-->

Peristiwa Toggle

Di Panyengat Kepulauan Riau, Kultur Menulis Memudar

Budaya menulis di Penyengat dulunya tidak hanya dilakukan kalangan bangsawan atau intelektual, tapi juga rakyat biasa. Hera Khaerani dari Harian Media Indonesia Minggu, 8 Maret 2015 menurunkan laporan satu halaman “Tradisi Menulis Kian Pudar”.

MUHAMMAD Amin Syarifudin, 12, tampak takut dan enggan beran jak dari kursinya. Siswa kelas VII di SMPN 9 Tanjung Pinang itu mendapat giliran untuk maju menuju papan tulis, menunjukkan kemampuan menulis Arab Melayu.

Ia gentar. Padahal, permintaan gurunya, Raja Suzana Fitri, 45, sebenarnya tidak seberapa sulit. Amin hanya diminta menuliskan namanya.

Bukan hanya kurang lancar menulis dalam Arab Melayu, ia juga gagap ketika ditanya soal sejarah perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Wajah Amin berubah pasi karena tak mampu menjawab. Kondisi tersebut miris. Pasalnya, Pulau Penyengat tempat tinggalnya memiliki riwayat berharga dalam perkembangan sejarah bahasa di negara ini.Dari pulau inilah banyak pengamat menilai lahirnya bahasa Indonesia.

Bahkan ketika ditanya soal Raja Ali Haji, penyair kelahiran pulau itu yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional di bidang Bahasa 2004 lalu, Amin hanya bisa mengatakan bahwa tokoh tersebut ialah penulis Gurindam Dua Belas.

Padahal, selain menulis karya sastra fenomenal itu, Raja Ali Haji menjadi peletak fondasi bahasa Melayu yang berkembang menjadi bahasa Indonesia dengan menerbitkan dua buku, yaitu Kitab Pengetahuan Bahasa dan Bustan al Katibin (Taman Para Penulis).

Menurut Irawan, salah seorang tokoh Melayu Deli yang sudah tiga keturunan berada di Kepulauan Riau, penggunaan bahasa Arab Melayu, yang dulu memang ada di sejumlah sekolah di daerah ini, sekarang tidak ada perkembangannya. Sebab, selain sulit mencari guru yang mengerti bahasa Arab Melayu juga sulit bagi suku pendatang untuk ikut terlibat dalam budaya di daerah ini.

Ditambah lagi, bahasa Arab Melayu memang kini tidak sefungsional dahulu. Di sekeliling Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, tulisan itu hanya ditemukan di papan nama jalan, beberapa gardu tempat wisata, dan di naskah-naskah kuno yang tersimpan rapi dalam lemari penyimpanan.

Hal itu disayangkan Raja Malik Hafrizal, Ketua Yayasan Kebudayaan Indrasakti yang banyak menyimpan dan menyelamatkan naskah kuno dari Pulau Penyengat. Menurutnya, jika anak-anak di masa mendatang tidak lagi bisa membaca aksara Arab Melayu, sejarah yang tertulis dalam lembar naskah-naskah kuno itu tidak ada yang bisa membacanya lagi.Mereka pun takkan menyadari berharganya dokumen bersejarah yang kini sudah terancam praktik jual-beli naskah kuno dengan negara tetangga.

Upaya untuk menghidupkan budaya tulismenulis dan budaya Melayu di Kepulauan Riau bukannya tidak ada sama sekali. Berbagai instansi termasuk Kantor Bahasa, kerap mengadakan perlombaan, baik untuk anak sekolah, guru, maupun kalangan umum. Ada lomba pantun, gurindam, puisi, pidato, membaca cerita rakyat, lomba mengajar bahasa, dan masih banyak lagi.

Di sisi lain, sebagai tindak lanjut penghormatan Pemerintah Provinsi Kepri terhadap jasa Raja Ali Haji sebagai Pahlawan Nasional di bi dang Bahasa, pada 19 Agustus 2013 diletakkan batu pertama pembangunan Museum Bahasa Melayu di Pulau Penyengat. Pembangunan Museum Bahasa itu tadinya diniatkan untuk mengenalkan sejarah bahasa Melayu serta bahasa Indonesia. Namun, proyek bernilai miliaran rupiah itu mangkrak lantaran adanya dugaan korupsi.Tradisi menulis Sumbangsih Pulau Penyengat bagi perkembangan bahasa Indonesia tidak lepas dari tradisi menulis yang berkembang pesat di pulau ini semasa Kerajaan Riau, Johor, Pahang, dan Lingga dahulu.

Secara garis besar, Abdul Kadir Ibrahim sastrawan yang akrab dipanggil Akib, sebagaimana tulisnya dalam `Tanah Air Bahasa Indonesia’, menyebut tradisi menulis di Riau sejak abad ke-19 dimulai oleh seorang pengarang bernama Raja Ahmad. Dia tidak lain ayah dari Raja Ali Haji yang tersohor berkat Gurindam Dua Belas, Kitab Pengetahuan Bahasa, dan sederetan karya lain.

Jejak kepenulisan itu juga dilakukan keturunan dan sanak keluarganya yang lain. Alhasil pada abad ke-19, Riau terkenal bukan hanya karena bandarnya yang ramai dikunjungi, tapi juga karena karya tulis yang dihasilkan. Mereka menulis dalam Arab Melayu.

Sepeninggal Raja Ali Haji (tutup usia 1873), kegiatan tulis-menulis tidak surut. Sekitar 1894, di Pulau Penyengat mulai didirikan percetakan yang dinamakan Mathabatul Riauwiyah. Sudah ada sistem penerbitan pada masa itu, dibedakan antara materi cetakan untuk kebutuhan kerajaan dan yang bukan.

Tidak berhenti sampai di situ, kelompok cendekia dan penulis dikumpulkan dalam organisasi intelektual yang disebut Rusydiyah Klab. Anggota organisasi tersebut tidak dibatasi, tetapi syaratnya harus teruji dengan bacaan dan karya berupa tulisan.Taman para Penulis Raja Malik Hafrizal menyatakan budaya menulis di Penyengat tidak hanya dilakukan kalangan bangsawan atau intelektual, tapi juga rakyat biasa. Penyengat pun biasa disebut sebagai Bustan al Katibin alias Taman Para Penulis.

“Buktinya, di antara koleksi-koleksi kami di Yayasan Kebudayaan Inderasakti, ada syairsyair yang ditulis nelayan. Ada juga kebiasaan menulis buku harian oleh penduduk biasa, yang mencatat mulai dari hal kecil sampai hal besar terkait politik kerajaan dan penjajahan,“ imbuhnya. Bagi orang Pulau Penyengat di masa lalu, menulis dianggap sebagai pekerjaan yang lebih kekal ketimbang kerja dunia lainnya.Menulis mampu menyampaikan pesan melintasi zaman. “Orang boleh tidak panjang umur, tapi tulisannya bisa dibaca orang setelahnya,“ lanjutnya.

Selain itu, budaya tulis-menulis juga tumbuh subur karena menjadi gaya perlawanan lain terhadap penjajahan Belanda. Pada masa ketika perlawanan bersenjata tidak dapat lagi dilakukan, karya tulis menjadi perlawanan cara lain. Raja Malik mencontohkan, ketika ada upaya untuk membuat sekolah-sekolah pribumi berbahasa Belanda, ditulislah Kitab Pengetahuan Bahasa. Ketika Belanda membuat buku sejarah Melayu dari sudut pandang mereka, dilawanlah dengan buku soal sejarah Melayu dari kacamata lokal.

Dengan melihat Pulau Penyengat dewasa ini, kebesaran Taman Para Penyair tiada lagi terlihat. Jangankan di pulau itu, jumlah penulis di Kepulauan Riau dan karyanya kalau ditotal, menurut Abdul Kadir Ibrahim, tidak dapat menandingi masa Kerajaan Riau-Lingga dahulu.“Karena menjadi penulis pasti miskin, sekarang sedikit yang mau jadi penulis,“ cetusnya saat diwawancarai di Tanjung Pinang (25/2).

Dia menilai perlu ada upaya pemerintah untuk kembali menggairahkan kegiatan kepenulisan. Meski tidak terasa langsung, keberadaan penulis diyakininya berperan penting bagi negara karena memungkinkannya ruang untuk menciptakan gagasan baru.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan