-->

Peristiwa Toggle

Peluncuran Puisi Radhar Panca Dahana

Radhar Panca Dahana mengangkat persoalan istana lewat pendekatan puisi alegoris. Ia menjadi saksi lewat 31 puisi berbau politik yang termaktub dalam Manusia Istana`Aku biarkan pasukan berlaksa itu/ menyorongkan ujung tombaknya/ matahari kering// tapi mata maharani basa/ hari itu maharaja mati…//’ (Lidah Tak Bertakhta)

Sambil membetulkan posisi duduknya, penyair F Rahardi memilah lembaran kertas putih. Ia pun menarik napas sedalam-dalam. Dihembuskannya perlahan sebelum membacakan puisi “Yang Sisa di Daster Misna”.

Gaya baca Rahardi cukup santai. Terkadang bernada anteng. Adakalanya pula bernada lembut. Sedikit mengerutkan dahi saat ia menelaah puisi itu lewat pembacaan bebas. Bicaranya pun ceplas-ceplos penuh guyonan.

Isi puisi ia baca berbunyi: `Apa yang menjelma seketika/saat langit atapnya runtuh/ lantai terjungkit dan/cerobong dapurmu terdesak?…//seperti tungku yang membesi, ia tidak menunggu//tidak lili dan tata/keduanya adalah arca di tepi…//’.

Puisi “Yang Sisa di Daster Misna” merupakan salah satu karya budayawan Radhar Panca Dahana. Termaktub dalam antologi puisi teranyar, Manusia Istana (Bentang, Yogyakarta, Maret 2015). Radhar sendiri memilih duduk bersila di belakang tamu.

Sembari menyulut sebatang lisong, Radhar hanya tersenyum sungging bercampur bahagia. Ia mendengar sahabatnya, Rahardi, berceloteh ria di depan tamu undangan. Tidak ada sakit hati. Malahan, Radhar semringah; sesekali mencucup secangkir kopi.

“Ketika saya membaca puisi-puisi Radhar.Maka, saya teringat sastra proletar di Uni Soviet (kini Rusia). Sastrawan menyuarakan kehendak rakyat. Namun, akhirnya kehendak penguasa jadilah,“ tutur Rahardi seusai baca puisi dalam peluncuran buku Manusia Istana di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pertengahan pekan ini.

Acara sastra itu berlangsung sederhana.Selain pembacaan puisi, ada pula diskusi. Obrolan pun sangat cair di antara pecinta literasi. Mula-mula tentang sekelumit persoalan puisi. Lambat laun mengakar ke inti persoalan, yaitu politik pascareformasi yang alot dan panas.

Pembicara yang hadir yaitu Abdul Hadi WM (sastrawan), J Kristiadi (peneliti), Toeti Heraty (penyair), Tamrin Amal Tomagola (sosiolog), dan Adhie M Massardi (moderator). Masing-masing memaparkan tentang pandangan sosial-politik atas puisi-puisi Radhar secara kritis.

Persoalan politik memang menjadi tema Manusia Istana. Radhar tidak sekadar menghadirkan puisi. Ia juga menjadi saksi zaman, terutama saat terjadi perubahan sistem kekuasaan di Indonesia. “Puisi-puisi ini bertema politik. Saya tulis dalam periode 20072009,“ ucap Radhar, santai. Puisi politik begitu kuat pada “Lidah Tak Bertakhta”. Sepenggal puisi bunyinya: `… Berpuluh laksa tentara berderap menjadi istana: memintaku duduk di singgasana// aku memandang langit/ matahari tersenyum: 42 derajad celsius// sebagian serdadu tumbang…//’.

Manusia Istana merupakan buku antologi puisi kelima Radhar. Sebelumnya, ia telah melahirkan Simfoni Duapuluh (1985), Lalu Waktu (1994), Lalu Batu (2003), dan Lalu Aku (2011). Antologi Lalu Aku pernah Radhar suguhkan lewat teatrikalisasi puisi. Teater Kosong mendukung pemanggungan sehingga tersaji lewat sebuah pertunjukan utuh di Gedung Kesenian Jakarta, 11 Juli 2011 lalu.

Ada 31 puisi dalam buku Manusia Istana.Empat di antaranya pernah terbit di rubrik puisi harian Media Indonesia, Minggu, (6/4/2014). Keempatnya yaitu “Kopiah Sang Jenderal”, (hlm 1), “Sepetak Sawah di Istana” (hlm 105), “Parlemen Gerutu” (hlm 19), dan “Pejuang, Konon Kabarnya” (hlm 53).

Puisi-puisi Radhar kali ini begitu politis. Ia seakan menandaskan politikus sejatinya jangan ingkar janji dan nista kepada rakyat. “Radhar memang harus kritis. Mungkin di sana (puisi) ia menyampaikan kebenaran.Bila manusia masuk istana maka mulailah dekadensi,” ujar Toeti.

Kekuasaan memang memberikan kedigdayaan bagi pemimpin. Itu bisa kita tengok pada sepenggal puisi alegorisnya, Kopiah sang Jenderal. Bunyinya: `…Operasi alpa rakyat sengsara/batalyon slogan menyerbu media/ komando bertingkat usai di tongkat/jenderal mati kopiah kini berdiri.’

Terlepas dari tema politik, sesungguhnya Radhar juga masih wawas diri kepada Sang Kuasa. Mantan wartawan itu terkadang cengeng sebagaimana manusia biasa. Ia tak jarang menitikan air mata. Itu begitu tersurat lewat puisi liris “Airmata Uma 1”.

Sepenggal baitnya berbunyi: `Tuhanku, maafkan doaku/meminta waktuMu lagi/menunaikan amanah ini/menuntaskan sisa waktu/ memanggul segunung batu…//Bersamaku, mahkhluk yang renta dan tak berdaya//segala yang mulia, hanya untukMu//’.

Radhar telah memberikan sumbangan dalam kesusastraan Indonesia. Jalan kepenyairannya memang beda jika dibandingkan dengan para penyair pendahulunya. Sebut saja Chairil Anwar, WS Rendra, Sitor Situmorang, dan Ali Akbar (AA) Navis. Atau penyair yang masih eksis kini seperti Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, dan Afrizal Malna.

Setiap penyair memiliki karismanya sendiri-sendiri. Jamanlah yang akan menguji karya-karya mereka, termasuk karya Radhar.“Saat politik sudah buruk, puisilah yang akan meluruskannya,“ nilai Abdul Hadi.

Sebagai seniman, Radhar telah meluapkan dan memainkan perannya lewat antologi puisi ini. Sebagaimana negarawan Prancis, Charles de Gaulle (1890-1970), pernah ucapkan: “Aku akhirnya sampai pada kesimpulan, politik adalah hal yang terlalu penting untuk ditinggalkan hanya pada para politisi.”

Demikian dikabarkan Harian Media Indonesia Minggu, 8 Maret 2015, hlm 10, berjudul “Tafsir Istana dan Nista”.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan