-->

Peristiwa Toggle

Generasi Penulis Terakhir Phai Bui

BANGKA — Tiga lelaki setengah baya sedang sibuk di meja masing-masing. Tangan kanan mereka memegang spidol warna hitam. Ia kemudian menggoreskan tulisan di atas kertas berwarna merah. Tangannya cukup luwes dan cekatan saat menuliskan aksara Tiongkok di kertas berwarna merah itu.

Sekilas tampak di atas secarik kertas merah itu tertulis huruf-huruf yang hanya bisa dipahami orang-orang yang menguasai bahasa Mandarin.

Profesi yang ditekuni tiga pria ini terbilang langka.

Mereka hanya menjual jasa menulis di atas kertas merah setahun tiga kali, yaitu saat sembahyang kubur, sembahyang rebut, dan Tahun Baru Imlek. Profesi ketiga orang ini disebut sebagai penulis phai bui.

“Dalam kepercayaan kami terutama setiap jelang Imlek, orang yang masih hidup diharuskan menyampaikan nama, alamat, dan keperluan orang yang sudah mendahului atas leluhur mereka,” kata Lai Fa Sang, 70, salah satu penulis phai bui (kartu nama) di Pangkal Pinang, Senin (16/2).

Lai Fa Sang menjelaskan profesi ini hanya bisa dijalani orang-orang yang bisa menulis dan menguasai bahasa Mandarin. Menurutnya, tidak semua orang Bangka etnik Tionghoa mengerti bahasa dan tulisan Mandarin.

“Tidak semua orang Bangka keturunan Tionghoa mengerti bahasa dan bisa menulis Mandarin. Selama ini hanya orang-orang tertentu yang mengerti dan tahu hal tersebut,” ujar dia.

Menurutnya, penulis phai bui di Bangka rata-rata sudah berusia di atas 70 tahun. Dia kemudian mengungkapkan lahirnya para penulis phai bui ini. Lai Fa Sang pernah bersekolah di sekolah berbahasa Mandarin pada 1950. Namun saat Orde Baru berkuasa, sekolah itu ditutup.

“Hampir 32 tahun masa pemerintahan Presiden Soeharto, sekolah berbahasa Mandarin tutup. Sejak masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati kembali dibuka,” terangnya.

Hasil coretan aksara Tiong-kok di atas kertas merah itu berisi alamat, nama, dan keperluan leluhur atau orang yang sudah mati. “Untuk menyampaikan keinginan kepada leluhur atau orang yang sudah mati, caranya dengan membakar kertas itu saat sembahyang Imlek,” jelas Lai Fa Sang.

Setiap perayaan agama, para penulis phai bui ini ramai mendapatkan pesanan dari warga yang akan bersembahyang. “Bisa menambah penghasilan,” ujar Lai Fa Sang.

Akim, 70, menimpali bahwa setiap Imlek bisa menerima 20 pesanan. “Untuk bayarannya seikhlasnya.

Terkadang satu tulisan Rp5.000, ada juga yang kasih Rp10.000,” ungkapnya.

Profesi langka ini sayangnya kurang diminati generasi penerus. Di Pangkal Pinang, penulis phai bui hanya tersisa tiga orang, termasuk di dalamnya Akim dan Lai Fa Sang.

Demikian dikabarkan Media Indonesia 18 Februari 2015, hlm 26. Ikuti terus linimasa peristiwa perbukuan Indonesia di radiobuku.com atau twitter @radiobuku.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan