-->

Agenda & Donasi Toggle

‘PAUSE’ The Seven Cities Group Exhibiton of Urban Artist

Exhibition by: Street Fighter Indonesia
Saturday, February 14th, 2015| Start from 7.30 pm
ViaVia Café & Alternative Art Space| Jl. Prawirotaman 30 Yogyakarta
Exhibition continued until March 11th, 2015

Jalanan adalah pembuluh darah dari sebuah wilayah, katakanlah sebuah kota. Di sana terjadi peredaran berbagai hal, mulai dari ekonomi, kemacetan lalu lintas, perubahan pembangunan kota yang berdampak pada situasi sosialnya, hingga perdebatan peraturan yang kontroversial suatu tempat tersebut. Ia merekam jejak kekerasan dan perebutan di ruang publik. Jalanan dalam konteks ini, menjadi objek (sekaligus subjek) langsung dari proses perubahan yang terjadi. Ia menjadi wajah dari sebuah masa, sebuah periode, atau bahkan sebentuk rezim.

Kata “jalanan” pada aktifitas Street Art/Graffiti Writers tidak hanya sekedar menunjukan tempat akan tetapi lebih pada sifat longgar yang memungkinkan kebebasan ekspresi. Ruang dalam terminologi “jalanan” secara spesifik bagi Street Art/Graffiti sebagai elemen identitas yang kerap dijumpai di kota-kota besar di Indonesia hingga memperluas wilayah penyebarannya. Pola kerja perkembangan pelaku Street Art/Graffiti memberi perhatian pada faktor pergeseran berbagai kemungkinan dimana wilayah kontestasi ruang maupun media memproduksi praktik berkarya dengan pengaplikasian ke berbagai media, tak terkecuali ruang publik bahkan media konvensional seperti kanvas, kertas, ataupun benda keseharian yang menjadi media berkaryanya.

Ketika para Street Artist mulai membawa karya mereka ke dalam sebuah galeri, karya-karya mereka seakan tidak dapat dipandang lagi sebagai sebuah karya Street Art. Perbedaan ruang yang begitu mendasar dalam dunia Street Art, kesamaan yang mereka bawa ke dalam galeri terbatas pada permasalahan bentuk yang mereka tampilkan, pada karakter yang kembali mereka hadirkan dengan berbagai macam penyesuaiannya. Inilah, saat karya mereka lebih bisa kita simpulkan sebagai sebuah karya seni rupa yang di buat oleh Street Artist.

Fenomena ini tidak terlepas dari perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Perkembangan yang cepat dan dinamis, cenderung melewati batas teritorial segala hal yang mungkin dijangkau untuk memperluas daya cakupnya. Street Art tak lepas dari perluasan itu. Begitu juga dengan produk yang lain seperti merchandising yang kerap di produksi para pelaku Street Artist, hampir pasti mengiringi sebuah kekhasan lain yang tidak selalu ada dalam sebuah pameran seni rupa pada umumnya. Fenomena ini telah turut serta melestarikan sub-sektor industri kreatif Departemen Perdagangan Republik Indonesia, dimana pasar barang seni, merhcandise termasuk ke dalam kegiatan kreatif yang berkaitan dengan perdagangan barang-barang asli, unik langka serta memiliki nilai estetika yang tinggi.

Kami mengambil kata PAUSE yaitu mengadopsi tombol pause yang mana semacam istirahat sejenak dari sebuah pergerakan, maupun alur yang mana bukan menjadikannya berhenti, namun bisa jadi memulai rangkaian bait lain. PAUSE sebuah waktu jeda pelaku Street Art dan Graffiti Writers dari tujuh kota untuk membuat karya dengan ukuran yang tidak semestinya serupa saat mereka berada dalam zona pertarungan di jalan, namun memperlakukan ruang galeri sebagai peristirahatan sejenak dari aktivitas berkarya di jalan. Yang dikatakan dengan perpindahan ini menyebabkan adanya negoisasi-negoisasi lain yang tak biasa mereka lakukan ketika berkarya di ruang publik: maka privatisasi terhadap karya mereka terjadi disini. Di satu sisi, ini merupakan terapi ruang gerak mereka. Pada sisi lainnya, mereka justru semakin tidak terikat konteks ruang yang memang telah sedemikian rupa dibangun sebagai sebuah ruang galeri, tempat dimana diperlihatkannya karya seni dengan apresiator yang semakin terbatas.

PAUSE menjadi semacam triger bagi para pelaku untuk memanaskan hasrat eksplorasinya yang terbiasa intim dengan dinding-dinding perkotaan maupun sudut jalanan, kini ditarik untuk ‘bercengkrama’ dengan media diluar itu atau bahkan diantaranya, yang dimaksud adalah atribut-atribut atau partikel yang ditemukan dijalanan, atau media alternatif mereka sebagai perwujudan karya Street Art/Grafiti yang mampu berpindah lokasi, dari jalan kedalam area pamer serupa galeri. Yang diharapkan disini adalah nuansa kekuatan ‘jalanan-nya’ tetap dominan meskipun berada dalam ruang aman tanpa tekanan (seperti yang biasa ditemukan saat berada di jalanan).

1. Bujangan Urban (Jakarta)
2. W94 (Solo)
3. Robowobo (Jakarta)
4. Muck (Jogja)
5. Love Hate Love (Jogja)
6. BungaFatia (Jakarta)
7. Nick (Jogja)
8. Nego (Surabaya)
9. Scrap (Solo)
10. X GO (Surabaya)
11. Trash(Solo)
12. Stupidkill (Bandung)
13. Blatz (Jogja)
14. Slurb (Semarang)
15. Ijakji (Semarang)
16. Rubseight (Jogja)
17. Gindring Waste (Magelang)
18. Wanted Terror (Magelang

perform music: DJ PAWS
live screen printing perform and free print with FAKELAB YK
Chat Conversation End
10988772_843060522420268_648217757_o

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan