-->

Tokoh Toggle

Hasan Djafar | Energi dari Lembaran Buku | Depok

Dia mendalami studi epigrafi dan sejarah kuno Indonesia di Instituut Kern, Rijksuniversiteit Leiden, Belanda. Ditulisnya buku tentang arkeologi dan sejarah kerajaan Majapahit. Dia abdikan hidupnya untuk keilmuan yang tak banyak orang mau menyuntukinya. Karena itu dia istimewa. Kenalkan Hasar Djafar. Biografinya diangkat ulang Harian Media Indonesia di halaman 11 sebagai “Referensi Indonesia”. (Redaksi)

Hasan Djafar, Energi dari Lembaran Buku

Kebiasaan membaca setiap hari memacu ingatan dan menjaga kesehatannya hingga kini. Buku, artikel, atau koran menjadi nafas hidupnya.

Mendengar sosok Hasan Djafar, 74, berbicara mengenai situs sejarah, bak mendengarkan kaset yang berputar tanpa hambatan. Ia dengan lancar memaparkan sejarah daerah itu, dari tokoh, tanggal, hingga bahasa Palawa yang terpatri dalam sebuah prasasti.

Rahasia pria kelahiran Pamanu kan tersebut terungkap ketika Media Indonesia singgah ke kediamannya di Depok, Jawa Barat, Senin (9/2).Buku-buku berjejer rapi di dalam lemari, bahkan ada yang bertumpuk dengan ketinggian lebih dari 1 meter mengelilingi meja kerjanya yang berada di ruang tamu. Setiap sudut ruang kerjanya sudah penuh dengan buku.

Sejak kecil, pensiunan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu sudah dekat dengan buku. Ia mengaku memiliki program yang diusungnya sejak kecil hingga saat ini, yakni membaca paling tidak 5 artikel atau karangan dalam satu minggu. Selain itu membaca 1-2 buku dalam satu bulan.

Dampaknya sangat terasa, semua buku yang dibacanya masih terpatri jelas dalam ingatan Hasan.Bahkan, tidak jarang rekan ataupun mahasiswa bimbingannya banyak yang meminta saran apabila mereka membutuhkan sumber untuk tinjauan pustaka dalam penelitian mereka.

“Saya terus membaca untuk menambah database saya,“ ucap Hasan dalam balutan pakaian batik siang itu.

Kegemarannya itu diakuinya membantu dirinya tetap energik hingga kini. Bagi arkeolog spesialisasi sejarah Kerajaan Majapahit, mem baca akan mengasah dan membuat otaknya segar.

Tak jarang, Hasan membuat rekan-rekannya yang masih berusia muda terkejut kala berada di situs sejarah. Apalagi, fisiknya tidak kenal lelah saat berbicara dan berjalan-jalan di antara bebatuan di situs sejarah.

“Intinya, harus tetap menjaga semangat di usia seperti ini,“ tambah Hasan.

Semangat Hasan dipertontonkan pula di rumahnya. Tidak jarang Hasan bergerak lincah untuk mengambil beberapa buku dan menunjukkannya saat berbicara mengenai kiprahnya di dunia arkeologi. Kemampuan Hasan dalam menghafal letak buku serta letak halaman dari kata-kata yang hendak ditunjukkannya dalam sebuah buku sama sekali tidak menunjukkan adanya batasan usia.

“Ya karena sejak kecil saya sudah akrab dengan buku-buku ini,“ terang Hasan.Transfer ilmu Setiap pagi, Hasan memiliki satu rutinitas yang tidak lepas dari membaca. Ia membuka harinya dengan sarapan dua koran lokal dan nasional yang dikirim loper ke rumahnya. Bila tidak sempat membaca di rumah, ia membawanya ke lokasi beraktivitasnya. Seperti ke Universitas Indraprasta yang terletak di Jakarta Selatan.

Aktivitas mengajar tidak pernah lepas dari pria pengagum Presiden pertama RI tersebut. Sejak kuliah Hasan sudah berperan sebagai dosen istimewa sebelum diangkat menjadi dosen tetap di Universitas Indonesia hingga selesai masa jabatannya pada 2006. Kini, Hasan berperan memupuk pengetahuan mengenai sejarah di Universitas Indraprasta.

Bagi Hasan, kegiatannya sebagai cara mentransfer ilmunya kepada generasi muda. Ia menilai hal itu sebagai kewajiban yang harus diembannya, karena akan memengaruhi perkembangan ilmu sejarah di Indonesia.

“Selama saya masih bisa, selalu ada semangat untuk mengajar generasi muda,“ ucap Hasan.

Tidak hanya mengajar, Hasan masih aktif menjadi narasumber di berbagai seminar arkeologi. Keahliannya itu pun menjadikannya sebagai salah satu tim ahli penentu cagar budaya oleh beberapa pemerintah daerah di Indonesia.

Hasan Djafar (Biodata)

Hasan sangat senang melakukan berbagai kegiatan itu. Ia menilainya sebagai pengabdian kepada masyarakat. Hasan menilai hidupnya akan jauh bermakna ketika mampu memberikan sesuatu kepada masyarakat, terlebih lagi dalam bidang arkeologi dan sejarah yang selama ini ditekuninya.

“Karena sejarah itu selalu hidup hingga masa depan,“ ucap Hasan. Jalan dan jus Arkeolog identik dengan penggalian situs-situs sejarah, berjalan di atas reruntuhan dari situs ke situs. Untuk hal itu, dibutuhkan fisik nan prima sebagai syarat mutlak.Di usia ke-74 kondisi fisiknya tetap prima untuk melakukan kegiatannya.

Meski tidak sesempurna saat masih muda, Hasan mengaku selalu mendapat pujian dari rekan-rekannya atas semangat dan fisiknya.Bahkan, ia tidak kalah bersaing dengan arkeolog yang masih muda.

“Saya sering dibilang bagaikan seorang robot ketika sedang berada di situs sejarah,“ ucap Hasan sambil tertawa.

Rahasianya sangat sederhana.Setiap hari ia berjalan kaki keliling kompleks kediamannya. Sehingga, ia tidak pernah mengalami masalah berjalan kaki dari situs ke situs.

Rumah Hasan dari jalan utama ke tempat tersedianya angkutan umum pun berjarak lebih dari 50 meter. Itulah sebab, Hasan akrab dengan apa yang disebutnya olahraga murah dan sehat tersebut.

Bagi Hasan, berjalan kaki turut membantunya dalam bersosialisasi dengan warga sekitar rumah. Ia bisa berinteraksi dengan tetangga kala melewati rumah mereka.

Tidak hanya itu, Hasan kerap menggunakan sepeda statis yang terparkir di ruang tamunya. Sayangnya, ia jarang menggunakan sepeda itu. Pasalnya, Hasan lebih sering bepergian ketimbang menghabiskan waktu di rumah.

Selain berolahraga, ada satu kebiasaan Hasan yang selalu dilakukannya. Yakni mengonsumsi buah-buahan dalam bentuk jus.Jus kegemarannya ialah alpukat dan wortel.

“Jus wortel itu kan bagus untuk mata, demi menunjang pekerjaan saya,“ ucap Hasan.

Ternyata bukan omong kosong.Terbukti hingga kini Hasan tidak memerlukan kacamata untuk membaca atau melihat jarak dekat. Meskipun demikian, sebuah kaca mata minus dua dan dua seperempat bertengger dengan tali di lehernya, untuk menunjang kebutuhan Hasan melihat jarak jauh. [RICHALDO Y HARIANDJA]

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan