-->

Tokoh Toggle

Haryoto Kunto | Menjaga Arwah Kota dengan Buku | Bandung

Kunto memang tak seterkenal Charles Prosper Wolff Schoemaker—dosen arsitek Belanda dan sekaligus dosen Soekarno sewaktu kuliah di ITB Bandung. Nama Schoemaker sama terkenalnya dengan Herman Thomas Karsten yang tercetak di balik dinding-dinding tua bangunan bersejarah masa silam Indonesia.

Bedanya, “kekuasaan” Karsten merentang di banyak kota seperti Semarang, Bandung, Batavia, Magelang, Malang, Buitenzorg, Madiun, Cirebon, Jatinegara, Yogya, Surakarta, dan Purwokerto, sementara Schoemaker “hanya” menguasai Bandung Raya. Tangan dingin Schoemaker masih bisa dilihat di Gereja Kathedral di Jln. Merdeka, Gereja Bethel di Jln. Wastukencana, Masjid Cipaganti, Bioskop Majestic, Hotel Preanger, Gedung Asia Afrika, dan Gedung PLN Bandung.

Tapi Kunto tahu bagaimana mengawetkan bangunan tua itu menjadi narasi yang berdenyut. Disusunnya dua buku yang kemudian menjadi sangat terkenal dan terlengkap yang berkisah tentang narasi Bandung pada sebuah masa lewat: Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984) dan Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986). Dua buku itu adalah dua album kolase; sepasang mata yang terus menjaga warisan Bandung dari aksi pemugaran pemerintah kota yang kerap berpikiran pendek dan cekak. Sepasang album itu juga yang kemudian menahbiskan nama Kunto sebagai “juru kunci” kota yang pernah bernama Negoriij Bandoeng.

Alumnus jurusan Tata Pembangunan Daerah dan Kota (Planologi) ITB ini memang menjadi “alamat” bagi siapa saja yang ingin mengetahui hal-ihwal Bandung pada masa lewat. “Gelar istimewa” ini diperolehnya justru karena ia penggila buku-buku sejarah, terutama ihwal perkotaan.

Hingga ia wafat pada 4 September 1999 di usianya yang ke-59, Kunto telah menjadikan rumahnya sebagai gudang dari 30 ribu judul buku, 50 set ensiklopedia, dan ratusan judul makalah yang dipungutnya sepanjang hayat dikandung raga sejak usia 7 tahun. Koleksi Kunto umumnya buku berbahasa Inggris (45%), sekira 35% berbahasa Indonesia, dan sisanya berbahasa Belanda. Dan kebanyakan koleksi itu tergolong antikuariat karena usianya sudah lebih dari seabad, seperti karya Dr FJ Veth, Dr F de Haan, HA van Hien, Dr HH Juynboll, Clive Day, Dr FDK Bosch, Dr B Schrieke, W Ruin Mees, Dr J Gonta, maupun CC Berg.

Minat Kunto atas buku-buku antikuariat ihwal Bandung itu membuncah justru dipicu energi negatif yang dihembuskan oleh perpustakaan-perpustakaan publik yang dikelola ambtenaar (pegawai negeri) yang tak becus mengurusi buku. Betapa prihatinnya Kunto, misalnya, dengan nasib perpustakaan Gedung Sate Bandung. Sebelumnya, perpustakaan ini adalah perpustakaan teknik terlengkap se-Asia Tenggara. Tapi kenangan itu tinggallah puing karena semua buku antikuariatnya sudah lenyap.

Tak usah juga ditanya perpustakaan kotamadya. Hanya dua lembar saja yang ditemukan Kunto yang bercerita soal sejarah Bandung.

Keprihatinan itu yang kemudian menyalakan semangatnya. Mesti ada daya maksimum yang menyelamatkan Bandung dari kepunahan historisnya. Seorang diri dikerahkannya daya kecintaannya yang meluap-luap untuk menyusur sehasta demi sehasta sumber-sumber yang berkisah tentang Bandung. Dana yang tak seberapa dalam tabungan keluarga dikurasnya habis-habisan untuk berkelana mencari buku. Sampai-sampai istrinya mengeluh. Jika ditegur sang istri, dengan diplomatis ia selalu menjawab: “Sudahlah Mah, nanti juga kan kembali lagi uangnya, dari tulisan Bapak di koran. lagipula buku bisa untuk amal ibadah bagi orang yang perlu.”

Niat baik dan kegigihan tanpa pamrih khas relawan selalu bersambut. Dari cicilan tulisannya tentang Bandung di masa lewat di harian Pikiran Rakyat, simpati masyarakat yang peduli Bandung bermunculan. Bahkan kerap buku-buku antikuariat datang sendiri karena si empu buku yakin Kunto layak dipercaya untuk mengurus dan mengawetkannya.

Di depan rumahnya, museum pengawetan itu kini berdiri. Justru setelah Kunto tiada. [Muhidin M Dahlan]

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan