-->

Tokoh Toggle

Myra Sidharta | Ia Yang Tak Berhenti Berkarya | Jakarta

Usia 88 tahun tak menghalangi sinolog Myra Sidharta untuk berkarya. Hingga kini, dia tekun meneliti kebudayaan peranakan Tionghoa di Indonesia.

Tahun 2015 ini, Myra alias Ew Yong Tjhoen Moy, menggelar pesta ulang tahun di sebuah hotel di Jakarta, Sabtu (7/3) lalu. “Ini pertama kali ulang tahun saya dirayakan semeriah ini. Semua keluarga dan sahabat berkumpul. Seharusnya saya dari dulu sering mengadakan pesta ulang tahun,” ujar Moy, sapaan akrab Myra. Hadirin pun tertawa.

Myra SidhartaMengenakan gaun kuning gading bermotif batik, perempuan yang mempunyai tiga anak dan lima cucu ini tampak bahagia menerima ucapan selamat dan kado dari keluarga dan para sahabat. Penampilannya tetap segar dengan rambut putihnya yang dipotong sebahu.

Ditanya soal kesibukannya akhir-akhir ini, Moy mengaku masih senang mengunjungi perpustakaan dan daerah-daerah di Indonesia dan luar negeri. Itu untuk mengumpulkan bahan terkait biografi tokoh-tokoh Tionghoa-Indonesia, yang sedang digarapnya.

“Sekarang baru selesai delapan profil. Rencananya akan ada 10-12 orang,” katanya. Sebelumnya, Moy meluncurkan buku biografi tentang delapan penulis peranakan Tionghoa, Dari Penjaja Tekstil Sampai Superwoman (terbitan Kepustakaan Populer Gramedia) tahun 2004.

Moy meraih gelar sarjana psikologi dari Rijks Universitet, Leiden, Belanda. Selanjutnya, dia lebih tertarik meneliti kebudayaan dan kesusastraan Tionghoa di Indonesia. Ia pernah mengajar Sastra China di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) dan di Universitas of Malaya, Kuala Lumpur. Penjelajahan intelektualnya didukung kemampuan Moy dalam bahasa Jerman, Belanda, Perancis, Mandarin, Hokkien, Inggris, Melayu, dan Indonesia.

“Seribu Senyum”

Pada ulang tahun ke-88 ini, istri almarhum Priguna Sidharta ini meluncurkan buku kumpulan esai karyanya, Seribu Senyum dan Setetes Air Mata (terbitan Penerbit Buku Kompas). Ini dirangkum dari tulisannya di media massa tahun 1983-2011.

Menurut editor buku, Rita Sri Hastuti, tulisan-tulisan Moy menceritakan tema sederhana, tapi menyentuh aspek psikologi dan memberikan pemahaman baru. “Beliau menulis dengan ringan dan humoris. Kita akan dibuat tertawa kemudian terharu,” ujarnya.

Contohnya, tulisan tentang perjalanan Moy mencari rumah nenek moyangnya di Meixian di sebelah utara Provinsi Guangzhou, Tiongkok. Ceritanya mengharukan. Pembaca akan larut untuk membayangkan, bagaimana sang kakek terpaksa menjual adiknya untuk mencari ongkos pergi merantau.

Moy lahir di Tanjung Pandan, Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, 6 Maret 1927. Ketiga anaknya, Sylvia Sidharta, Juliana Sidharta, dan Amir Sidharta, masing-masing menekuni arsitektur, bisnis, dan seni rupa. Tidak terlalu terkait dengan profesi ibunya.

“Kita diberi kebebasan untuk memilih bidang yang disukai dan beliau selalu mendukung pilihan tersebut,” kata Juliana.

Sahabat Moy, sosiolog Mely G Tan (83), memberi kesaksian. “Dia (Moy) sangat luar biasa karena sampai saat ini dia masih menulis. Semoga beliau panjang umur dan selalu sehat,” ujarnya. Amin….

Demikian dimuat di Harian Kompas, 9 Maret 2015, di halaman 11 dengan judul “Myra Sidharta Tak Berhenti Berkarya”.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan