangan di Polres Jaktim. “Rencananya besok Jumat kami dan elemen masyarakat korban UU ITE akan memberi dukungan kepada Saut,” katanya.

Sementara itu Saut Situmorang sesaat sebelum menuju Stasiun kereta bersama petugas dari Polres Jaktim menegaskan siap untuk menghadapi tuntutan hukum. “Saya siap menghadapi Fatin dan Denny JA,” ujar Saut yang didampingi istrinya Katrin Bandel.

Untuk diketahui, pelaporan Saut dilakukan Fatin Hamama, terkait polemik terbitnya buku ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’. Sebelumnya Fatin melaporkan  sastrawan Sutan Iwan Soekri Munaf ke polisi.

Buku tersebut heboh dijagat sastra nasional karena nama Denny JA yang selama ini lebih dikenal sebagai konsultan politik masuk dalam jajaran 33 sastrawan besar Indonesia, seperti Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer dan WS Rendra.

Fatin melaporkan Saut atas komentar ‘bajingan’ pada postingan Iwan Soekri di dinding grup Facebook ‘Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’.

Selengkapnya di viva.co.id

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan