-->

Tokoh Toggle

Sapardi Djoko Damono | Secangkir Teh untuk Stamina | Tangerang Selatan

Harian Media Indonesia edisi 26 Februari 2015 memilih Sapardi Djoko Damono sebagai satu dari 45 tokoh yang menjadi referensi Indonesia. Ini selengkapnya (redaksi)


sdd

Tepat pukul 16.00 WIB, penyair Sapardi Djoko Da mono melangkah keluar dari kamar tidurnya menuju ruangan tamu. Udara sore memang sedikit dingin. Guyuran hujan begitu deras masih berjatuhan bagai patahan jarum di sekitar rumahnya yang berada di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, pekan lalu.

Sapardi tampak hangat bersahaja dan antusias menyambut Media Indonesia sore itu. Ia memang telah menyiapkan waktu khusus untuk obrolan sore kami. Sapardi begitu antusias berkisah tentang pengalamannya dalam menekuni dunia kesusastraan Indonesia hingga kehidupan sehari-harinya di usia kepala tujuh.

“Setelah pensiun dari Universitas Indonesia, malah saya lebih sibuk lagi. Menjadi pembicara, membimbing mahasiswa program doktoral, hingga mengikuti undangan di luar kota. Lebih bebas (di masa pensiun) memang karena semuanya berjalan secara lancar,“ ujar lelaki kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940, itu membuka pembicaraan.

Bagi ia, usia menjadi anugerah Sang Khalik. Ia pun tetap menikmati hidup dengan beragam aktivitasnya. Ia sangat bersemangat kala membicarakan aktivitasnya tersebut. Mantan dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu terus berkarya.

Ia kini juga menjabat ketua senat di Institut Kesenian Jakarta, menjadi dosen terbang di beberapa universitas negeri, hingga sering mengikuti simposium atas undangan dari luar negeri.Minum teh Untuk menjaga kondisi kesehatannya, Sapardi pun punya rutinitas. Salah satunya ialah mengonsumsi minuman teh, baik teh biasa maupun teh hijau. Baginya, teh memiliki khasiat, yaitu mencegah penyakit diabetes, mengurangi risiko kanker, mencegah penyakit jantung, dan memperkuat tulang (sendiri).

“Minuman teh itu kan alternatif herbal untuk memperkuat dan mempertahankan kepadatan tulang.Kandungan fluoride yang ditemukan dalam teh hijau bisa membantu menjaga kepadatan tulang. Apalagi, kaki saya juga sudah mulai menga lami sakit (keseleo) sehingga perlu untuk menjaga tubuh,” akunya.

Tak lama berselang, seorang pembantu menyuguhkan dua ge las teh hangat nan harum. Sapardi langsung mempersilakan untuk meminumnya. Seketika itu diminum, tubuh sedikit hangat meski udara masih terasa dingin di luar beranda. “Minuman teh berkhasiat di saat hujan, lo. Saya setiap hari meminum teh untuk stamina. Silakan minum,“ ujarnya.

Kiat khusus Kesederhanaan menghabiskan hidup di rumah tinggalnya di Kompleks Perumahan UI Ciputat membuat Sapardi sangat menikmatinya masa tuanya. Pekarangan kecil di belakang rumah kerap menjadi tempat baginya untuk menulis puisipuisi terbaru yang sering tersebar di berbagai media cetak, termasuk di rubrik puisi Media Indonesia.

Bagi Sapardi, menulis merupakan pekerjaan menyenangkan. Sapardi pun punya kiat khusus untuk tetap efektif menulis di usia yang tak muda lagi. Ia sengaja menaruh dua buah komputer jinjing di samping tempat tidurnya. Satunya digunakan untuk menulis puisi dan komputer lainnya untuk pekerjaan akademisi.

“Saya sering menulis untuk kebutuhan kampus. Anak-anak bimbingan saya tingkat doktoral. Jadi, harus pisahkan antara hobi dan pekerjaan.Sastra itu kan pekerjaan, hahaha,“ canda lelaki penikmat soto itu.

Sapardi mengaku tidak kehilangan daya ingatan dan hobi membacanya.Sehari, ia bisa melahap 2 atau 3 buku. Baginya, membaca menjadi pegangan utama agar membuat pikirannya tetap cemerlang dalam menulis.

Ia pun mengisahkan hobi membacanya hingga kini. Sapardi kerap merasa terganggu bila ketika ia membaca, orang mengajaknya untuk berbicara. Untuk itulah, ia lebih memilih untuk membaca di kamar pribadi atau beranda belakang rumahnya.

Buku-buku bacaan pun berseliweran di rak hingga ruangan tidurnya. Di ruangan tidur, misalnya, buku-buku berbahasa Inggris, Jerman, dan Belanda pun terpampang rapi di rak khusus.

Semuanya memang menjadikan Sapardi semakin lebih berwibawa dan berpendidikan. Ada pemeo dalam dunia sastra, `Kamar siapa yang memiliki banyak buku dialah penguasa jagat kesusastraan’. Tentu saja, itu bisa saja membuat Sapardi sebagai tokoh sekaligus kritikus sastra yang masih disegani di jagat kesusastraan Indonesia. “Bila mau menjadi penulis, bacalah segala buku,“ ucapnya, filosofis. (IWAN J KURNIAWAN)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan